Obituari

Posted in raie with tags , on 14 May 08 by ray rizaldy

Pak Burhan sedang sakit di rumahnya, di Medan sana. Jantungnya kambuh karena tim sepak bola kesayangannya gagal menjadi juara di sebuah liga primer. Tim birunya itu tertinggal 2 poin saja dari rivalnya yang menjadi juara.

Pak burhan duduk di atas ranjangnya. Kemudian telpon selulernya berdering. Karena sulit untuk bangun dari ranjangnya, dia meminta Ijah, pembantu di rumahnya, untuk mengambilkan telpon seluler tersebut di ruang kerjanya. Ijah lalu mengambilkan telpon seluler tersebut untuk tuannya. Sambil diselingi rasa ingin tahu, Ijah melihat ke layar seluler itu. Tak ada nama penelepon hanya ada nomornya saja. Nomornya 08****0666. Ijah lalu meninggalkan tuannya yang sedang mengangkat telpon.

Pak Burhan : “Halo, siapa ini?”

08****0666 (untuk selanjutnya disebut sebagai 0666 saja) : “Halo, Bapak? Pak ini Boris anak Bapak. Boris sudah ganti nomor pak, pakai nomor lama mahal. Apalagi teman-teman Boris di Jakarta sini jarang yang pake kartu itu pak.”

Pak Burhan : “Tidak apa. Tumben kau telpon, uang sudah habis ya di sana?”

0666 : “Ah, Bapak tau saja. Iya pak, uang Boris habis di taruhan buat Chelsea jadi juara EPL. Sayangnya Chelsea tidak jadi juara. Menyesal Boris pak.”

Pak Burhan : “Waduh, betul kau. Kurang ajar juga itu Bolton menahan tim kita. Bapak juga kecewa. Jadi kalah taruhan berapa kau nak? Biar bapak bayar. Kau pasti ikut-ikutan Bapak suka sama the Blues juga.”

0666 : “Itulah pak masalahnya. Aku taruhannya 200 Juta. Aku pikir Chelsea pasti menang. Aku ingin menyenangkan Bapak dengan pulang bawa mobil baru. Tak tahunya…”

Pak Burhan : ……………………….

0666 : “Pak?”

Pak Burhan : ……………………… Glutak…Glutak…Jedug…(suara ponsel jatuh ke lantai)

Boris tak tahu bapaknya itu baru saja kambuh jantungnya. Pak Burhan meninggal, syok. Ijah yang mendengar suara tak sedap segera menuju kamar tuannya. Tuannya sudah tak lagi bernafas. Telpon selulernya jatuh di sebelahnya. Ijah pun teriak minta tolong.

***

Pak Burhan sudah dikuburkan. Ijah pun menjalankan hari-harinya seperi biasa. Merapihkan rumah, memasak, mencuci, menyetrika baju dan tentunya bergosip dengan pembantu lainya.

Ijah : “mbak-mbak, pada tau gak Bapak meninggal itu ada yang nelpon. Kalo gak salah nomernya itu 666 gitu ujungnya. Saya inget betul lho mbak, abis ngangkat telpon itu si bapak langsung modar

Pembantu lainnya : “Ah masak sih mbak Ijah. Ngeri juga ya mbak ijah. Tapi kemarin aku juga baru nonton dvd punya anak majikanku. Kata anak majikanku judulnya wan miskol. Ternyata serem lho mbak. ceritanya mirip sama majikannya mbak Ijah itu. kisah nyata kayaknya itu”

Link bergosip pembantu biasanya juga tak hanya sesama pembantu. Mereka juga biasanya diajak nimbrung oleh ibu-ibu majikannya yang butuh gosip sebagai pembicaraan. Pembantu tadi akhirnya juga bercerita kepada majikannya.

Pembantu lainnya : “Bu, kemarin itu ya, si Ijah, pembantunya Bu Burhan, cerita. Katanya waktu majikannya itu meninggal dia ditelpon sama nomor 666 gitu bu. Aneh ya?

Ibu Majikan : “666 itu kan angka setan ya. Bahaya, nanti kalau ada yang ngalamin kejadian yang sama. Bisa berabe. Tak kasi tau sama ibu-ibu yang lain dulu. Biar semua bisa ngingetin keluarganya”

Ibu majikan tadi juga punya channel gosip di daerah lain. Dia lalu bercerita hasil gosipnya dengan pembantunya.

Ibu majikan : “Bu, kalau ada telpon dari yang nomor ujungnya 666 gitu, gak usah diterima itu Bu. Setan itu. kemarin suaminya temen saya habis dapet telpon dari nomor itu. meninggal Bu. Iii syerem kan”

Ibu-ibu lain: “Waduh harus kasih tau ke semua keluarga nih.”

Begitulah berita kematian pak Burhan itu terus mengalir. Dari mulut ke mulut informasinya bertambah. Dari telpon ke telpon. Bersambung lagi sms ke sms.

Akhirnya sampai lah ke seorang teman saya. Dia ditelpon oleh ibunya jauh dari kampung sana. Informasinya jangan pernah angkat telpon dari nomor yang ada angka 666nya. Bahaya bisa menyebabkan kematian.

Tak berhenti sampai disitu. Adik saya yang tinggal di asrama, entah kenapa juga mendapatkan info tersebut. Dia malah mengirimkan sms supaya saya mematikan seluler saya tengah malam. Karena bisa menyebabkan kematian. Saya menanyakan asal informasi tersebut kepada adik saya. Jawabannya dari temannya. Temannya itu punya teman yang sudah menjadi korban. Katanya lagi berita tersebut sudah muncul di metroTV malah. Ckckck… metroTV? Ada yang sudah pernah mengecek? Saya tak punya TV sih di kos.

Saya balas smsnya dengan sinis : “gimana si anak pesantren masi aj percaya ma begitu2an. Yang punya hak bwt nyabut nyawa orang tuh cuma Allah tau”. Jika setelah menulis postingan ini saya mati, itu pasti karena sudah waktunya. Bukan karena saya kesambet. Ngomong-ngomong, ada lagi gak yang dapat hoax ini?

Ps: cerita di atas (kecuali 3 paragraf terakhir) adalah rekaan saya belaka.

Quinze Années

Posted in raie with tags , on 30 April 08 by ray rizaldy

Be a winner-be a star
Be happy to be who you are
Gotta be yourself-gotta make a plan
Gotta go for it while you can

-Shania Twain

Ganti Sistem Operasi

Posted in raie with tags , on 24 April 08 by ray rizaldy

Tujuan utama dari sistem operasi adalah resource sharing. Resource atau yang menurut Bahasa Indonesianya adalah sumber daya diolah, lalu kemudian dibagi. Pembagiannya dilakukan sedemikian rupa. Dengan begitu setiap aksi yang ingin dilakukan bisa mendapatkan jatah resource dengan adil.

Dalam pengolahan sumber daya ini, ada kemungkinan terjadi kesalahan. Baik itu kesalahan penjadwalan atau pun kesalahan alokasi sumber daya. Nah tugas sistem operasi lah untuk meminimalisir kesalahan-kesalahan ini. Bisa saya katakan bahwa semakin baik sistem operasi, semakin kecil kemungkinan kesalahan itu terjadi.

Apa yang terjadi jika sistem operasi kemudian tidak dapat mengolah sumber daya dengan baik? Aksi-aksi yang ingin dilakukan menjadi sering tak terlaksana. Dan kalaupun terlaksana, aksi dilakukan jauh terlambat.

Kira-kira inilah yang terjadi pada saya. Sumber daya seperti halnya waktu, pikiran dan juga jasmani yang saya miliki tak terolah dengan adil. Waktu 24 jam setiap hari rasanya kurang. Pikiran juga tak teralokasi dengan baik. Apalagi jasmani, pengaturan antara kuliah, unit kegiatan dan tidur saling overlap. Saat istirahat terpakai untuk kuliah, giliran kuliah malah saya pakai untuk unit kegiatan atau malah tidur. Hehe…

Pada komputer masalah ini bisa diselesaikan dengan 2 cara. Yang pertama, adalah menambah atau mengganti sumber daya, seperti memori, ataupun prosesor. Yang kedua adalah memodifikasi sistem operasi supaya kesalahan dapat diminimalisir.

Cara pertama jelas tak bisa saya tempuh. Karena mengganti prosesor artinya saya harus membelah kepala saya. Menukarkan isinya dengan otak lain yang mungkin lebih bisa mengatur sumber daya. Tapi nanti bisa-bisa saya malah jadi frankenstein. Itu tuh tokoh horor yang jadi superbloon gara-gara jadi percobaan seorang profesor gila.

Yang bisa dilakukan adalah cara kedua. Memodifikasi sistemnya. Bagian yang paling mungkin dimodifikasi adalah penjadwalan. Itu artinya, Saya harus merubah pola hidup. Sistem penjadwalan yang dipakai sekarang kurang bagus. Saya terlalu banyak telat kuliah. Padahal kuliahnya siang. Tugas-tugas pun baru terlaksana beberapa jam sebelum batas pengumpulan. Dan itu menyebabkan tugas terkumpul menjadi tak terlalu bagus, bahkan tidak memenuhi spesifikasi. Untuk tidur, teman-teman saya mengatakan porsi saya cukup bahkan lebih. Tapi entah kenapa tiap di kelas saya selalu merasa ngantuk. Makan pun jadi tak teratur. Karenanya saat kuliah jadi tak konsentrasi, lapar mengganggu.

Oleh karena itu saya membuat sistem penjadwalan baru. Ini dia… Jreeeng

Catatan : MPPL, PPL, Jarkom, Grafika, SBD, Kompem dan Progin adalah nama mata kuliah.

Huff… Padat juga. Mudah-mudahan jadwal ini bisa saya taati. Mudah-mudahan bisa bangun jam 3 pagi. Mudah-mudahan bisa mengerjakan tugas sesuai bagian. Mudah-mudahan bisa teratur makan.

Karena Senyum

Posted in raie with tags , on 14 April 08 by ray rizaldy

“Kalo saya sukanya sama nomber tiga. Liat tuh senyumnya, yang lain mah mukanya tua” komentar seorang ibu di TPS dekat rumah.

Pukul 11, saya datang ke TPS bersama papa. Mengantarkannya menggunakan hak pilihnya. Sekalian saya juga ikut memilih. Ini pilkada kedua yang saya ikuti. Kali pertama adalah ketika saya berada di Gorontalo.

Meski sudah hampir tengah hari TPS masih dikelilingi warga. Sepertinya mereka menunggu sampai penghitungan suara dilakukan. Mereka lalu berdebat dengan papa saya mengenai prediksi calon pemenang. Papa berkeras bahwa pasangan yang didukung banyak partai lah yang akan menang. Dan itu pasangan nomor 2, Agum-Nu’man. Dua pasangan lain cuma didukung 2 partai. Dan lagipula kalau masalah pengalaman tak perlu lagi ditanya, pasangan nomor 2 ini sudah lama malang melintang di jagad politik.

Sedangkan warga se-RT di sekeliling TPS memprediksi Heryawan-Dede yang akan menang. Sama halnya dengan si Ibu, alasan mereka adalah senyum pada foto pasangan nomor 3. Mereka tunduk pada senyum hangat yang diberikan pasangan Ha-De pada fotonya.

Saya sendiri mengakui, pasangan bernomor urut 3 itu memang bermuka lebih ramah. Sedangkan pasangan lain nampaknya sedang sakit gigi saat difoto. Sehingga foto mereka terlihat murung dan garang.

Tapi saya tak terlalu menyukai pasangan ini. Mereka masih takut melepas jabatan mereka. Cuma cuti dan baru mau melepas jika sudah ada keputusan menang. Ih, kutu busuk eh kutu loncat. Dan lagi, saya tidak suka dipimpin artis. Lebih baik oleh pengusaha. Lihat tuh Gorontalo, maju kan dipimpin sama Fadel. Hehehe…

O, iya mengenai prediksi, saya punya hipotesis bahwa nomor 2 punya misteri tersendiri. Beberapa pemilihan terakhir yang saya dapat bahwa nomor 2 punya kesempatan besar untuk menang. Contoh paling terakhir adalah terpilihnya Shana-Bagus pada pemilihan presiden KM ITB.

Hanya saja hipotesis saya meleset. Semakin kesini kok, hasil penghitungannya malah memposisikan Ha-De sebagai pemenang ya?

*kok pasangan yang nomor 1 tidak tersebut ya? Hehehe… ah biarlah.

The Traveller : Sang Penumpang Travel

Posted in raie with tags , , on 19 March 08 by ray rizaldy

“Pondok Indah, Pondok Indah, Berangkat” teriak petugas travel. Tanda bahwa salah satu mobil van mereka akan berangkat. Penumpang yang sejak tadi menunggu keberangkatannya berbondong masuk ke mobil tersebut.

Tiga orang ibu-ibu yang berpakaian gemerlap, lengkap dengan jilbabnya yang juga memantulkan cahaya manik-manik. Sepertinya baru saja dari pesta. Tiga orang ini duduk di bangku paling belakang. Lalu dibangku depan mereka, duduk seorang Ibu secara tidak tenang. Karena sedari tadi dia terus membujuk anaknya untuk berhenti merengek dalam pangkuannya. Selanjutnya bangku tepat di belakang supir diisi seorang gadis, muda, cantik, bersweater merah, mahasiswi tampaknya. Gadis tersebut diantar seorang laki-laki, pacarnya pasti. Kelihatannya mereka baru saja jadian. Terlihat dari gaya mereka melakukan perpisahan. Perpisahannya bagai sang gadis akan pergi jauh sekali dan sangat lama. Padahal cuma Bandung-Jakarta. Paling cuma 2-3 hari.

Terakhir, Saya sendiri duduk di kursi depan. Menemani sopir, sambil menyesali mengapa tidak meminta sebangku dengan gadis tadi. Padahal kosong.

Para petugas travel tersebut masih sibuk mengangkat-ngangkat barang penumpang. Juga sambil menunggu seorang penumpang yang tak juga datang. Tapi kami, para penumpang sudah sibuk di dalam mobil. Dua dari tiga ibu-ibu tadi mulutnya tak kunjung diam, bergosip ria mereka. Sedangkan temannya sudah termakan lelah. Dan akhirnya tertidur bersender ke jendela.

Ibu di depannya tetap saja sibuk dengan balitanya. Terus merengek, meminta dilepas sang ibu. Tidak mau digendong. Sedang ibunya, tampaknya khawatir jika dilepas, anaknya akan mengganggu penumpang lain. Apalagi gadis di depannya. Ibu ini pasti khawatir anaknya melihat sesuatu yang tidak pantas dilihat anaknya.

Apa sebab?

Gadis berbusana merah itu sejak masuk ke mobil terus berasyik masuk dengan pacarnya. Mengobrol melalui jendela. Sambil sesekali menempelkan hidung mereka. Tanggung, mereka lalu menempelkan bibir mereka. Masih melalui jendela. Mengobrol lagi, lalu berciuman lagi.

“say, lagi dooong!” pinta sang pacar dari luar mobil. Dan entah untuk ke berapa kalinya mereka menempelkan hidung mereka lagi. Menikmati empuknya tulang rawan di ujung hidung saban 5 detik. Lalu tanpa peduli bahwa salah penumpang lain terus menutupi mata balitanya, mereka saling menghembuskan kemesraan melalui bibirnya.

Jelas saya risih. Tapi juga merasa tak ingin kehilangan adegan panas ini. Melalui spion di sisi sopir, saya terus memperhatikan mereka. Binal, dan tak tahu diri. Membuat saya semakin bimbang untuk pacaran. Takut nantinya saya akan menjadi seperti pasangan muda ini. Tak tahu diri. Tidak tahu tempat. Tidak tahu waktu.

Saya ingat mitos dari Gorontalo. Kendaraan jenis apapun, pesawat terbang, mobil, motor, sepeda, becak, bahkan bendi yang merupakan kendaraan khas Gorontalo, jika penumpangnya melakukan perbuatan tidak senonoh, kendaraan tersebut akan tertimpa kesialan.

Benar saja, mobil baru berjalan sekitar 3 Km dari lokasi travel. Mobil yang kami tumpangi tersebut mogok. Ngotot tak mau jalan lagi. Untung saja baru 3 Km, si sopir masih bisa meminta bantuan armada lain dari markasnya. Bayangkan jika ini terjadi di tengah tol Cipularang.