Kribo, Surabaya dan Dahlan Iskan
Baru jam setengah 8 pagi, tapi matahari sudah cukup tinggi di Surabaya. Sudut jam tak sebanding dengan sudut matahari. Mungkin karena kota ini berada di ujung sebelah timur wilayah WIB – Waktu Indonesia Barat. Meskipun bedanya hampir 7 derajat bujur timur, waktunya nurut sama Jakarta.
Saya bersama Om Herman baru saja mengantar Ismi, sepupu saya, ke sekolahnya. Saya tinggal sebentar di rumahnya selama di Surabaya. Om Herman supir di rumah Ismi. Setiap hari tugasnya mengantar dan jemput Ismi beserta kakaknya, Difa. Difa sendiri kuliah di Universitas Airlangga.
Sepulang dari mengantar, saya minta tolong untuk diantarkan ke Stasiun Gubeng. Beli tiket kereta pagi tujuan Yogyakarta untuk besok pagi.
Ceritanya saya baru pulang kampung. Seperti tahun lalu, saya menyicil perjalanan dari kampung sampai Bandung dengan mampir ke kota-kota yang terlewat. Jadilah saya bertualang. Backpacking. Meskipun sebenarnya bawa koper, bukan tas punggung atau backpack.
Tahun lalu saya juga sudah ke Surabaya. Saya cuma sempat melihat jembatan Suramadu kala itu. Sebenarnya ingin cerita dan pamer foto tahun lalu. Tapi malas sering menyerang. Lain kali mungkin. Hehe.
Sepulang dari Gubeng, saya ajak Om Herman sarapan. Kami berhenti di sebuah gerobak nasi kuning di pinggiran jalan. Entah apa nama jalannya. Di jalan itu banyak rumah-rumah besar dan mewah berdiri anggun. Kalau di jakarta mungkin mirip kawasan Pondok Indah. Bedanya di Pondok Indah tidak ada yang jual nasi kuning.
Selain nasi kuning, si mas-mas penjaga gerobak juga menjajakan koran. Beberapa koran sudah terserak di meja suguhan. Artinya orang bisa sarapan sambil menikmati berita pagi. Gratis, tanpa harus beli korannya. Saya ambil Jawa Pos, yang memang berada di tumpukan paling atas.
Sebuah kolom opini pagi ini menarik. Letaknya di halaman paling depan bagian atas. Ditulis oleh Direktur Utama PLN. Ulasannya tentang tunggakan listrik di Pekanbaru, Riau. Tak habis pikir, bisa-bisanya daerah kaya seperti Pekanbaru ternyata menunggak listrik. Bla. Bla. Bla.
Sehabisnya nasi kuning, kolomnya Dahlan Iskan juga selesai saya lahap. Om Herman diam saja. Orangnya bukan tipe yang suka ngobrol sepertinya.
Saya lanjutkan baca koran, ke artikel berita di halaman sebelahnya. Tentang pemerkosa di Jakarta yang tertangkap di Sumatera Barat. Aneh ya. Orang itu lebih milih memerkosa lalu jadi buron sampai Sumatera Barat. Mahal mana sih tiket ke sana daripada wanita-wanita yang sering nongkrong di Jalan ABC Bandung. Jadi penasaran. Eh, bukannya saya setuju sama lokalisasi lho. Hanya penasaran saja. Ah, berita konflik seks begitu memang selalu menarik.
Sadar saya selesai menyantap, si mas penjual nasi kuning membuka obrolan.
“Itu mas, berita yang di depan lucu lho, Mas,” ujar mas penjual.
Yang dia maksud adalah kolom opininya Dahlan Iskan yang tadi saya baca. Dia utarakan keheranannya pada daerah-daerah kaya seperti Pekanbaru. Dia bilang harusnya mereka bisa mandiri. Pakai teknologi yang bisa hemat energi jadi listrik bisa bebas subsidi. Tulisan Dahlan Iskan ngelotok betul di kepalanya. Menurutnya, di negeri ini banyak insinyur. Tiap tahun ada saja lulusan teknik yang keluar dari Universitas dan Institut negeri. Masak tidak ada sih yang bisa menyelesaikan problem begini.
“Eh, sekarang malah Pak Dahlan dituduh-tuduh ikut main sama Nazaruddin,” si mas penjual mulai ubah topik.
“Nggak mungkin, Mas. Wong pak Dahlan itu udah kaya,” lanjut mas penjual.
Kata dia, Dahlan Iskan itu orang yang sudah kaya. Gajinya sebagai CEO PLN saja tak pernah diambil. Begitu juga mobil dinasnya, tak pernah dipakai. Jadi menurutnya, tak mungkin lah Dahlan Iskan bermain dalam praktek kotor korupsi begitu.
Saya mengangguk saja. Hebat juga ya Dirutnya PLN ini. Sudah punya pendukung yang setia dan mau membela. Mau deh saya, kalau disuruh mama daftar di PLN.
“Pak Dahlan itu, rumahnya deket sini, Mas?”
Saya tanya begitu. Siapa tau komentarnya hanya karena fanatisme kedaerahan. Skeptis.
“Iya Mas. Kantor pusatnya Jawa Pos kan disini. Dia yang punya itu Jawa Pos.”
“Ooooo…”
Kemana saja saya selama ini. Pantas kolom opininya bisa ada di halaman paling depan. Di bagian paling atas. Memang enak sih, punya media sendiri. Media besar pula. Bisa kapan saja keluarkan opini sendiri. Langsung dibaca orang banyak. Tanpa perlu diedit ketat oleh editor. Tanpa harus debat keras dengan pemimpin redaksi, layak atau tidak berita atau opini untuk dicetak.
Ah, waktunya saya pamit. Lanjut jalan-jalan. Sambil berharap semoga Dahlan Iskan tidak bikin partai. Terus lalu haus publikasi sendiri seperti si pemilik Metro TV.
P.S
Kalau ada yang di Surabaya atau Yogyakarta, colek saya dong. Aw. *murahan*
Bisa Lihat Setan
Seperti biasa di malam-malam liburan lain. Saya bersama keluarga kumpul di kamar orang tua. Ngadem. Karena cuma itu kamar yang suhunya sejuk. Dan sedikit nyamuk.
Ririn, adik saya, sedang sibuk mengepak barang. Liburan sudah akan berakhir. Paginya dia sudah harus kembali ke Jatinangor. Kuliah bersama mahasiswi-mahasiswi UnPad lainnya.
Mama sedang asik mengabelkan kuping. Dia sedang dengar radio Dakta yang isinya ceramah-ceramah. Biasanya ceramah perkawinan. Sesekali mama mencabut kabelnya lalu mengkhayal. Seperti penasaran, lalu dia nyeletuk.
“Ijal, bawa sini dong ceweknya. Kapan nih mama dikenalin? Ririn aja udah.”
“Hmmmmm”
Saya menyahut pendek. Tanda mengiyakan. Tanpa tau akan membawa siapa nanti. Fase setelah lulus selain ditanya pekerjaan, pasti adalah jodoh. Tapi biarlah. Saya pura-pura asyik main game balap mobil yang ada di ponsel. Cuek. Padahal sudah di lap terakhir dan kalah.
Ririn senyum-senyum sendiri di balik kopernya.
“Ka Ijal, mau bisa liat setan ga?” tanya Ririn mengagetkan.
“Liat setan?”
Ririn mengeluarkan sesuatu dari kopornya. Ada bulatan dua dan ada talinya. Sebuah bra entah ukuran berapa. Dia menutup matanya dengan dua bulatan bra. Lalu dilingkarkannya pada kepalanya. Membentuk kacamata.
“Nih, bisa liat setan nanti nih,” ujar Ririn.
…
krik…krik… krik…
Ririn… Ririn… kelakuan masih begitu, berani-beraninya kau melangkahi kakakmu ini. Krik.