kribo

penulis malas

Kribo dan Romusha

with 19 comments

Mereka tiga orang. Bajunya lusuh. Dua darinya tak beralas kaki, kebal sudah cekernya dari panas aspal Jakarta. Yang satu agak keren, pake sendal kebesaran. Sore itu mereka naik bus yang sama dengan saya, Patas AC 121 Blok M – Cikarang.

Saya duduk di bangku pojok, dekat pintu belakang bus. Sambil memandang Jakarta dari jendela, di bangku ini kaki bisa selonjoran bebas. Lutut tak tersiksa karena mentok bangku depannya. Cuma hati-hati, pojokan rawan kriminal. Tiga teman saya pernah terpaksa kehilangan bawaan akibat ditodong pisau di bangku pojokan.

Tiga pemuda lusuh itu berdiri saja, meski banyak bangku kosong. Mereka berdiri bersender ke pintu belakang. Tujuannya bukan untuk menumpang memang. Sesekali mereka bantu sang kernet teriak cari penumpang. Mereka pengamen jalanan profesional.

Pemuda yang bersandal membawa kecrekan, khas jalanan dari tutup botol yang dipipihkan dan dipaku ke batang kayu. Rambutnya mohawk tapi tersisa poni panjang menyamping, minta dijambak Satpol PP. Dia merangkap jadi vokalis dalam trio ini dan dia berkaos warna ungu. Jadi, saya sebut saja namanya Pasha ungu.

Temannya pakai kaos hijau. Celana jinsnya disobek sampai lutut. Andai badannya tak kerempeng pasti mirip Hulk dia. Posisinya gitaris. Eh, atau lebih tepatnya ukuleleis, karena dia bawa ukulele. Rambutnya gondrong, mirip Rain waktu jadi Lee Young Jae di serial Fullhouse.

Terakhir yang paling lusuh. Dia pakai kaos krem… atau putih, saya tak tahu. Tampangnya mirip Ian Kasela tanpa kacamata hitam. Dia bawa set drum swadaya, bikinan sendiri. Drum set-nya dari 3 pipa beda ukuran. Salah satu ujung pipa-pipa tersebut dilapis karet tebal untuk tempat memukul.

Mereka tak langsung live music di bus itu. Sudah pengalaman mereka, pantang buka panggung sebelum penuh. Rugi. Lee Young Jae dan Ian Kasela ngobrol berdua dalam bahasa Jawa, dan tertawa-tawa. Pasha Ungu terus saja teriak-teriak di pintu membantu kenek cari penumpang. Beberapa kali dia keterlaluan. Dia meneriaki satpam yang ngelamun, menggoda mbak-mbak yang menunggu bus lalu tertawa sendiri kayak Wiro Sableng.

Suatu kali bus ngetem di depan orang pacaran. Mereka lagi makan tahu sepiring berdua, di halte plasa Semanggi. Pasha versi gila ini bertingkah lagi.

“Woyyyy Botak!! Gak punya duit ya? Makan sepiring berdua, tahu gejrot lagi. Hahahaha!!!”

Diteriaki seperti itu, ceweknya kontan mencari sumber suara. Si cowok yang memang plontos berlagak tak dengar. Mungkin takut.

“Mbak, Mbak, jangan mau sama si botak Mbak! Sok mau romantis tapi makan tahu gejrot. Hahaha!” teriak Pasha lagi.

Si botak tak acuh, terus menyantap tahu gejrot. Ceweknya malah tertawa.

“Eahaha, tahu gejrot. Kere lu, Botaaak!” Pasha masih belum puas.

Si Botak gerah. Dia menatap ke bus, mencari sumber suara. Tapi Pasha sudah menunduk sembunyi di balik pintu bus. Bersama temannya, dia tertawa puas. Saya pura-pura batuk menahan tawa. Begini mungkin hiburannya anak jalanan.

Segera setelah penuh, Pasha menyeruak ke tengah. Perannya jadi berubah jadi narator.

“Bapak-Ibu, ini lah kami 3 orang Romusha, rombongan muka susah akan menemani perjalanan anda sekalian dan bla… bla… bla… Oke lagu pertama sebuah dangdut koplo, dari Romusha. Satu… dua… tiga…!”

Kali ini giliran Lee Young Jae dan Ian Kasela yang iseng. Mereka tak segera mainkan alatnya. Membiarkan Pasha, nyanyi beriring deru mesin. Garing.

Sadar dirinya dikerjai di hadapan penumpang sebus, Pasha nyengir. Tapi tak habis akalnya. Bak profesional, dia nyatakan ada kesalahan teknis di belakang panggung.

“Hoy, udah siap belom?” tanya Pasha.

Dua temannya terkikik sambil ikut menyeruak ke tengah bus. Orkes jalanan dimulai. Dangdut koplo dipasang. Suara Pasha biasa saja, malah hancur. Bunyi alatnya Lee Young Jae lebih mirip gitar gambus daripada ukulele. Suara drum Ian Kasela malah kayak kolor ditarik pentungan. Ctar…Ctar…Tung…Tung…. Tapi musiknya kocak. Familiar. Seru sekaligus mendayu. Kolabarasi rusak itu toh jadi menarik juga.

Setelah 4 lagu, Isabella dibawakan jadi lagu terakhirnya. Pasha keliling menarik uang panggung. Gemerencing uang logam terdengar masuk dalam bungkus Relaxa yang dibawanya. Tak sedikit pula ada yang beri uang seribu. Laku keras mereka. Pasti mereka makan enak malam itu.

Mereka turun juga bareng saya di Jatibening. Mereka tertawa bebas dan suka ria. Nikmatnya jadi orang yang tetap senang meski hidupnya berat. Meski kaki kapalan kena aspal. Meski harga barang naik. Meski ada orang tua yang memaksa cari kerja. Ah, siapa bilang Indonesia belum Merdeka.

Advertisements

Written by ray rizaldy

18 August 10 at 1:25 am

19 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. keren gaaann…. jadi lo berminat jadi romusha daripada PNS ato pegawai BUMN? πŸ˜€

    jofa

    18 August 10 at 10:44 am

  2. Kyaaaaaa!!
    I love this post! Wakakakakakak
    *masih ngakak lantaran mas2 tahu gejrot

    yasmin

    19 August 10 at 9:01 am

  3. @jofa : πŸ˜€ nggak dua duanya juga sih. tapi who know daku jadi apa ntarnya

    @yasmin : hehe, thankyou yasmin. pernah makan tahu gejrot sepiring berdua ya? :p

    ray rizaldy

    19 August 10 at 9:13 pm

  4. Hahahahaha, lucu banget sih Ray nulis detailnya!! =D

    Nadya Fadila

    19 August 10 at 9:43 pm

  5. seperti biasa: bang kribo dari ITB menulis dengan gaya penceritaan novelnya. mantabsss

    Nur Ali Muchtar

    21 August 10 at 2:52 pm

  6. haha..
    lucu..lucu… πŸ˜†

    salam kenal

    kodokz

    21 August 10 at 7:33 pm

  7. @Nadya, Nur Ali : hehe, makasiii lho *mimisan-gara-gara-tersipu*

    @kodokz : halo kodokz, salam kenal juga πŸ™‚

    ray rizaldy

    23 August 10 at 12:21 pm

  8. ukuleleis
    tak kira tukul leleis
    hehehe

    kyra.curapix

    28 August 10 at 8:37 am

  9. wakakak.. πŸ˜†

    wah tapi, ane protes judulnya gan,
    harusnya aziz dan romusha..

    uchenk

    31 August 10 at 10:51 am

  10. hehehe.. jadi inget pernah sekali dijarah di bis, untung mrk cuman dapet recorder rusak. salah sasaran, mereka. πŸ˜€

    turabul_aqdam

    2 September 10 at 3:06 pm

  11. 1: Emm patas singkatan dari apa yah om? πŸ˜› (duh lupaa..asli deh lupa).

    2A: Ada plus minus nya juga duduk di pojokan. Untuk orang yang berkaki panjang seperti saya, memang sangat nyaman bisa selonjoran. Tapi, kalo perjalanan jauh, enaknya ada kursi depan, saya bisa menyandarkan kepala saya ke kursi depan kalau mau tidur.

    2B: yah kalo ada tukang todong mah boro-boro mau tidur dong wkwkwkwkwk πŸ˜†

    3: Asiknya jadi pengamen, selain naik bus gratis, dikasih uang pula. Kira2 bisa ngga kalo kita naik bus nyamar jadi pengamen? biar gratis? πŸ˜›

    4: Merdeka? Karena sangking “merdeka” nya, tukang todong pisau pun bebas berkeliaran di pojokan πŸ˜†
    (sejauh ini saya belum pernah dirampok atau ditodong di bus πŸ˜› )

    mikha_v

    4 September 10 at 7:25 am

  12. wew, tulisanmu bagus rei. memandang kemerdekaan dengan gaya yang berbeda. kupikir romusha apaan ternyata oh ternyata hehe…

    antown

    4 September 10 at 10:32 am

  13. ray, lo copas aja tulisan blog lo ke kompasiana. ntar gw promosiin dengan segenap hati. siapa tahu habis itu lo dapet pacar. hahaha. beneran deh πŸ˜€

    gitaditya

    17 September 10 at 9:47 am

  14. Ray, dikau dah ngeluarin novel belum siy?? Haha.

    Ceritanya menarik sekali,hehe.

    dini ayudia

    30 September 10 at 2:02 pm

  15. oo begitu lain kali bakal saya hindari ray pacaran sambil makan tahu gejrot. salah-salah diledekin pasha ungu kw2 repot.
    hahaha

    poengo

    1 October 10 at 10:11 pm

  16. @kyra : hahaha, bingung juga ya mau ditulis apa. ukuleler mungkin. :p

    @uchenk : hush hush… itu hanya berlaku di buka bareng. jangan dilanjutkan. πŸ˜€

    @turabul : Hahaha, yang dicopet wartawan sih. πŸ™‚

    ray rizaldy

    2 October 10 at 2:28 pm

  17. @mikha:

    1. setelah digoogle patas itu ternyata artinya bus yang cepat dan terbatas. harusnya ga ada orang berdiri di bus patas, karena sifatnya yang terbatas. *niat bener dicarinya* haha

    2. hihi. tidurnya jangan terlalu nyenyak dong. tidur ayam saja.

    3. bisa, daku pernah naik bis bareng temen, bawa gitar. tapi gara2 ga nyanyi, ditagih juga. :))

    4. yah, itu juga perampoknya merdeka dari penjara.

    hahaha berasa ngerjain soal jadinya. πŸ˜›

    ray rizaldy

    2 October 10 at 2:37 pm

  18. @antown, dini: terima kasih, terima kasih :D. novel, blog aja nulisnya sebulan sekali ini. mudah2an bisa kapan2. πŸ˜€

    @gita: sudah dong. sudah di copas. lalu bingung mau nulis apa lagi.

    @dep: tapi romantis lho, sepiring tahu gejrot berdua . :p

    ray rizaldy

    2 October 10 at 3:15 pm

  19. tahu gejrot sama gak ma tahu isi ya ???

    Tari-ssi

    7 October 10 at 8:22 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: