kribo

penulis malas

Adzan

with 5 comments

Saya kangen adzan. Saya kangen semangat untuk memberi tahu orang lain bahwa sudah waktunya sholat. Bahwa sudah waktunya buka. Bahwa sudah waktunya imsak.

Mundur 8 tahun. Sebuah obrolan di masjid malam itu dengan Marion, membuat saya kepincut adzan. Marion adalah sahabat dekat saya. Kami termasuk geng masjid waktu di sekolah berasrama dulu. Jangan salah. Geng masjid itu kumpulan orang yang kabur tidur di masjid saat jam wajib belajar asrama tiba. Tidur itu lebih nikmat dari belajar. Jelas.

“Ray, bayangin ente adzan, baru dia dengar. Dia jadi bangun shubuh karena ente punya adzan,” ujar Ion.

Yang Ion maksud adalah adik kelas. Wanita pujaan hati. Tentu saja saya terbakar. Semangat. Membayangkan dia sampai di masjid, lalu lihat saya iqomah. Bangga tak ketulungan. Semua juga tau siapa yang adzan, dia yang iqomah. Itu peraturan tak tertulisnya. Memang dasar anak MAN.

***

Di tahun terakhir saya, sekolah mengadakan sebuah kompetisi Ramadhan. Setiap kelas wajib mengirimkan wakil untuk tiap kategori. Sebagai ketua yang baik, saya mempersilahkan kelas memilih utusan untuk semua jenis kompetisi. Semuanya, kecuali satu. Saya absolut jadi utusan lomba Adzan. Hak istimewa ketua kelas.

Kompetisi berjalan. Giliran lomba adzan tiba. Masjid ramai penonton. Saya grogi dan tegang. Jantung berdegup kencang. Tangan gemetaran. Kuping dingin. Tapi “dia” belum kelihatan.

“Kelas tiga be, yang adzan Mohamad Ray Rizaldy!”

Saya berdiri. Beranjak ke tengah masjid yang jadi panggung kompetisi. Saya tutup kuping kanan. Katanya berguna buat jaga kontrol suara. Kuping kiri tetap dibuka. Paling tidak untuk dengar suara saya yang keluar. Bukan suara dalam hati.

“Bismillah…”
“Allahuakbar… Allaaaaauuueeeaaauuookbar”

Hening.

Gebleg. Baru dua kalimat, adzan sudah hancur. Suara melayang entah kemana. Seperti baru naik jet coaster yang sudut luncurnya 80 derajat, berketinggian 100 meter sehingga berkecepatan = akar-kuadrat(2 x percepatan gravitasi x 100) x sinus(80 derajat). Kacau.

Saya minta izin kepada dewan juri untuk mengulang. Adzan diulang sampai habis dengan urat malu yang tersisa.

Usai lomba, saya tertunduk keluar dari masjid. Memang kalau niat salah itu jadinya tidak berkah.

“Ray, kita tadi bicara dengan ustadzah Elly. Dia bilang adzannya ente bagus, Ray, sebenernya.”

Ion coba menghibur. Namun nasi sudah jadi bubur. Malunya sudah kepalang terlanjur. Saya memutuskan pensiun adzan sejak saat itu. Biar saja adik kelas yang giliran berebut pahala.

***

Tapi entah kenapa akhir-akhir ini saya sering galau kalau lihat mic nganggur di masjid. Saya kangen adzan. Harusnya bukan lagi untuk “dia”, tapi untuk Dia.

Advertisements

Written by ray rizaldy

25 August 11 at 7:44 am

Posted in raie

Tagged with ,

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Aduduh, Ray, jadi kesengsem. *jempol*

    Batari

    25 August 11 at 9:15 am

  2. akhir-akhir ini romantis aja Ray.. semoga pertanda Dia sudah dekat.. eh dia maksudnya

    capcaibakar

    25 August 11 at 9:48 am

  3. *ngakak baca komennya Iyra*

    gapapa adzan gagal. yang penting nanti ijab kabul yang kuat ya. hihihihi.

    Yasmin

    25 August 11 at 11:19 am

  4. huahauhauahuhaa, ngakak baca komennya Mbak Iyra ama Mincret.

    Nadya

    26 August 11 at 9:36 am

  5. @batari: kesengsem apa bat? kesengsem jempol? :p

    @capcai, nadya: hahaha, amin to the max deh 😀

    @yasmin: eh jadi daku udah dapet restu nih, min? :))

    ray rizaldy

    26 August 11 at 1:06 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: