kribo

penulis malas

Kribo dan Tukang Ojek

with 6 comments

Butuh waktu beberapa detik sebelum bangun dan akhirnya sadar. Pintu tol jatibening, tempat saya biasa turun dari travel Bandung-Jakarta, baru saja lewat di belakang.

“Tadi saya udah tanya, ada yang turun nggak, si masnya nggak nyaut,” ujar sopir travel waktu saya protes.

Malu sendiri. Saya menurut diturunkan di pinggir tol Jatiwaringin. Malam sudah larut, tapi di kejauhan masih ada suara takbir, Idul Adha.

Tak jauh ada pangkalan ojek. Letaknya di perempatan pintu tol dan jembatan Jatiwaringin. Satu bohlam remang jadi penerang disitu. Ada tiga orang lagi berbincang di dalamnya. Tapi cuma dua motor tersedia.

Saya bilang mau ke Jalan Ratna. Semua tukang ojek wilayah ini tau jalan Ratna. Ratna adalah nama seorang dokter kandungan. Dulu Pondok Gede hanyalah padang ilalang luas. Ratna adalah satu-satunya dokter sekaligus bidan yang ada. Mungkin karena jasanya sebagai bidan tunggal, namanya jadi nama jalan.

Jalan Ratna menghubungkan Jalan Raya Pondok Gede dan Jalan Jatibening. Jalan kecil, tapi ramai kendaraan. Tiap pagi pasti macet. Sejak saya SD dulu masih begitu. Kondisi jalan juga parah. Entah kapan jalan ini benar-benar diperbaiki. Jika musim kering, siap-siap debu jalan menerjang. Pengemudi-motor-paling-tidak-taat pun pakai helm full face supaya tidak kelilipan debu. Sebaliknya di musim hujan, genangan lumpur dimana-mana. Sempat beberapa kali warga tanam pohon pisang di tengah genangan jalan. Mereka protes jalannya tidak diperhatikan. Biasanya kalau sudah begitu baru deh turun bala pekerja dari kontraktor untuk tambal sulam aspal.

Eh, kembali ke cerita, tukang ojek pertama pasang harga. Empat puluh ribu untuk saya tumpangi. Gila. Ongkos segitu cukup buat saya kembali ke Bandung naik bis. Saya tawar 20 ribu Rupiah. Dia mundur.

Tukang ojek kedua coba kompetitif. Dia minta 35 ribu. Saya enggan. Saya naik ojek Ratna – Jatiwaringin juga biasanya hanya 20 ribu.

“Lain dong, Dek. Ojek sini ya harganya segitu. Namanya juga daerah rame.”

“Oh, ya mending taksi dong. Banyak taksi lewat nih, paling 15 ribu.”

Tukang ojek mati kutu. Turun jadi 30 ribu Rupiah jadinya. Saya menggeleng, pasang aksi tunggu taksi.

“Dua lima deh, Dek.”

“Dek, dek, ayo deh. Dua puluh deh,” ujarnya kesal. Dia buru-buru turun harga. Di seberang jalan, ada sebuah taksi yang baru menurunkan penumpangnya. Pas.

***

Biasanya saya suka mengobrol dengan tukang ojek tumpangan. Kadang lucu obrolannya. Saya pernah ngojek dengan pemimpin pangkalan. Dia konon bikin sistem member card. Kalau mau narik dari pangkalannya, harus jadi member. Kartu membernya diperbarui tiap bulan dengan bayar 20 ribu Rupiah. Penumpang juga diedukasi. “Jangan mau naik ojek yang ga punya kartu ojek. Bisa jadi orang jahat itu,” katanya.

Ada juga tukang ojek yang nyentrik. Dia mengaku pernah menulis lirik lagunya grup musik Barakatak. Kalau tak tau Barakatak, mereka pernah nyanyi bareng Ayu Ting Ting juga. Kerennya lagi, si tukang ojek bahkan punya video buatannya sendiri di Youtube. Keren.

Pernah juga ngojek pada orang yang ternyata sealamater SD saya, SDN Jatibening. Dia kesal juga karena lapangan bola di depan SD kami kini disulap jadi ruko. Hilang tempat kenangan kami. Tempat kami berolahraga tiap jumat. Tempat kami main benteng tiap istirahat.

Tukang ojek saya malam ini diam. Mungkin kesal karena cuma akan dapat 20 ribu di tujuan nanti. Dia terus tancap gas. Padahal beberapa kali ada mobil dan motor lewat menyebrang. Ugal-ugalan. Kayaknya menunggu kesempatan bilang: “Minta murah aja, masih pengen aman, Lo!”

Saya cuek. Biarlah dia ngebut. Saya mending mengkhayal.

“Greng…Greng…”

Suara berat kendaraan memecah khayalan. Bunyinya mirip “motor gede”. Sayangnya yang lewat, bentuknya berantakan. Motor rakitan, gabungan sepeda, gerobak ditambah mesin Harley Davidson. Sayangnya tak jauh kemudian, si Harley jadi-jadian mogok.  Tidak tahan, saya ngakak. Si bang ojek pun ikut tertawa.

Cair juga suasana. Ojek mulai melambat. Bang ojek berhenti ngambek. Obrolan ngalor-ngidul dimulai. Tidak terlalu seru sih ceritanya. Tapi tak apalah untuk menemani malam.

Obrolan berakhir di depan gang rumah. Saya kasih selembar dua puluh ribuan yang memang sudah siap di kantong. Muka tukang ojek kembali merengut.

“Dek, jauh nih. Udah malem juga. Besok lebaran lagi,” ojek memelas.

Sebenernya kesal juga. Pertama karena dia tidak taat perjanjian, 20 ribu Rupiah. Yang kedua, gara-gara saya masih saja dipanggil “Dek”. Tapi muka merengutnya bikin kasihan. Jadi saya tambahi beberapa lembar ribuan yang sisa di kantong. Mungkin nggak akan pengaruh ke lebarannya besok. Mudah-mudahan saja dia dapat penumpang lagi malam ini yang lebih dermawan. Huff.

Kesimpulan:
–  Jangan ketiduran di travel. Bisa bikin ongkos tambah mahal.
–  Tampang saya masih terlihat muda. Dan ganteng.

Advertisements

Written by ray rizaldy

11 November 11 at 10:20 am

Posted in raie

Tagged with , , , , ,

6 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Dan ganteng.

    (gue bantu ulang, Ray, penekanan)

    batari

    11 November 11 at 10:48 am

  2. Tampang saya masih terlihat muda. Dan ganteng.

    Ray.. waktu naik ojek ga jatuh kan? Kepalanya ga kebentur?

    capcaibakar

    11 November 11 at 1:00 pm

  3. hahaha, dan semua komennya tertuju kepada paragraf terakhir. :))

    ray rizaldy

    12 November 11 at 9:39 am

  4. Dan gan.
    (mengikuti Batari, tanpa pengulangan sempurna)

    Nadya

    14 November 11 at 5:20 am

  5. melanjutkan comment diatas

    teng…. teng.. teng.. boa! boa! boa! teng.. teng.. teng..
    boa! teng..

    lemmot1me

    27 November 11 at 1:15 pm

  6. itu karena gelap aja re, buktinya pak supir travel masih manggil mas
    😆
    (ga terima ada orang awet muda)

    uchenk

    1 December 11 at 7:07 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: