kribo

penulis malas

Bugil

with 8 comments

“Ga mau keju yang digituin, sukanya yang keju bugil,” ujar Nunung, teman saya.

“Ih, apaan tuh? Keju bugil?”

“Yang itu, yang polos,” ujarnya.

Ah iya, saya lupa kalau dalam berbahasa ada yang namanya idiom. Idiom bisa berupa kata maupun kumpulan kata. Idiom sendiri adalah ungkapan yang maknanya tidak dapat diturunkan dari definisi kata penyusunnya. Setidaknya begitu yang tertulis di Wikipedia.

Kembali ke masalah bugil. Teman saya ini memakaikan kata bugil dengan suatu benda polos. Tanpa apa-apa. Selain bugil, yang saya sering dengar adalah idiom telanjang yang dipasangkan dengan mata. Melihat dengan mata telanjang. Artinya melihat tanpa bantuan alat apa-apa, hanya mata saja.

Contoh lain misalnya gundul, yang sering dipasangkan dengan huruf. Saya mempelajari membaca huruf Arab gundul. Maksudnya huruf Arab yang polos tanpa tanda baca, atau tanda bunyi. Mungkin karena tanda baca dalam huruf Arab letaknya di atas huruf tersebut. Tapi saya ingat ada tanda kasroh, tanda bunyi “i” yang letaknya di bawah. Kalau letaknya di bawah, yang gundul apa coba? Pikiran nakal saya beraksi.

Nah, masalahnya sampai saat itu tidak pernah mendengar kata bugil sebagai pasangan kata benda kecuali kata benda itu adalah nama orang. Nama artis atau orang terkenal – biasanya perempuan – yang saya dengar/baca sering dipasangkan dengan kata ini. Kesannya bugil itu sesuatu yang negatif.

***

Namanya image. Artinya, kesan atau pencitraan tentang sesuatu. Seperti halnya saya mencitrakan kata bugil sebagai kata kesannya negatif. Buruk. Jelek. Kesan yang saya dapat akibat seringnya media massa menggunakan kata bugil yang dipasangkan dengan foto-foto syur para artis.

Image juga yang membuat saya kemarin sok-sok ikutan mendukung Sri Mulyani dan Boediono. Dua orang itu pejabat publik yang namanya nyangkut di pansus. Memang dalam berita-berita di televisi diceritakan banyak yang menuntut mereka berdua supaya dipenjarakan. Melalui poster-poster dan spanduk para penuntut itu mencitrakan mereka berdua sebagai maling, vampir, tikus pemakan uang. Tapi betapa tidak beruntungnya saya, karena lebih banyak memeriksa twitter updates dibanding menonton berita televisi. Pencitraan saya terhadap Sri Mulyani dan Boediono pun berdasarkan orang-orang yang saya follow di media itu.

Di jagad twitter, orang bebas (meminjam istilah dari sini) stalking atau menguntit siapa saja, termasuk orang-orang yang punya nama besar. Anda bisa menguntit kicauan Ndoro Kakung si seleb blog, Goenawan Mohamad si penulis Catatan Pinggir, Wimar si penulis Perspektif, sampai Tifatul Sembiring si Menkominfo. Dalam twitter yang terjadi berbeda dari yang ada di jalan-jalan. Tidak ada poster-poster meminta diturunkannya MenKeu dan Wapres. Yang ada justru dorongan dan doa kepada Sri Mulyani dan Boediono supaya terus menjabat. Bisa jadi ini akibat kicauan-kicauan berbentuk dukungan kepada Sri Mulyani dan Boediono yang ditulis oleh orang-orang yang saya sebut di atas tadi (kecuali si Menkominfo). Saking besar pengaruhnya nama mereka, banyak yang akhirnya terpengaruh untuk mendukung MenKeu dan Wapres.

Belakangan, JK si mantan Wapres dipanggil ke pansus. Tapi tak saya temui lagi kicauan-kicauan orang-orang itu mendukung. Tak saya temui lagi kicauan dukungan “Di rumah Boediono di satu gang Mampang Prapatan, hanya ada satu gambar wayang: Yudistira. Ksatria yg tak berperang. Si lurus hati.” seperti saat Boediono akan diinterogasi. Yang muncul komentar sinis menanggapi JK yang lupa saat diwawancara misalnya “Saya senang YK. Selalu kocak. Juga kalau lagi pura-pura lupa.” Entah kenapa si pengicau lupa bahwa saat Boediono diinterogasi juga pernah lupa. Dan lagi kalau mau adil cari juga dong hiasan-hiasan gambar di rumah JK. Tapi mungkin memang tak ingin adil. Toh keinginan si pengicau adalah membuat citra dua orang itu menjadi baik. Sisanya bercitra buruk tak apalah.

Pencitraan bisa membuat orang disukai dan dibenci. Bisa jadi orang hidup untuk mengejar citra yang baik di mata orang. Kalau sudah disukai khalayak, seseorang bisa melakukan apa saja bukan? Begitulah pentingnya pencitraan ini bagi seseorang. Bagi sesuatu atau sebuah kata seperti kata “bugil” citra mungkin tak terlalu penting. Toh sebuah kata tak bisa merasa. Tak perlu bagi sebuah kata untuk disukai atau dibenci. Orang tetap menggunakan kata seenaknya juga pada akhirnya.

*Doh, dari bugil kok nyasar ke pansus ya. Begitulah uneg-uneg yang sudah lama pengen ditulis, tapi baru sekarang kesempetan. Hahaha.

Advertisements

Written by ray rizaldy

28 February 10 at 6:00 pm

Posted in raie

Tagged with , , , , , ,

8 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. dari bugil ke pansus? mari kita suruh pansus bugil dalam mengungkap kasus ini..halahh ikutan ngaco

    iyra

    28 February 10 at 9:46 pm

  2. akhirnyaa ada post baru juga. kangen deh gue sama tulisan lo.

    batari

    1 March 10 at 9:40 am

  3. waduh….topiknya bikin gw pengen komentar panjang lebar, tp nanti malah ngotorin blog lo 😀

    “[i]even a hero have the right to bleed [/i]”

    jofa

    1 March 10 at 9:59 am

  4. hmmm… post-nya lolos AI3 gak yaa… *komennya gak penting pisan*

    Zakka

    1 March 10 at 3:50 pm

  5. assa.
    hag2, nyasarnya jauh ray, tapi bagus lah
    wass.

    montercplus

    2 March 10 at 10:24 pm

  6. @jofa: mau diskusi ym jof? 😀

    @zakka: hahaha, ada monte bisa komen, berarti bisa.

    ray rizaldy

    4 March 10 at 7:47 am

  7. wah tulisan lo yg ini bagus ray! gw suka juga cara lo menyampaikan sesuatu secara explisit ;>

    SIGIT KUSUMANUGRAHA

    21 March 10 at 10:07 pm

  8. eh ya ampuuuunnn

    gw banget!!!!

    hahaha maksudnya ada pada dimana gw mendukung seseorang cuma karena apa yang orang katakan tentang si orang tersebut dan orang itu kebetulan gw kenal 😆

    jadi beginilah kenapa gw masih anti politik… i know damn nothing about it, dan kalau cuma asal ngomong dan nyeplak karna gw liat dan dengar dan simak apa kata orang, i think thats stupid…

    dan gw ga suka dibilang bego haha

    natazya

    30 April 10 at 12:09 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: