kribo

penulis malas

Posts Tagged ‘jakarta

Jakarta Pagi Ini #2

with one comment

Saya suka libur pagi di Jakarta. Saat Mobil-mobil masih lelah untuk teriak melalui corong klaksonnya. Saat pasukan motor bersorban masih berdzikir usai majelisnya semalem.

Saya mengagumi Jakarta di pagi hari saat tanggal merah. Ketika sisa-sisa knalpot menjelma jadi kabut pagi, persis di puncak gunung. Ketika mentari menyeruak masuk melalui celah pepohonan. Membentuk garis-garis indah cahaya.

Ah, saya cinta Jakarta. Hanya di hari libur. Dan hanya di pagi hari.

Written by ray rizaldy

3 June 12 at 10:47 pm

Posted in raie

Tagged with , , ,

The Traveller’s Tale #3

with 12 comments

Pagi ini seperti pagi lainnya di Jakarta. Macet. Saya terjebak dalam mobil travel bersama Ibun. Rencananya kami bertemu dengan klien jam 10 pagi di daerah Semanggi Jakarta. Tapi seperti yang terjadi di pagi-pagi yang lain, kami berdua terlambat bangun. Travel keberangkatan 6.30 yang  sudah dipesan sebelumnya jelas terlalu pagi untuk saya dan Ibun.

Di pagi yang sudah tidak buta, motor tanpa remnya Ibun dikebut. Target: travel keberangkatan 7.45 arah Pancoran. Berhasil. Kami sampai tepat waktu di Cihampelas. Tepat 15 menit setelah mobil ke arah Pancoran itu berangkat. Terbayang kan, jam berapa kami baru berangkat. Haha.

Inisiatif. Kami ke Pasteur. Nama “menit terakhir” memang cocok sekali dengan travel ini. Kami dapat jatah bangku belakang, semenit sebelum mobil keberangkatan Blora itu beranjak meninggalkan Bandung.

Rezeki memang tak kemana. Dua bangku di tengah masih kosong. Plus lagi ada makhluk berjenis kelamin wanita mirip Putri Titian di ujung bangku sana.

Dan disinilah saya. Terjebak. Di kiri saya ada Ibun. Di kanan ada Putri Titian dengan opacity 70%. Ibun seperti yang sudah pernah saya tulis disini, adalah orang yang suka pamer. Kenalan sama cewek, pamer. Dicurhatin cewek, pamer. Jalan sama cewek, beuh… apalagi. Cuma diputusin pacar saja yang dia tidak pamer. Saya ingin lihat aksi realnya. Ibaratnya belajar on the spot dari sang ahli.

Mengecewakan. Ibun cuma duduk manis menghadap gadgetnya. Mungkin segala pamer tentang wanita yang diceritakannya cuma fiktif. Sebenarnya dia mengidap Schizophrenia.

On the spot learning: failed.

Putri Titian ada di sebelah kanan. Duduk. Tapi tak tenang. Sejak memasuki pintu Tol Jatibening, dirinya gelisah. Mungkin janji dengan seseorang. Dua kali dalam semenit dia menegakkan duduknya. Melihat ke jendela. Melihat pergelangan yang tak ada jamnya. Buka tas, lalu lihat jam di ponselnya. Lalu rebah lagi di senderan bangku. Tegak lagi, lihat jendela, lihat jam tangan fiktif, lihat ponsel, rebah. Terus begitu.

Bayangkan dari pintu Tol Jatibening sampai ke poll travel paling tidak butuh 45 menit. Putri Titian melakukan ritual gelisahnya 2 kali per 1 menit. Berarti dalam perjalanan perjalanan itu Titian tegak-rebah-tegak-rebah sebanyak 90 kali. (eh eh.. sudah… sudah… cukup kalkulusnya).

Hmmm.. berpikir positif, mungkin dia ingin saya yang ada di sebelahnya ini menyapa.

“Buru-buru ya, Mbak?”
“Hehe… Sebenernya gak tau jalan nih”
“Mau turun dimana?”
“Kalau mau ke Plasa Senayan, turunnya dimana ya, Mas?”
“bla… bla… bla…”

Oh itu tidak terjadi. Percakapan itu hanya terjadi di kepala saya saja. Tapi saya bukan Schizophrenia. Tenang saja.

Putri Titian semakin menjadi gelisahnya. Dia menggerutu sendiri sambil menatap kemacetan dari jendela. Tangannya memegang bangku depan bagai penumpang pesawat di serial Air Crash Investigationnya National Geographic. Keningnya berkeringat.

Oh ya, saya tau gelagat ini. Saya pernah melihat yang serupa dalam perjalanan lain. Pengalaman saya menyimpulkan waktu ini bukan waktu yang bagus untuk memulai obrolan “buru-buru ya, mbak?” Bisa-bisa dilempar dari patung Pancoran saya.

**

Travel sudah sampai di persimpangan Blora-Sudirman saat itu. Ponsel Putri Titian berdering.

“HALLO…,” Dia menerima teleponnya sedikit berteriak.

“IYA MAMAH… MACET NIH DARI TADI.”

“ARGHHH… IYAAA TAU NIH.. MANA KEBELET PIPIS LAGI DARI TADI. GRHHH”

Saya dan Ibun saling tatap. Ibun nyengir. Saya senyum kecut. Salah tebak, saya kira dia kebelet beol. Duh.

Written by ray rizaldy

28 January 11 at 4:20 pm

Jakarta Pagi Ini (Ceritanya Berita Foto)

with 16 comments

After Beach Party

After Beach Party

Sampah berserakan di pinggir pantai sekitar Ancol. Sampah ini merupakan buangan pengunjung-pengunjung yang memadati pantai sejak Rabu sore lalu. Mereka beramai-ramai merayakan datangnya tahun baru 2009.

***

Jakarta, 2009

Jakarta, 2009

Habis dijejali ribuan pengunjung, Panggung Karnaval berubah jadi lautan sampah. Malamnya pengunjung merayakan pesta pergantian tahun sambil dihibur oleh beberapa artis. Pesta juga dihadiri oleh Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo, yang memimpin hitung mundur menuju 2009.

***

Berdua Sampai Pagi

Berdua Sampai Pagi

Meski dikelilingi sampah, sepasang muda-mudi terlihat mesra tidur berdua di sekitar pantai Karnaval, Ancol. Mereka adalah salah satu pengunjung yang sejak malam mengikuti pesta pergantian tahun di pantai Karnaval ini.

Written by ray rizaldy

1 January 09 at 8:59 pm

Posted in raie

Tagged with , , , ,