kribo

penulis malas

Efek OVJ

with 3 comments

Sore dan hujan. Waktu yang menyenangkan untuk duduk santai di ruang tamu. Saya, Ika dan Hanna, asyik bermain ponsel masing-masing. Ah, teknologi. Kami hanya berjarak tak lebih dari 2 meter. Toh yang kami pilih adalah bersapa dengan kerabat di 200 km lebih di tempat lain. Entah dengan BB Messenger. Whatsapp. Facebook chat. Apalah itu.

Tapi saya tak tahan tiba-tiba. Bau pekat campuran sulfur dan amis telor penuh di hidung saya. Hujan begini memang enak kentut sembarangan. Dan yang sebelumnya baru kelar makan bakso kapal selam isi telor itu cuma satu orang.

“Ika kentut yaaaaa?”

Ika nyengir sebentar lalu pura-pura bloon, “Kok tauu?”

Hanna, yang dari tadi cuma tutup hidung, ikut nimbrung.
“Iya, soalnya bau kentutmu memenuhi hatikuuu..”

Eeaaa..

Advertisements

Written by ray rizaldy

30 January 12 at 10:11 am

Posted in raie

Tagged with , , ,

Macet

with 3 comments

“Kenapa nulis itu bisa susah? Karena semua yang ada di pikiran kita berebut ingin keluar. Coba bayangin pintu kelas itu pas jam pulang. Semua berebutan keluar kelas padahal pintunya cuma selebar itu. Jadinya apa? Macet.”

Begitu Pak Ahmad Hidayatullah menganalogikan, suatu hari di sebuah kelas Bahasa Indonesia. Dia sedang menasihati seorang siswa. Siswa yang sudah diberikannya 10 menit untuk menulis tapi hanya bisa membuat 1 paragraf dengan kurang dari 50 kata.

Dablegnya… siswa yang dinasihati malah nyeletuk, “Apa lagi kalau yang berebutan itu kayak Bapak. Gedhe.”.

Jadilah siswa itu dihukum sepanjang sisa pelajaran sang guru. Dicoretnya jidat siswa itu. Pakai spidol hitam untuk papan tulis, di jidat siswa itu ada coretan bertanda “X” besar. Berasa mirip dajjal. Itu lho makhluk yang sering diceritakan akan datang saat kiamat dan jadi musuh manusia.

 

Sampai sekarang, hampir tak beda. Selama dua bulan, mantan siswa itu cuma bisa bikin 1 tulisan. 1 paragraf. 10 kata. Meh.

Written by ray rizaldy

18 January 12 at 8:18 am

Posted in raie

Tagged with ,

Desember

with 2 comments

Dear Blog,

Dikit lagi ya, akan saya update. Yang banyaaak. 😀

 

Written by ray rizaldy

2 December 11 at 7:47 am

Posted in Uncategorized

Kribo dan Tukang Ojek

with 6 comments

Butuh waktu beberapa detik sebelum bangun dan akhirnya sadar. Pintu tol jatibening, tempat saya biasa turun dari travel Bandung-Jakarta, baru saja lewat di belakang.

“Tadi saya udah tanya, ada yang turun nggak, si masnya nggak nyaut,” ujar sopir travel waktu saya protes.

Malu sendiri. Saya menurut diturunkan di pinggir tol Jatiwaringin. Malam sudah larut, tapi di kejauhan masih ada suara takbir, Idul Adha.

Tak jauh ada pangkalan ojek. Letaknya di perempatan pintu tol dan jembatan Jatiwaringin. Satu bohlam remang jadi penerang disitu. Ada tiga orang lagi berbincang di dalamnya. Tapi cuma dua motor tersedia.

Saya bilang mau ke Jalan Ratna. Semua tukang ojek wilayah ini tau jalan Ratna. Ratna adalah nama seorang dokter kandungan. Dulu Pondok Gede hanyalah padang ilalang luas. Ratna adalah satu-satunya dokter sekaligus bidan yang ada. Mungkin karena jasanya sebagai bidan tunggal, namanya jadi nama jalan.

Jalan Ratna menghubungkan Jalan Raya Pondok Gede dan Jalan Jatibening. Jalan kecil, tapi ramai kendaraan. Tiap pagi pasti macet. Sejak saya SD dulu masih begitu. Kondisi jalan juga parah. Entah kapan jalan ini benar-benar diperbaiki. Jika musim kering, siap-siap debu jalan menerjang. Pengemudi-motor-paling-tidak-taat pun pakai helm full face supaya tidak kelilipan debu. Sebaliknya di musim hujan, genangan lumpur dimana-mana. Sempat beberapa kali warga tanam pohon pisang di tengah genangan jalan. Mereka protes jalannya tidak diperhatikan. Biasanya kalau sudah begitu baru deh turun bala pekerja dari kontraktor untuk tambal sulam aspal.

Eh, kembali ke cerita, tukang ojek pertama pasang harga. Empat puluh ribu untuk saya tumpangi. Gila. Ongkos segitu cukup buat saya kembali ke Bandung naik bis. Saya tawar 20 ribu Rupiah. Dia mundur.

Tukang ojek kedua coba kompetitif. Dia minta 35 ribu. Saya enggan. Saya naik ojek Ratna – Jatiwaringin juga biasanya hanya 20 ribu.

“Lain dong, Dek. Ojek sini ya harganya segitu. Namanya juga daerah rame.”

“Oh, ya mending taksi dong. Banyak taksi lewat nih, paling 15 ribu.”

Tukang ojek mati kutu. Turun jadi 30 ribu Rupiah jadinya. Saya menggeleng, pasang aksi tunggu taksi.

“Dua lima deh, Dek.”

“Dek, dek, ayo deh. Dua puluh deh,” ujarnya kesal. Dia buru-buru turun harga. Di seberang jalan, ada sebuah taksi yang baru menurunkan penumpangnya. Pas.

***

Biasanya saya suka mengobrol dengan tukang ojek tumpangan. Kadang lucu obrolannya. Saya pernah ngojek dengan pemimpin pangkalan. Dia konon bikin sistem member card. Kalau mau narik dari pangkalannya, harus jadi member. Kartu membernya diperbarui tiap bulan dengan bayar 20 ribu Rupiah. Penumpang juga diedukasi. “Jangan mau naik ojek yang ga punya kartu ojek. Bisa jadi orang jahat itu,” katanya.

Ada juga tukang ojek yang nyentrik. Dia mengaku pernah menulis lirik lagunya grup musik Barakatak. Kalau tak tau Barakatak, mereka pernah nyanyi bareng Ayu Ting Ting juga. Kerennya lagi, si tukang ojek bahkan punya video buatannya sendiri di Youtube. Keren.

Pernah juga ngojek pada orang yang ternyata sealamater SD saya, SDN Jatibening. Dia kesal juga karena lapangan bola di depan SD kami kini disulap jadi ruko. Hilang tempat kenangan kami. Tempat kami berolahraga tiap jumat. Tempat kami main benteng tiap istirahat.

Tukang ojek saya malam ini diam. Mungkin kesal karena cuma akan dapat 20 ribu di tujuan nanti. Dia terus tancap gas. Padahal beberapa kali ada mobil dan motor lewat menyebrang. Ugal-ugalan. Kayaknya menunggu kesempatan bilang: “Minta murah aja, masih pengen aman, Lo!”

Saya cuek. Biarlah dia ngebut. Saya mending mengkhayal.

“Greng…Greng…”

Suara berat kendaraan memecah khayalan. Bunyinya mirip “motor gede”. Sayangnya yang lewat, bentuknya berantakan. Motor rakitan, gabungan sepeda, gerobak ditambah mesin Harley Davidson. Sayangnya tak jauh kemudian, si Harley jadi-jadian mogok.  Tidak tahan, saya ngakak. Si bang ojek pun ikut tertawa.

Cair juga suasana. Ojek mulai melambat. Bang ojek berhenti ngambek. Obrolan ngalor-ngidul dimulai. Tidak terlalu seru sih ceritanya. Tapi tak apalah untuk menemani malam.

Obrolan berakhir di depan gang rumah. Saya kasih selembar dua puluh ribuan yang memang sudah siap di kantong. Muka tukang ojek kembali merengut.

“Dek, jauh nih. Udah malem juga. Besok lebaran lagi,” ojek memelas.

Sebenernya kesal juga. Pertama karena dia tidak taat perjanjian, 20 ribu Rupiah. Yang kedua, gara-gara saya masih saja dipanggil “Dek”. Tapi muka merengutnya bikin kasihan. Jadi saya tambahi beberapa lembar ribuan yang sisa di kantong. Mungkin nggak akan pengaruh ke lebarannya besok. Mudah-mudahan saja dia dapat penumpang lagi malam ini yang lebih dermawan. Huff.

Kesimpulan:
–  Jangan ketiduran di travel. Bisa bikin ongkos tambah mahal.
–  Tampang saya masih terlihat muda. Dan ganteng.

Written by ray rizaldy

11 November 11 at 10:20 am

Posted in raie

Tagged with , , , , ,

Kribo, Surabaya dan Dahlan Iskan

with 5 comments

Baru jam setengah 8 pagi, tapi matahari sudah cukup tinggi di Surabaya. Sudut jam tak sebanding dengan sudut matahari. Mungkin karena kota ini berada di ujung sebelah timur wilayah WIB – Waktu Indonesia Barat. Meskipun bedanya hampir 7 derajat bujur timur, waktunya nurut sama Jakarta.

Saya bersama Om Herman baru saja mengantar Ismi, sepupu saya, ke sekolahnya. Saya tinggal sebentar di rumahnya selama di Surabaya. Om Herman supir di rumah Ismi. Setiap hari tugasnya mengantar dan jemput Ismi beserta kakaknya, Difa. Difa sendiri kuliah di Universitas Airlangga.

Sepulang dari mengantar, saya minta tolong untuk diantarkan ke Stasiun Gubeng. Beli tiket kereta pagi tujuan Yogyakarta untuk besok pagi.

Ceritanya saya baru pulang kampung. Seperti tahun lalu, saya menyicil perjalanan dari kampung sampai Bandung dengan mampir ke kota-kota yang terlewat. Jadilah saya bertualang. Backpacking. Meskipun sebenarnya bawa koper, bukan tas punggung atau backpack.

Tahun lalu saya juga sudah ke Surabaya. Saya cuma sempat melihat jembatan Suramadu kala itu. Sebenarnya ingin cerita dan pamer foto tahun lalu. Tapi malas sering menyerang. Lain kali mungkin. Hehe.

Sepulang dari Gubeng, saya ajak Om Herman sarapan. Kami berhenti di sebuah gerobak nasi kuning di pinggiran jalan. Entah apa nama jalannya. Di jalan itu banyak rumah-rumah besar dan mewah berdiri anggun. Kalau di jakarta mungkin mirip kawasan Pondok Indah. Bedanya di Pondok Indah tidak ada yang jual nasi kuning.

Selain nasi kuning, si mas-mas penjaga gerobak juga menjajakan koran. Beberapa koran sudah terserak di meja suguhan. Artinya orang bisa sarapan sambil menikmati berita pagi. Gratis, tanpa harus beli korannya. Saya ambil Jawa Pos, yang memang berada di tumpukan paling atas.

Sebuah kolom opini pagi ini menarik. Letaknya di halaman paling depan bagian atas. Ditulis oleh Direktur Utama PLN. Ulasannya tentang tunggakan listrik di Pekanbaru, Riau. Tak habis pikir, bisa-bisanya daerah kaya seperti Pekanbaru ternyata menunggak listrik. Bla. Bla. Bla.

Sehabisnya nasi kuning, kolomnya Dahlan Iskan juga selesai saya lahap. Om Herman diam saja. Orangnya bukan tipe yang suka ngobrol sepertinya.

Saya lanjutkan baca koran, ke artikel berita di halaman sebelahnya. Tentang pemerkosa di Jakarta yang tertangkap di Sumatera Barat. Aneh ya. Orang itu lebih milih memerkosa lalu jadi buron sampai Sumatera Barat. Mahal mana sih tiket ke sana daripada wanita-wanita yang sering nongkrong di Jalan ABC Bandung. Jadi penasaran. Eh, bukannya saya setuju sama lokalisasi lho. Hanya penasaran saja. Ah, berita konflik seks begitu memang selalu menarik.

Sadar saya selesai menyantap, si mas penjual nasi kuning membuka obrolan.

“Itu mas, berita yang di depan lucu lho, Mas,” ujar mas penjual.

Yang dia maksud adalah kolom opininya Dahlan Iskan yang tadi saya baca. Dia utarakan keheranannya pada daerah-daerah kaya seperti Pekanbaru. Dia bilang harusnya mereka bisa mandiri. Pakai teknologi yang bisa hemat energi jadi listrik bisa bebas subsidi. Tulisan Dahlan Iskan ngelotok betul di kepalanya. Menurutnya, di negeri ini banyak insinyur. Tiap tahun ada saja lulusan teknik yang keluar dari Universitas dan Institut negeri. Masak tidak ada sih yang bisa menyelesaikan problem begini.

“Eh, sekarang malah Pak Dahlan dituduh-tuduh ikut main sama Nazaruddin,” si mas penjual mulai ubah topik.

Nggak mungkin, Mas. Wong pak Dahlan itu udah kaya,” lanjut mas penjual.

Kata dia, Dahlan Iskan itu orang yang sudah kaya. Gajinya sebagai CEO PLN saja tak pernah diambil. Begitu juga mobil dinasnya, tak pernah dipakai. Jadi menurutnya, tak mungkin lah Dahlan Iskan bermain dalam praktek kotor korupsi begitu.

Saya mengangguk saja. Hebat juga ya Dirutnya PLN ini. Sudah punya pendukung yang setia dan mau membela. Mau deh saya, kalau disuruh mama daftar di PLN. 

“Pak Dahlan itu, rumahnya deket sini, Mas?”

Saya tanya begitu. Siapa tau komentarnya hanya karena fanatisme kedaerahan. Skeptis.

“Iya Mas. Kantor pusatnya Jawa Pos kan disini. Dia yang punya itu Jawa Pos.”

“Ooooo…”

Kemana saja saya selama ini. Pantas kolom opininya bisa ada di halaman paling depan. Di bagian paling atas. Memang enak sih, punya media sendiri. Media besar pula. Bisa kapan saja keluarkan opini sendiri. Langsung dibaca orang banyak. Tanpa perlu diedit ketat oleh editor. Tanpa harus debat keras dengan pemimpin redaksi, layak atau tidak berita atau opini untuk dicetak.

Ah, waktunya saya pamit. Lanjut jalan-jalan. Sambil berharap semoga Dahlan Iskan tidak bikin partai. Terus lalu haus publikasi sendiri seperti si pemilik Metro TV.

P.S

Kalau ada yang di Surabaya atau Yogyakarta, colek saya dong. Aw. *murahan*

Written by ray rizaldy

22 September 11 at 5:13 pm

Bisa Lihat Setan

with 7 comments

Seperti biasa di malam-malam liburan lain. Saya bersama keluarga kumpul di kamar orang tua. Ngadem. Karena cuma itu kamar yang suhunya sejuk. Dan sedikit nyamuk.

Ririn, adik saya, sedang sibuk mengepak barang. Liburan sudah akan berakhir. Paginya dia sudah harus kembali ke Jatinangor. Kuliah bersama mahasiswi-mahasiswi UnPad lainnya.

Mama sedang asik mengabelkan kuping. Dia sedang dengar radio Dakta yang isinya ceramah-ceramah. Biasanya ceramah perkawinan. Sesekali mama mencabut kabelnya lalu mengkhayal. Seperti penasaran, lalu dia nyeletuk.

“Ijal, bawa sini dong ceweknya. Kapan nih mama dikenalin? Ririn aja udah.”

“Hmmmmm”

Saya menyahut pendek. Tanda mengiyakan. Tanpa tau akan membawa siapa nanti. Fase setelah lulus selain ditanya pekerjaan, pasti adalah jodoh. Tapi biarlah. Saya pura-pura asyik main game balap mobil yang ada di ponsel. Cuek. Padahal sudah di lap terakhir dan kalah.

Ririn senyum-senyum sendiri di balik kopernya.

“Ka Ijal, mau bisa liat setan ga?” tanya Ririn mengagetkan.

Liat setan?”

Ririn mengeluarkan sesuatu dari kopornya. Ada bulatan dua dan ada talinya. Sebuah bra entah ukuran berapa. Dia menutup matanya dengan dua bulatan bra. Lalu dilingkarkannya pada kepalanya. Membentuk kacamata.

“Nih, bisa liat setan nanti nih,” ujar Ririn.

krik…krik… krik…

Ririn… Ririn… kelakuan masih begitu, berani-beraninya kau melangkahi kakakmu ini. Krik.

Written by ray rizaldy

6 September 11 at 3:08 pm

Posted in raie

Tagged with , ,

Adzan

with 5 comments

Saya kangen adzan. Saya kangen semangat untuk memberi tahu orang lain bahwa sudah waktunya sholat. Bahwa sudah waktunya buka. Bahwa sudah waktunya imsak.

Mundur 8 tahun. Sebuah obrolan di masjid malam itu dengan Marion, membuat saya kepincut adzan. Marion adalah sahabat dekat saya. Kami termasuk geng masjid waktu di sekolah berasrama dulu. Jangan salah. Geng masjid itu kumpulan orang yang kabur tidur di masjid saat jam wajib belajar asrama tiba. Tidur itu lebih nikmat dari belajar. Jelas.

“Ray, bayangin ente adzan, baru dia dengar. Dia jadi bangun shubuh karena ente punya adzan,” ujar Ion.

Yang Ion maksud adalah adik kelas. Wanita pujaan hati. Tentu saja saya terbakar. Semangat. Membayangkan dia sampai di masjid, lalu lihat saya iqomah. Bangga tak ketulungan. Semua juga tau siapa yang adzan, dia yang iqomah. Itu peraturan tak tertulisnya. Memang dasar anak MAN.

***

Di tahun terakhir saya, sekolah mengadakan sebuah kompetisi Ramadhan. Setiap kelas wajib mengirimkan wakil untuk tiap kategori. Sebagai ketua yang baik, saya mempersilahkan kelas memilih utusan untuk semua jenis kompetisi. Semuanya, kecuali satu. Saya absolut jadi utusan lomba Adzan. Hak istimewa ketua kelas.

Kompetisi berjalan. Giliran lomba adzan tiba. Masjid ramai penonton. Saya grogi dan tegang. Jantung berdegup kencang. Tangan gemetaran. Kuping dingin. Tapi “dia” belum kelihatan.

“Kelas tiga be, yang adzan Mohamad Ray Rizaldy!”

Saya berdiri. Beranjak ke tengah masjid yang jadi panggung kompetisi. Saya tutup kuping kanan. Katanya berguna buat jaga kontrol suara. Kuping kiri tetap dibuka. Paling tidak untuk dengar suara saya yang keluar. Bukan suara dalam hati.

“Bismillah…”
“Allahuakbar… Allaaaaauuueeeaaauuookbar”

Hening.

Gebleg. Baru dua kalimat, adzan sudah hancur. Suara melayang entah kemana. Seperti baru naik jet coaster yang sudut luncurnya 80 derajat, berketinggian 100 meter sehingga berkecepatan = akar-kuadrat(2 x percepatan gravitasi x 100) x sinus(80 derajat). Kacau.

Saya minta izin kepada dewan juri untuk mengulang. Adzan diulang sampai habis dengan urat malu yang tersisa.

Usai lomba, saya tertunduk keluar dari masjid. Memang kalau niat salah itu jadinya tidak berkah.

“Ray, kita tadi bicara dengan ustadzah Elly. Dia bilang adzannya ente bagus, Ray, sebenernya.”

Ion coba menghibur. Namun nasi sudah jadi bubur. Malunya sudah kepalang terlanjur. Saya memutuskan pensiun adzan sejak saat itu. Biar saja adik kelas yang giliran berebut pahala.

***

Tapi entah kenapa akhir-akhir ini saya sering galau kalau lihat mic nganggur di masjid. Saya kangen adzan. Harusnya bukan lagi untuk “dia”, tapi untuk Dia.

Written by ray rizaldy

25 August 11 at 7:44 am

Posted in raie

Tagged with ,