kribo

penulis malas

Posts Tagged ‘kribo

Kribo dan Alkisah

with 2 comments

Alkisah, pada suatu waktu tersebutlah seorang wanita. Ia tipe yang sibuk belajar menaklukan toga. Sebuah batu loncatan dalam pencapaian ilmu dan karir, katanya. Entah bagaimana hidupnya berubah tiba-tiba. Garisnya bersilangan dengan hidup seorang pemuda.

Si pemuda hidup di ujung barat sana. Beratus-ratus kilometer dari si wanita. Mencoba menyebar benih rezeki untuk calon keluarga. Yang tak tahu akan ia temui dimana.

Takdir lah yang mempertemukannya. Keduanya bertatap muka. Di kota tempat wanita mencari ilmunya. Mungkin itulah awalnya muncul suka. Muda-mudi ini lalu saling bertukar cerita. Kalimat-kalimat ringan yang dikirim lewat udara. Tentang adu argumen di ruang kerja. Tentang makalah dari problema hingga bab analisa. Tentang teman yang baru saja pupus asmara. Cerita dan cerita, tak ada habisnya.

Suka tumbuh tak disangka. Sang pemuda bulat hatinya. Ditanyakannya cinta pada sang wanita. Ratusan kilo tak peduli dia. Andai ditolak tak mengapa. Dia sudah biasa.

Hati wanita toh tak sekeras batuan goa. Bisa berlubang tertetes air lama-lama. Luluh pada pemuda yang gigih berusaha.

Bulan-bulan lewat tak berasa. Putus sambung tali asmara mereka. Ada senang, juga duka. Tapi Jarak telah menempa keduanya. Lautan luas makin tak bermakna.

***

Siapa kira, kisah ini berulang 26 tahun setelahnya. Setelah mereka menikah dan punya anak lima.

Written by ray rizaldy

10 September 12 at 10:29 pm

Posted in raie

Tagged with , , ,

Kribo dan Calo

with 13 comments

Malam itu sudah hampir larut. Masuk ke gedung angkuh itu, terdengar grandpiano dimainkan. Saya tak tau lagu yang dimainkan. Tapi, cukuplah menambah kesan mewah di Hilton malam itu.

“Kak, saya udah di lobi ya,” ujar saya dalam telepon.

Saya bertemu Naren, senior saya di kampus. Setelah 3 tahun lebih di Microsoft, Naren kini jadi developer operation manager Nokia. Kami membahas Toresto, aplikasi yang dibuat GITS. Cerita punya cerita, Toresto merupakan aplikasi kedua di dunia yang berbasis peta dari Nokia. Jadilah Toresto dapat kesempatan untuk pamer di CommunicAsia 2011, Singapura.

“Eh, Lo udah ada paspor kan?” tanya Naren.

“Emmm, masih proses, Kak.”
“Saya udah masukin permohonan kemarin, tapi baru disuruh balik Jumat depan,” lanjut saya.

Naren cuek. Dia bilang tiket sudah dibeli. Hotel juga sudah dibook. Rombongan akan berangkat 10 hari lagi. Sekian.

Saya tertunduk. Sampai di GITS, saya minta Ewa bersiap. Kalau paspor terlambat selesai, saya harus rela digantikan yang lain. Yang penting kan Toresto pamer dulu.

***

“Lo bakal nginep Marina Bay Sands cuuy, itu hotel paling keren di Singapur.”

Saya terbayang ucapan Naren malam itu. Sial. Saya toh memang tak rela juga. Dari 5 anak GITS, saya yang belum pernah keluar negeri. Ewa, Ibun, Dudin juga Irfan pernah liburan ke Singapura waktu saya Nugas Akhir dulu.

Mama. Mama pasti bangga kalau saya bisa ke Singapur. Lupa tuntutannya untuk jadi karyawan BUMN atau PNS. Toh, tanpa begitu saya bisa juga ke luar negeri. Gak pake kedok studi banding segala.

Ditambah lagi, Ewa pasti cedera lidah kalau berangkat. Bisa-bisa disana tak ada yang mudheng saat Ewa presentasi Toresto dengan bahasa linggis. Saya harus ikut.

Paginya saya ke kantor imigrasi. Minta dipercepat. Pasalnya, papan petunjuk depan kantor imigrasi jelas tertuliskan aturannya. Setelah permohonan diajukan, pemohon kembali 3 hari kemudian untuk foto. Dan paspor sudah bisa diambil 3 hari setelahnya. Total 6 hari kerja selesai. Kenapa saya butuh 7 hari kerja untuk sampai proses pas foto?

Sampai di meja petugas, saya luluh. Tak sanggup saya debat dengan mbak petugas imigrasi cantik tapi judes itu. Saya tetap harus kembali jumat depannya. H-5 keberangkatan. Tak jamin juga paspor selesai cepat setelah pas foto. Apes.

***

Calo. Penampilannya, tak beda dari orang biasa. Tapi entah kenapa tak sulit membedakan mereka. Mereka seperti punya aura tersendiri yang menandakan dirinya calo.

Saya mengawasi salah satu dari mereka. Saya lihat sekeliling. Tak ada yang perhatikan. Saya mendekat hati-hati. Berbisik.

“Pak bisa bantu saya?”

Rasanya seperti adegan perjanjian dengan iblis di film seri Supernatural. Setiap dosa ada karmanya. Bagaimana jika di bandara nanti, paspor saya ketauan diurus lewat calo. Saya di penjara. Lalu muncul wajah Gayus Tambunan terbayang di kepala saya. Ah tai sapi.

“Gini pak, saya pengen paspornya bisa jadi cepet.”

Calo itu namanya Pak Irgi. Badannya tinggi, kurus. Jangkis dengan polo shirt hitamnya. Umurnya 40an. Mirip sekali Om Aksa, Paman yang sering saya asosiasikan sebagai jenderal Nazi. Galak.

Dia minta saya tulis nama serta alamat. Tak banyak cingcong, dia masuk kantor staf imigirasi. Sepuluh menit, dia kembali. Berkas saya sudah di tangannya. Katanya saya bisa kembali besok untuk foto. Whoa. Super cepat.

“Lima ratus ya, Ray, bawa sekarang duitnya?” Pak Irgi tak memberi kesempatan menawar.

Normalnya pembuatan paspor hanya kena 260 ribu Rupiah. Mungkin 100 untuk orang dalam, sisanya untuk dia. Saya pasrah menyerahkan uang 500 ribu hasil diet makan bulan lalu.

***

Paspor saya selesai hari Selasa. Kalau ditotal hanya butuh 4 hari kerja jika lewat calo. Lebih cepat 2 hari dari cara “seharusnya”.

“Pak Irgi, terima kasih ya ini,” saya menjabat tangannya sebelum berpisah.

“Ah, sama-sama. Saya niatnya selalu cuma pengen bantu orang aja. Nanti kalau ada temen lagi yang mau bikin, kasih tau saya ya,” Pak Irgi tersenyum.

Saya pulang sambil mikir. Kenapa bukan orang macam Pak Irgi saja sih yang jadi petugas imigrasi. Hufff.

Written by ray rizaldy

16 July 11 at 5:57 pm

Posted in raie

Tagged with , , , , ,

terbengkalai

with 6 comments

itu lah yang akan terjadi jika kita – ehm… maksudnya saya – terjebak dalam permainan kata-kata yang terdiri dari 140 karakter saja. keasyikan twitter, blog terlupa. bukan salah twitter. salah saya, yang memang malas.

mungkin saya harus ganti tagline blog ini.

raie. Kribo – penulis malas 🙂

Written by ray rizaldy

19 May 10 at 12:22 am

Posted in raie

Tagged with , ,