kribo

penulis malas

Kribo dan Calo

with 13 comments

Malam itu sudah hampir larut. Masuk ke gedung angkuh itu, terdengar grandpiano dimainkan. Saya tak tau lagu yang dimainkan. Tapi, cukuplah menambah kesan mewah di Hilton malam itu.

“Kak, saya udah di lobi ya,” ujar saya dalam telepon.

Saya bertemu Naren, senior saya di kampus. Setelah 3 tahun lebih di Microsoft, Naren kini jadi developer operation manager Nokia. Kami membahas Toresto, aplikasi yang dibuat GITS. Cerita punya cerita, Toresto merupakan aplikasi kedua di dunia yang berbasis peta dari Nokia. Jadilah Toresto dapat kesempatan untuk pamer di CommunicAsia 2011, Singapura.

“Eh, Lo udah ada paspor kan?” tanya Naren.

“Emmm, masih proses, Kak.”
“Saya udah masukin permohonan kemarin, tapi baru disuruh balik Jumat depan,” lanjut saya.

Naren cuek. Dia bilang tiket sudah dibeli. Hotel juga sudah dibook. Rombongan akan berangkat 10 hari lagi. Sekian.

Saya tertunduk. Sampai di GITS, saya minta Ewa bersiap. Kalau paspor terlambat selesai, saya harus rela digantikan yang lain. Yang penting kan Toresto pamer dulu.

***

“Lo bakal nginep Marina Bay Sands cuuy, itu hotel paling keren di Singapur.”

Saya terbayang ucapan Naren malam itu. Sial. Saya toh memang tak rela juga. Dari 5 anak GITS, saya yang belum pernah keluar negeri. Ewa, Ibun, Dudin juga Irfan pernah liburan ke Singapura waktu saya Nugas Akhir dulu.

Mama. Mama pasti bangga kalau saya bisa ke Singapur. Lupa tuntutannya untuk jadi karyawan BUMN atau PNS. Toh, tanpa begitu saya bisa juga ke luar negeri. Gak pake kedok studi banding segala.

Ditambah lagi, Ewa pasti cedera lidah kalau berangkat. Bisa-bisa disana tak ada yang mudheng saat Ewa presentasi Toresto dengan bahasa linggis. Saya harus ikut.

Paginya saya ke kantor imigrasi. Minta dipercepat. Pasalnya, papan petunjuk depan kantor imigrasi jelas tertuliskan aturannya. Setelah permohonan diajukan, pemohon kembali 3 hari kemudian untuk foto. Dan paspor sudah bisa diambil 3 hari setelahnya. Total 6 hari kerja selesai. Kenapa saya butuh 7 hari kerja untuk sampai proses pas foto?

Sampai di meja petugas, saya luluh. Tak sanggup saya debat dengan mbak petugas imigrasi cantik tapi judes itu. Saya tetap harus kembali jumat depannya. H-5 keberangkatan. Tak jamin juga paspor selesai cepat setelah pas foto. Apes.

***

Calo. Penampilannya, tak beda dari orang biasa. Tapi entah kenapa tak sulit membedakan mereka. Mereka seperti punya aura tersendiri yang menandakan dirinya calo.

Saya mengawasi salah satu dari mereka. Saya lihat sekeliling. Tak ada yang perhatikan. Saya mendekat hati-hati. Berbisik.

“Pak bisa bantu saya?”

Rasanya seperti adegan perjanjian dengan iblis di film seri Supernatural. Setiap dosa ada karmanya. Bagaimana jika di bandara nanti, paspor saya ketauan diurus lewat calo. Saya di penjara. Lalu muncul wajah Gayus Tambunan terbayang di kepala saya. Ah tai sapi.

“Gini pak, saya pengen paspornya bisa jadi cepet.”

Calo itu namanya Pak Irgi. Badannya tinggi, kurus. Jangkis dengan polo shirt hitamnya. Umurnya 40an. Mirip sekali Om Aksa, Paman yang sering saya asosiasikan sebagai jenderal Nazi. Galak.

Dia minta saya tulis nama serta alamat. Tak banyak cingcong, dia masuk kantor staf imigirasi. Sepuluh menit, dia kembali. Berkas saya sudah di tangannya. Katanya saya bisa kembali besok untuk foto. Whoa. Super cepat.

“Lima ratus ya, Ray, bawa sekarang duitnya?” Pak Irgi tak memberi kesempatan menawar.

Normalnya pembuatan paspor hanya kena 260 ribu Rupiah. Mungkin 100 untuk orang dalam, sisanya untuk dia. Saya pasrah menyerahkan uang 500 ribu hasil diet makan bulan lalu.

***

Paspor saya selesai hari Selasa. Kalau ditotal hanya butuh 4 hari kerja jika lewat calo. Lebih cepat 2 hari dari cara “seharusnya”.

“Pak Irgi, terima kasih ya ini,” saya menjabat tangannya sebelum berpisah.

“Ah, sama-sama. Saya niatnya selalu cuma pengen bantu orang aja. Nanti kalau ada temen lagi yang mau bikin, kasih tau saya ya,” Pak Irgi tersenyum.

Saya pulang sambil mikir. Kenapa bukan orang macam Pak Irgi saja sih yang jadi petugas imigrasi. Hufff.

Advertisements

Written by ray rizaldy

16 July 11 at 5:57 pm

Posted in raie

Tagged with , , , , ,

13 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. ckckckck… gutlak di SIngapurnya ^^

    reiSHA

    16 July 11 at 6:08 pm

  2. Keren sekali! Cerita-cerita ya Ray nanti 🙂

    Batari

    16 July 11 at 11:18 pm

  3. Can we expect the next blog entry will be titled “Kribo and Merlion”? 🙂

    ikram

    17 July 11 at 10:20 am

  4. @reisha: hehehe, tengkyu sha. udah balik kok. baru ditulis aja. 😀

    @batari: siaaap bat.

    @ikram: well i don’t about the title, yet. but it should be about that. hehe

    ray rizaldy

    17 July 11 at 4:58 pm

  5. hehe kenapa ya orang tua suka bangga kalo anaknya ke luar negeri…
    kenapa petugas imigrasi bukan orang kayak pak irgi? yah itulah “menariknya” birokrasi ray 🙂

    anis

    18 July 11 at 4:38 pm

  6. dan oleh” pun tidak sempat dibeli :((

    sebagai gantinya, hayu qta ke Trans Studiooo tea..

    uismangan

    18 July 11 at 11:21 pm

  7. whoaa.. ke singapur buat presentasi toresto tah,
    kirain liburan..
    dewaa..
    😀

    ane ngurus paspor di pekanbaru 3 minggu.
    ngurus ktp bandung (pake surat pindah dr pekanbaru) 1 bulan.
    klo ga lewat calo emang lama.

    uchenk

    23 July 11 at 11:16 am

  8. (worship) semoga sukses dengan Toresto nya 😀

    ghifar

    29 July 11 at 2:50 pm

  9. Bukankah pemberi suap dan penerima suap ikut berdosa? Ray, jangan korbankan idealismemu.

    Rinaldi Munir

    4 August 11 at 9:56 am

  10. ihhhh kamyuuu kenapaa masih pake calo?
    kan bisa tuh urus by online, lebih cepet..
    *purapuralupaingetankalopasporkujugadiurusCALO hahahahaha

    ratutebu

    6 August 11 at 8:19 am

  11. iwiiiiww… kereen deh lo Ray!

    Yasmin

    19 August 11 at 3:35 pm

  12. @anis: hehe, ga tau nis. mungkin untuk dipamerin ke tetangga 🙂

    @uis: #eaaa hahaha

    @uchenk:
    ga bisa liburan disana chenk. cuma di hotel sama di ruang expo T_T
    nah kan, emang aneh. padahal harusnya cuma 6 hari bikinnya. itu tertulis di depan kantornya lho aturannya.

    @ghifar: thank yiu pak dosen. 😀

    ray rizaldy

    26 August 11 at 1:10 pm

  13. @Pak Rin:
    sebenernya daku juga bingung Pak. disana harusnya sudah ada peraturannya, yang kemudian dijadikan SOP. SOPnya sendiri sudah tertulis di depan kantor imigrasi. tapi semuanya tidak dilaksanakan. dan orang terpaksa harus mencari cara lain (yang tidak halal).
    daku pasti kena dosanya jg. tapi mereka harusnya dosanya dua kali lipat karena lalai aturan. 😀

    @ratutebu:
    hahaha, dasaaar :p. daku awalnya nyoba ngurus online, udah ngaplot2, eh, katanya tetep harus ngisi formulir tertulisnya.
    —>> artinya form onlinenya cuma buat gaya2an doang.

    @yasmin: *blushing* jadi boleh nih, min? #eaaa

    ray rizaldy

    26 August 11 at 1:23 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: