kribo

penulis malas

Posts Tagged ‘toresto

Kribo dan 2012

with 2 comments

Tidak ada yang sanggup mengalahkan kebosanan selain membaca dan lalu menulis. Begitu pikir saya dulu. Saya biasa menulis di saat-saat senggang. Mungkin suntuk karena bug fixing beberapa project di GITS. Bosan karena menghabiskan akhir pekan sendirian. Atau yang paling kronis, bosan main game. Paling tidak, ada saja kebosanan yang bikin buka Google Reader. Melihat update blog dari teman-teman. Juga memantau blog cewek taksiran. Dan lalu akhirnya kepincut untuk menulis juga, supaya dibaca sama cewek blogger taksiran.

“Jadi udah ga bosenan nih sekarang? Udah punya pacar?”

Yes, ada benarnya. Dua tahun lalu, saya masih pejantan tangguh – kuat menghadapi malam minggu sendirian. Di malam-malam minggu yang dingin, seorang pejantan tangguh hanya berbekal laptop dan exhaust fannya untuk menghangatkan diri. Dayang-dayangnya adalah puluhan kbps yang sanggup mengantar kemana saja otaknya membayangkan. Selanjutnya malam akan makin dramatis ketika bulan purnama tiba. Auuu..

Sekarang sebenarnya tak jauh beda. Laptop dan internet tetap menjadi teman setia. Bedanya: kini saya punya pacar meskipun beda kota. Wanita sungguhan, tentu saja, bukan wanita jejadian macam simsimi. Laptop, internet, skype, itulah menu malam minggu pria modern zaman sekarang. Sambil sesekali kalau ada bulan penuh, saya coba sisipkan adegan FTV.

“Sayang.. liat deh bulannya lagi bagus lho!”
“Oh iya, purnama ya.”
“Meskipun jauh, tapi kita masih bisa liat bulan yang sama, ya.. Aku rindu kamu.”
“Hueeeek… Gombaaaal!” (Meskipun sok-sok muntah, saya tau pasti mukanya memerah)

***

Alasannya bukan hanya pacar. Tahun 2011 lalu, saya dapat kehormatan mewakili GITS. Kami hadir CommunicAsia sebagai bagian dari Nokia Developer. Adalah Toresto, aplikasi pencari tempat makan terdekat – yang sudah kami develop sekeren mungkin – yang ternyata dilirik oleh Nokia. Memang sih Toresto berawal dari Android app. Kita coba porting Toresto sebagai aplikasi native Nokia. Toresto ternyata termasuk aplikasi pertama yang menggunakan integrasi Nokia Maps. Kami cuma kalah cepat dari aplikasi asal China buatan Tencent. Jadilah kami diundang untuk ngobrol-ngobrol bersama petinggi-petinggi perusahaan Finlandia itu.

Hati mama mulai bisa dilunakkan karenanya. Meskipun belum kelar juga nasihatnya untuk ikut seleksi di BUMN. Sadar tak sadar, saya juga sudah harus mulai belajar melunakkan hati orang tua lain. 😀

Tapi seseorang tidak akan bisa meyakinkan orang lain, kalau tidak yakin dengan dirinya sendiri. Saya pun harus yakin dengan apa yang saya kerjakan. GITS. Tidak ada cerita lagi GITS projectnya berkala: kala-kala sibuk, kala-kala facebook. GITS harus sukses. Kita bukan lagi 5 orang mahasiswa kemarin sore yang tukang galau. Kami harus transformasi jadi sustainable company.

Sepanjang 2012 ini, banyak eksperimen kita coba disana-sini. Project kita evaluasi efektivitas kerjanya. H!Bandung. Mindtalk. Viki. Pelan-pelan, aplikasi GITS juga terus kita perbaiki. Toresto. KosaKata. Dokterdroid. Semua dibuat supaya lebih nyaman bagi user. Visi, misi dijabarkan ulang. Goal juga diset kembali. GITS adalah versatile mobile solution. Pake bahasa inggris biar gampang ingatnya. Get it Simple jadi motto yang tersingkat dalam nama GITS. Motto untuk mengingatkan bahwa kami disini untuk memudahkan pekerjaan manusia dengan teknologi. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Begitu. *sambil acung telunjuk a la Mario Teguh*

Ada juga yang coba kontak kita jadi trainer untuk develop aplikasi. Belum PD betul sih. Rasanya kalau dibandingin sama jago programming lain seperti Pak Romi Satriowahono, saya kalah jauh. Masih banyak yang perlu saya pelajari. Tapi mungkin feenya juga kalah jauh ya. Hehe. Akhirnya malah saya menikmati, mengajar itu sendiri adalah belajar.

Jeng.. jeng.. jeng.. ini yang paling saya impikan dari dulu. Tawaran menyusun buku juga datang. Buku buat jadi materi ajar pengembangan aplikasi. Tapi ternyata menyusun buku itu butuh mental ekstra, pemirsah. Ada saja materi yang tau tau perlu ditambahkan ke dalamnya, tapi ternyata capek sendiri karena butuh pengujian lebih lanjut. Belum lagi kalau down, karena materi buku yang saya ikut ajarkan di training itu ternyata kurang bisa dipahami sama peserta ajar :D. Sepertinya perlu banyak belajar lagi sama Pak Rinaldi. Salut sekali untuk beliau yang karyanya sudah banyak terjual di toko buku.

Oh iya, info penting lainnya. Di tahun 2012 saya berhasil mengurangi satu lagi anggota tubuh saya. Mungkin karena makan kurang teratur, saya jadinya kena radang usus buntu. Perut saya dibelek 12 jahitan kayak ibu-ibu lahiran cesar. Jalan pun macam pinguin jadinya.

Hmmm.. Begitu deh tahun 2012 saya. Berhubung ini (masih) bulan pertama di 2013, saya coba sempatkan menulis lagi di blog karatan ini. Bukan resolusi sih memang. Hanya sekedar pengingat saja untuk diri sendiri.

Terima kasih 2012 + Januari 2013. I won’t be missing you. Good bye. Fiuh.

Written by ray rizaldy

30 January 13 at 5:35 pm

Posted in raie

Tagged with , , , , ,

Kribo dan Calo

with 13 comments

Malam itu sudah hampir larut. Masuk ke gedung angkuh itu, terdengar grandpiano dimainkan. Saya tak tau lagu yang dimainkan. Tapi, cukuplah menambah kesan mewah di Hilton malam itu.

“Kak, saya udah di lobi ya,” ujar saya dalam telepon.

Saya bertemu Naren, senior saya di kampus. Setelah 3 tahun lebih di Microsoft, Naren kini jadi developer operation manager Nokia. Kami membahas Toresto, aplikasi yang dibuat GITS. Cerita punya cerita, Toresto merupakan aplikasi kedua di dunia yang berbasis peta dari Nokia. Jadilah Toresto dapat kesempatan untuk pamer di CommunicAsia 2011, Singapura.

“Eh, Lo udah ada paspor kan?” tanya Naren.

“Emmm, masih proses, Kak.”
“Saya udah masukin permohonan kemarin, tapi baru disuruh balik Jumat depan,” lanjut saya.

Naren cuek. Dia bilang tiket sudah dibeli. Hotel juga sudah dibook. Rombongan akan berangkat 10 hari lagi. Sekian.

Saya tertunduk. Sampai di GITS, saya minta Ewa bersiap. Kalau paspor terlambat selesai, saya harus rela digantikan yang lain. Yang penting kan Toresto pamer dulu.

***

“Lo bakal nginep Marina Bay Sands cuuy, itu hotel paling keren di Singapur.”

Saya terbayang ucapan Naren malam itu. Sial. Saya toh memang tak rela juga. Dari 5 anak GITS, saya yang belum pernah keluar negeri. Ewa, Ibun, Dudin juga Irfan pernah liburan ke Singapura waktu saya Nugas Akhir dulu.

Mama. Mama pasti bangga kalau saya bisa ke Singapur. Lupa tuntutannya untuk jadi karyawan BUMN atau PNS. Toh, tanpa begitu saya bisa juga ke luar negeri. Gak pake kedok studi banding segala.

Ditambah lagi, Ewa pasti cedera lidah kalau berangkat. Bisa-bisa disana tak ada yang mudheng saat Ewa presentasi Toresto dengan bahasa linggis. Saya harus ikut.

Paginya saya ke kantor imigrasi. Minta dipercepat. Pasalnya, papan petunjuk depan kantor imigrasi jelas tertuliskan aturannya. Setelah permohonan diajukan, pemohon kembali 3 hari kemudian untuk foto. Dan paspor sudah bisa diambil 3 hari setelahnya. Total 6 hari kerja selesai. Kenapa saya butuh 7 hari kerja untuk sampai proses pas foto?

Sampai di meja petugas, saya luluh. Tak sanggup saya debat dengan mbak petugas imigrasi cantik tapi judes itu. Saya tetap harus kembali jumat depannya. H-5 keberangkatan. Tak jamin juga paspor selesai cepat setelah pas foto. Apes.

***

Calo. Penampilannya, tak beda dari orang biasa. Tapi entah kenapa tak sulit membedakan mereka. Mereka seperti punya aura tersendiri yang menandakan dirinya calo.

Saya mengawasi salah satu dari mereka. Saya lihat sekeliling. Tak ada yang perhatikan. Saya mendekat hati-hati. Berbisik.

“Pak bisa bantu saya?”

Rasanya seperti adegan perjanjian dengan iblis di film seri Supernatural. Setiap dosa ada karmanya. Bagaimana jika di bandara nanti, paspor saya ketauan diurus lewat calo. Saya di penjara. Lalu muncul wajah Gayus Tambunan terbayang di kepala saya. Ah tai sapi.

“Gini pak, saya pengen paspornya bisa jadi cepet.”

Calo itu namanya Pak Irgi. Badannya tinggi, kurus. Jangkis dengan polo shirt hitamnya. Umurnya 40an. Mirip sekali Om Aksa, Paman yang sering saya asosiasikan sebagai jenderal Nazi. Galak.

Dia minta saya tulis nama serta alamat. Tak banyak cingcong, dia masuk kantor staf imigirasi. Sepuluh menit, dia kembali. Berkas saya sudah di tangannya. Katanya saya bisa kembali besok untuk foto. Whoa. Super cepat.

“Lima ratus ya, Ray, bawa sekarang duitnya?” Pak Irgi tak memberi kesempatan menawar.

Normalnya pembuatan paspor hanya kena 260 ribu Rupiah. Mungkin 100 untuk orang dalam, sisanya untuk dia. Saya pasrah menyerahkan uang 500 ribu hasil diet makan bulan lalu.

***

Paspor saya selesai hari Selasa. Kalau ditotal hanya butuh 4 hari kerja jika lewat calo. Lebih cepat 2 hari dari cara “seharusnya”.

“Pak Irgi, terima kasih ya ini,” saya menjabat tangannya sebelum berpisah.

“Ah, sama-sama. Saya niatnya selalu cuma pengen bantu orang aja. Nanti kalau ada temen lagi yang mau bikin, kasih tau saya ya,” Pak Irgi tersenyum.

Saya pulang sambil mikir. Kenapa bukan orang macam Pak Irgi saja sih yang jadi petugas imigrasi. Hufff.

Written by ray rizaldy

16 July 11 at 5:57 pm

Posted in raie

Tagged with , , , , ,