kribo

penulis malas

Kribo, Surabaya dan Dahlan Iskan

with 5 comments

Baru jam setengah 8 pagi, tapi matahari sudah cukup tinggi di Surabaya. Sudut jam tak sebanding dengan sudut matahari. Mungkin karena kota ini berada di ujung sebelah timur wilayah WIB – Waktu Indonesia Barat. Meskipun bedanya hampir 7 derajat bujur timur, waktunya nurut sama Jakarta.

Saya bersama Om Herman baru saja mengantar Ismi, sepupu saya, ke sekolahnya. Saya tinggal sebentar di rumahnya selama di Surabaya. Om Herman supir di rumah Ismi. Setiap hari tugasnya mengantar dan jemput Ismi beserta kakaknya, Difa. Difa sendiri kuliah di Universitas Airlangga.

Sepulang dari mengantar, saya minta tolong untuk diantarkan ke Stasiun Gubeng. Beli tiket kereta pagi tujuan Yogyakarta untuk besok pagi.

Ceritanya saya baru pulang kampung. Seperti tahun lalu, saya menyicil perjalanan dari kampung sampai Bandung dengan mampir ke kota-kota yang terlewat. Jadilah saya bertualang. Backpacking. Meskipun sebenarnya bawa koper, bukan tas punggung atau backpack.

Tahun lalu saya juga sudah ke Surabaya. Saya cuma sempat melihat jembatan Suramadu kala itu. Sebenarnya ingin cerita dan pamer foto tahun lalu. Tapi malas sering menyerang. Lain kali mungkin. Hehe.

Sepulang dari Gubeng, saya ajak Om Herman sarapan. Kami berhenti di sebuah gerobak nasi kuning di pinggiran jalan. Entah apa nama jalannya. Di jalan itu banyak rumah-rumah besar dan mewah berdiri anggun. Kalau di jakarta mungkin mirip kawasan Pondok Indah. Bedanya di Pondok Indah tidak ada yang jual nasi kuning.

Selain nasi kuning, si mas-mas penjaga gerobak juga menjajakan koran. Beberapa koran sudah terserak di meja suguhan. Artinya orang bisa sarapan sambil menikmati berita pagi. Gratis, tanpa harus beli korannya. Saya ambil Jawa Pos, yang memang berada di tumpukan paling atas.

Sebuah kolom opini pagi ini menarik. Letaknya di halaman paling depan bagian atas. Ditulis oleh Direktur Utama PLN. Ulasannya tentang tunggakan listrik di Pekanbaru, Riau. Tak habis pikir, bisa-bisanya daerah kaya seperti Pekanbaru ternyata menunggak listrik. Bla. Bla. Bla.

Sehabisnya nasi kuning, kolomnya Dahlan Iskan juga selesai saya lahap. Om Herman diam saja. Orangnya bukan tipe yang suka ngobrol sepertinya.

Saya lanjutkan baca koran, ke artikel berita di halaman sebelahnya. Tentang pemerkosa di Jakarta yang tertangkap di Sumatera Barat. Aneh ya. Orang itu lebih milih memerkosa lalu jadi buron sampai Sumatera Barat. Mahal mana sih tiket ke sana daripada wanita-wanita yang sering nongkrong di Jalan ABC Bandung. Jadi penasaran. Eh, bukannya saya setuju sama lokalisasi lho. Hanya penasaran saja. Ah, berita konflik seks begitu memang selalu menarik.

Sadar saya selesai menyantap, si mas penjual nasi kuning membuka obrolan.

“Itu mas, berita yang di depan lucu lho, Mas,” ujar mas penjual.

Yang dia maksud adalah kolom opininya Dahlan Iskan yang tadi saya baca. Dia utarakan keheranannya pada daerah-daerah kaya seperti Pekanbaru. Dia bilang harusnya mereka bisa mandiri. Pakai teknologi yang bisa hemat energi jadi listrik bisa bebas subsidi. Tulisan Dahlan Iskan ngelotok betul di kepalanya. Menurutnya, di negeri ini banyak insinyur. Tiap tahun ada saja lulusan teknik yang keluar dari Universitas dan Institut negeri. Masak tidak ada sih yang bisa menyelesaikan problem begini.

“Eh, sekarang malah Pak Dahlan dituduh-tuduh ikut main sama Nazaruddin,” si mas penjual mulai ubah topik.

Nggak mungkin, Mas. Wong pak Dahlan itu udah kaya,” lanjut mas penjual.

Kata dia, Dahlan Iskan itu orang yang sudah kaya. Gajinya sebagai CEO PLN saja tak pernah diambil. Begitu juga mobil dinasnya, tak pernah dipakai. Jadi menurutnya, tak mungkin lah Dahlan Iskan bermain dalam praktek kotor korupsi begitu.

Saya mengangguk saja. Hebat juga ya Dirutnya PLN ini. Sudah punya pendukung yang setia dan mau membela. Mau deh saya, kalau disuruh mama daftar di PLN. 

“Pak Dahlan itu, rumahnya deket sini, Mas?”

Saya tanya begitu. Siapa tau komentarnya hanya karena fanatisme kedaerahan. Skeptis.

“Iya Mas. Kantor pusatnya Jawa Pos kan disini. Dia yang punya itu Jawa Pos.”

“Ooooo…”

Kemana saja saya selama ini. Pantas kolom opininya bisa ada di halaman paling depan. Di bagian paling atas. Memang enak sih, punya media sendiri. Media besar pula. Bisa kapan saja keluarkan opini sendiri. Langsung dibaca orang banyak. Tanpa perlu diedit ketat oleh editor. Tanpa harus debat keras dengan pemimpin redaksi, layak atau tidak berita atau opini untuk dicetak.

Ah, waktunya saya pamit. Lanjut jalan-jalan. Sambil berharap semoga Dahlan Iskan tidak bikin partai. Terus lalu haus publikasi sendiri seperti si pemilik Metro TV.

P.S

Kalau ada yang di Surabaya atau Yogyakarta, colek saya dong. Aw. *murahan*

Advertisements

Written by ray rizaldy

22 September 11 at 5:13 pm

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ih raie komen lu soal pemorkasaan itu cerdas! Bikin tehnologi hemat listrik gih. #ganyambung

    capcaibakar

    22 September 11 at 6:46 pm

  2. Sudah makan Ayam Pemuda di Surabaya, belum? Enak banget, harus coba Ray.
    *penting*

    Batari

    23 September 11 at 8:07 am

  3. @capcai: hmmmm.. Hemat listrik pake pembangkit listrik tenaga pemrkosaan? #ngasal

    @batari: waa, padahal kmrn jalan2 ke pemuda. Tp malah ditawari buat makan tahu teck teck surabaya.

    Ray Rizaldy

    24 September 11 at 6:15 am

  4. salah satu alasan DI dipilih jadi dirut PLN ya karena dia punya media ray 🙂

    jofa

    24 September 11 at 2:51 pm

  5. dan ternyata sekarang Dahlan Iskan diangkat jadi menteri. hohoho.
    seru nih

    ray rizaldy

    21 October 11 at 1:54 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: