kribo

penulis malas

In Memoriam: Ujang Hasanudin

with 4 comments

Saya baru tiba dari Jogja malam itu. Waktu sudah pukul setengah 7. Bandung masih terang. Jingga kemerahan langitnya. Sejak sore langit memang sedang aneh. Hujan tapi tak mendung. Terik.

Tak butuh waktu lama untuk terlelap. Usai maghrib saya ngobrol sebentar dengan pacar lewat telepon. Linu duduk 8 jam di kereta. Saya tidur tanpa pamit. Mengacuhkan celotehnya di ujung telepon sana.

 

Pukul 12 malam. Saya terkaget dari tidur. Marion menelpon rupanya.

“Ray… Ente pe guru asuh meninggal. Pak Ujang akan dikirim ke Garut. Dikubur disana,” ujar Marion.

Lemas.

***

Pengumuman guru asuh di Insan Cendekia itu tidak mewah. Di hari pertama kami, para siswa baru, harus mencari di sebelah mana nama kami tertulis di kantin. Seperti main puzzle saja.

Meja makan ke-2 dari pintu dan serambi kantin. Di kertas di atas meja itu, nama saya tertulis. Di kertas yang sama tercantum juga “Guru asuh: Ujang Hasanudin”.

Saya duduk bersama Syamsir, anak kelas 1A. Ada dua orang siswi lagi datang. Masing-masing mengenalkan diri. Kak Hanan dari kelas 3B dan Kak Dini dari kelas 3A. Ada satu nama lagi yang tidak hadir, “Syamsu Rizal Paneo”. Di kemudian hari kami memanggilnya Kak Cacu, dari kelas 3C. Dengan duduk di meja tersebut, kami didaulat sebagai saudara asuh satu sama lain. Saudara asuh ibaratnya pengganti saudara kandung. Teman cerita. Curhat. Main. Tapi tanpa main hati.

Pak Ujang, panggilan guru asuh kami, datang belakangan. Menurut cerita senior di asrama, ada 3 guru yang galaknya melegenda. Mereka dikenal dengan sebutan USA. Inisial 3 guru tersebut: Pak Ujang, Pak Syarif, dan Pak Ahmad. Tapi Pak Ujang jauh dari kesan yang diceritakan. Perawakannya mengingatkan pada Unang, personil grup lawak Bagito. Beliau datang dengan senyum lebar. Di kepalanya sudah tersimpan nasihat-nasihat untuk saya dan Syamsir, yang sepanjang makan siang itu diceritakannya dengan gaya banyolan. Saya yang tadinya berniat jaim, takut kena efek galaknya, malah batal. Makan siang pertama itu berakhir dengan ceria dan Ikan jatah Kak Cacu selamat di perut saya.

***

Pak Ujang adalah guru Fiqih. Ilmu tentang aturan ibadah. Kecuali ujian, kelas Pak Ujang itu paling ditunggu. Dibanding pelajaran lain, Fiqih adalah penyegaran. Ada saja kelucuan terjadi di kelasnya saat mencontohkan hukum ibadah. Tentang haji dan gelarnya di Indonesia. Kenapa tidak ada orang bergelar Sholat, Zakat atau puasa di depan namanya. Padahal sama-sama rukun islam. Tentang sholat yang panjang dan konsentrasi. Bagaimana orang yang lama sholatnya bisa saja karena melamun atau lupa sudah rakaat berapa. Tentang nikah itu ujung-ujungnya kelamin. Kalau tak ada hukum nikah, coba tiap hari saja ketemu Agnes Monica. Seru. Rugi rasanya keluar kelas Pak Ujang tanpa tertawa.

Fiqih ajaran Pak Ujang simpel. Tak ribet aturan. Beliau sendiri seorang kidal natural. Meskipun ada saja yang mendalilkan kebaikan itu di kanan. Konon, kecuali cebok dan masuk toilet, semua harus pakai kanan. Tapi dia percaya bahwa aturan ibadah itu tidak menyusahkan. Jadi Islam harusnya tidak susah. Jangan orang baru belajar ibadah sudah dibilang bid’ah. Kapan majunya?

Waktu berlalu di asrama. Sebagaimana saudara asuh, Pak Ujang juga jadi pengganti ayah di sekolah. Pak Ujang adalah guru yang paling dekat dengan kami, anak asuhnya. Jika anak asuhnya bermasalah dengan pelajaran, beliau mampu menjelaskan mudahnya pelajaran tersebut. Jabatan boleh guru Fiqih. Wajah boleh Sunda. Tapi otaknya secepat shinkansen Jepang. Pak Ujang mahir menjabarkan Hukum Gravitasi Newton. Terampil pula menghitung aritmatika pangkat-n. Saya sering heran kenapa manusia sejenius dirinya memilih karir jadi guru Fiqih.

Pun begitu jika anak asuhnya sedang galau hati. Pak Ujang bukan guru yang anti siswa kasmaran. Entah dia dapat info darimana saya sedang “pendekatan” ke adik kelas. Sampai akhirnya Suatu kali, Pak Ujang memodifikasi pelajaran hari itu.

“Hari ini kita perlu buka lagi buku kelas 1. Tadi pagi saya dari 1A. Pinjem buku dulu aja sama mereka,” ujar Pak Ujang sambil nyengir.

“Ray… Kamu juga boleh pinjam Latifaturrahmah,” lanjutnya. Merujuk ke junior cantik si jago kaligrafi yang saya taksir.

Beberapa minggu kemudian. Seperti biasa. Saya patah liver. Pak Ujang balik menghibur, “Anak saya hebat-hebat. Yang boleh sama anak saya harus yang hebat juga.”

***

Enam tahun sudah terlewat sejak saya lulus. Tak ada yang menyangka beliau pergi secepat ini. Belum ada sesuatu yang saya bisa banggakan kepadanya. Prestasi. Posisi. Apalagi materi. Belum juga sempat saya pamerkan kepadanya wanita hebat yang dulu dikatakannya.

Tapi sore kemarin sesampainya di Garut, Pak Ujang sudah kaku. Sore itu kembali jingga seperti sore sebelumnya. Sendu. Keluarganya biasa penuh tawa kini hujan air mata. Saya ikut mengiringi jenazah beliau hingga di liangnya. Ini kali pertama saya ikut dalam prosesi penguburan. Aneh rasanya mempraktekan ilmu fiqih jenazah pertama kalinya. Justru kepada orang yang dulu mengajarkannya.

Selamat tinggal, Pak Ujang. Guru sekaligus ayah yang penuh canda dan perhatian.

Terima kasih.

Advertisements

Written by ray rizaldy

9 February 12 at 8:22 am

Posted in raie

Tagged with

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Turut berduka cita ya, Ray.

    Batari

    9 February 12 at 10:45 am

  2. Ah.. Ray.. sekalinya update meuni sedih-sedih. Orang hebat ya.. turut berduka Rai…

    pssst.. udah pacaran?

    capcaibakar

    9 February 12 at 12:13 pm

  3. thanks, bat, iyra.

    @iyra: hmmm. begitulah. tapi sayangnya, blm sempat ditulis di blog ini.

    ray rizaldy

    13 February 12 at 10:52 am

  4. Turut berduka,Ray..

    Btw, ‘mengacuhkan’ = ‘peduli’ lho..

    dini ayudia

    13 March 12 at 3:09 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: