kribo

penulis malas

10 Jam Terakhir

with 11 comments

Pukul 11 Malam, seorang pemuda termenung di atas kasurnya. Dia hanya memandangi gerak jarum jam. Gelisah. Dalam benaknya, terbayang apa yang akan dilaluinya 10 jam ke depan. Sesuatu yang amat ditakutinya sejak lama. Ketakutan yang dashyat layaknya mendapat pemberitahuan bahwa dia akan mati besok, tepat pukul 9.

Sesekali dia melirik ke telepon genggamnya. Mencoba masuk ke dunia virtual buatan Yahoo!, kapitalis IT, supaya ia bisa ‘bertemu’ dengan teman-temannya. Mengajak mereka mengobrol agar ketakutannya terlupa sejenak. Tapi sejak sejam lalu dia terlempar dari dunia itu. Jangankan bertemu temannya, benda di genggamannya tak juga mengantarnya masuk virtual.

Dia menunduk sedih. Hanya Tuhan yang bisa mendengarnya ketakutannya sekarang. Dia menyesal hidupnya kurang diisi dengan ibadah. Baru hari ini dia menepati kewajibannya tepat 5 waktu. Baru hari ini, setelah sekian minggu berlalu dari Ramadhan. Dia berandai, jikalau dia menjalani perintah Tuhannya.

Andai kepalanya tak ditutupi bantal saat adzan Shubuh datang. Tapi tidak, weker yang sudah membantu adzan malah langsung dimatikannya.

Andai dia dapat menahan diri, tentu kakinya segera melangkah ke musholla terdekat. Tapi dirinya terlalu serakah akan bandwidth di kampus, sehingga Dzuhur pun terlupa.

Andai, dia bisa membujuk dirinya untuk menunaikan Ashar segera setelah usai kuliah. Tidak juga, dia malah memanjakan keletihannya sepanjang hari dengan bermalas-malas di ruang himpunan.

Andai dia bisa menahan laparnya sejenak untuk bersujud 3 rakaat saja. Tapi, dengan dalih kesehatan dia bersegera untuk memuaskan nafsu perutnya hingga terlewat waktunya Maghrib.

Andai dia mau mengorbankan sedikit dari waktu belajarnya untuk Isya. Yang akhirnya tak juga terlaksana hingga dia tertidur.

Andai 5 waktu itu terlaksana, mungkin saja, ketakutannya sekarang ini tak perlu dihadapi. Sesal di akhir, tiada berguna. Sekarang waktu yang tersisa baginya tinggal 9 jam kurang. Berandai-andai seperti tadi justru menambah ketakutannya. Dia takut hukuman yang akan diterimanya masih belum setimpal dengan perbuatannya. Mungkin masih ada lagi yang lebih pedih di baliknya.

Akhirnya dengan jantung yang terus berdetak kencang, pemuda itu memutuskan untuk tidur.

***

Pukul 9 tiba, pemuda itu kini hanya di bungkus selembar kain. Oleh seorang lelaki setengah baya berbaju hijau, dia dibawa menuju sebuah ruangan. Ruangan luas berwarna putih kehijauan. Pemuda itu direbahkan di pusat ruangan. Lampu besar tepat mengarah ke wajahnya. Silau. Beberapa orang muncul kemudian membawa perangkat yang belum pernah dilihat oleh sang pemuda.

Seorang wanita cukup tua kemudian menancapkan sebilah jarum di tangan pemuda itu. wajahnya bertambah pucat seiring sakit yang dirasakannya. Seandainya masih ada kekuatan di kakinya, dia pasti akan berontak menerjang. Sayang kakinya lemas dan terus gemetar.

Wanita tadi kemudian menyambungkan beberapa kabel ke badannya. Dalam hitungan detik, terdengar bunyi-bunyian bak sinyal morse. Tut…tut…tut… bunyi tut susul menyusul dengan cepat. Wanita itu lalu memasukkan sesuatu ke tubuh si pemuda melalui jarum yang tadi ditancapkan. Lelaki yang mengantarkannya ke ruangan menunjuk-nunjuk ke arah lampu. Rupanya memberi isyarat supaya si pemuda menghadapkan wajahnya ke arah lampu. Dengan berat sang pemuda menuruti isyarat itu. seperti sedang disihir, seketika dia menghadap lampu besar di atasnya, seketika itu pula dia tak sadarkan diri.

***

Entah setelah berapa lama, dia membuka mata lagi. Dia bingung, sekelilingnya putih. Pikirnya, dia tak mungkin masuk surga secepat ini. Terlalu banyak perintah tuhan yang dilanggarnya. Dia berusaha mengingat apa yang telah terjadi.

Rumah Sakit. Dia ingat sekarang. Di meja sebelah ranjang tergeletak sebuah gelas tertutup. Berisikan 2 buah benda mirip buah kurma, hanya saja warnanya merah kecoklatan. Di sisi gelas itu ada kertas putih dengan tulisan. Pemuda itu meneliti gelas tersebut. Dari tempat tidurnya, dia membaca tulisan :

Tonsil, Tn. Rizal 27/11, dr. Farid spTHT.

Advertisements

Written by ray rizaldy

3 December 07 at 5:12 pm

Posted in raie

11 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. penceritaan yang sangat baik..
    well done!!

    bayu adi persada

    3 December 07 at 7:36 pm

  2. Makin nggak utuh aja lo Ray. Udahlah disunat (gua berasumsi lo disunat) sekarang gak punya amandel pula.

    Usus buntu gimana? Masih punya? Kalo nggak punya. Wah, sukucadang lo makin dikit aja.

    Kalo dijual, harganya jatoh..

    ikram

    3 December 07 at 11:54 pm

  3. yapyap. ayo ray, get well soon. 🙂

    ikazain

    3 December 07 at 11:57 pm

  4. @bayu:huehue tengkyu bay

    @ikram:maaf daku tak dijual jg tuh.
    *Ttg sunat,bukannya pria disunat harganya naik ya?halah hahaha

    @ika:yo bu PU,daku udah d bdg koq

    Ray rizaldy

    4 December 07 at 6:02 pm

  5. aku terhanyut dalam cerita ini..
    keren!
    terharu..
    jangan lupa lagi sama yang 5 waktu yah..
    (^-^)

    seneng ngeliat ray lagi di kelas!
    apalagi tadi tb2 dtg pas presentasi..
    hehehe..

    Inay

    5 December 07 at 8:05 am

  6. klo orang padang bilang,
    itu namanya adalah
    sangsaro mambawo nikmat..
    (sengsara membawa nikmat)

    okelah, seniro!

    kutunggu kribomu..

    uchenk

    5 December 07 at 10:48 pm

  7. @inay: amin nay, doakeun daku supaya tak lagi lupa…

    @uchenk : apo? sangsaronya ado nikmatnya indak…
    ambo indak bisa makan normal lagi sekarang…kumaha ieu?
    hahhaa… oke juniro, tunggu 2 bulan ke depan tumbuh nanti kribo daku..

    ray rizaldy

    6 December 07 at 5:29 pm

  8. subhanallah… makasih atas tulisannya
    iya inget mati emang jadi bikin kita makin kuat 🙂

    aniskamilah

    7 December 07 at 12:33 pm

  9. sama-sama nis…
    cuma daku pas inget mati, jadi gentar juga. huhuhu
    masih blom sekuat anis imannya 🙂

    ray rizaldy

    7 December 07 at 2:36 pm

  10. “masih blom sekuat anis imannya :)”
    halah, naon sih ray?
    suka sedih klo orang2 mikir saya “baik” kyk gt 🙂
    merasa semuanya cuma kamuflase (aaah melankolis… melankolis…) :p

    anis

    12 December 07 at 8:38 am

  11. Ray, u r really nice story writer… Cerita gitu “doang” bisa jadi keren banget 😀

    Zakka Fauzan Muhammad

    10 February 08 at 11:59 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: