kribo

penulis malas

Dago Asri, Hari Terakhir

with 26 comments

LANGIT sedang mendung sore itu. Adzan Maghrib sudah terdengar, tapi kami masih belum beranjak dari warung Mang Jeje. Warung itu, yang terletak di depan kos kami, sepi. Tidak ada jajanan seperti biasa. Sejak anaknya meninggal seminggu lalu, Mang Jeje belum pernah membuka warung lagi.

Kami belum juga beranjak, meski ikamah memanggil untuk Maghrib berjamaah. Kami menunggu polisi datang. Mereka bilang akan datang sesegera mungkin. Setengah jam yang lalu, mereka menelepon.

“Kita nyasar, Adek dimana lokasinya?” tanya salah satu polisi lewat selulernya.

Adek? Hey, saya mahasiswa tingkat akhir sekarang. Namun, meski tidak suka dipanggil “Adek”, terpaksa saya menjelaskan ulang jalan menuju lokasi kami. Kami di Jl. Dago Asri depan rumah nomor C-19, kos yang kami huni selama 3 tahun. Ah, saat begini mereka malah tersesat.

***

BEBERAPA minggu sebelumnya, saya dikagetkan Ririn, adik saya. Dia menunjuk sebuah motor di depan ruko pengisian pulsa, tak jauh dari Borma Dago, Bandung. Motor bebek Yamaha seri Jupiter MX.

“Kak Ijal, ini bukan …?”

Kami berdua menatapi motor itu seksama. Hening.

“Ririn inget pernah jatoh, terus lecet di sini” Adik saya menunjuk salah satu lecet di motor itu. Badan motor itu banyak lecet, seperti motor saya yang lenyap.

“Ooh” saut saya singkat.

Dalam hati, saya juga coba mengingat bekas kelalaian saya. Kaca lampu belakang motor saya pecah karena kecelakaan konyol bersama kawan sekos. Hingga motor itu hilang saya masih belum menggantinya. Dan saya tahu taillight motor di depan saya itu bukan taillight orisinal.

Injakan perseneling motor itu juga bengkok. Sesuatu yang belum saya diperbaiki, sejak jatuh bersama Gio di tanjakan Sekeloa.

Terakhir, bekas ciuman aspal di kepala motor. Letaknya persis, seperti yang saya dapatkan pada sirkus naas 2 tahun lalu: di atas lampu depan, tak jauh dari spion kanan. Kontan tiga ciri tersebut membuat jantung saya berdebar. Saya ragu, tak tahu harus melakukan apa di saat begini.

Orang dalam ruko keluar, ingin saya bertanya tapi dia langsung memacu motor itu. Sayang, saya tak sempat mencatat nomor polisinya. Yang teringat hanya ciri pengendaranya berbadan tinggi, rambut belah tengah, berjaket kulit yang sedikit robek di siku kirinya.

“D XXXX BY nomornya Kak,” ujar adik saya lebih sigap.

***

BERHARI-HARI saya mondar-mandir di Jalan Dago, berharap melihat motor Jupiter MX lagi. Kadang ditemani teman kos, saya menyisir Dago hingga pedalaman Kanayakan. Baru setelah hampir sebulan, Ewa, salah satu teman kos, membawa kabar baik. Ewa melihat motor yang sama di Dago Asri.

Dengan berlagak detektif, kami mengikuti motor. Menurut warga, motor tersebut biasa parkir di Cisitu Indah. Sejak itu, bergantian, saya dan teman kos mengintai lokasi motor. Saya pun melayangkan laporan ke polisi.

Respon polisi tak begitu menggembirakan. Polisi tampak acuh tak acuh akan laporan saya itu.

“Ya udah, Adek coba liat lagi, pastiin kalau itu betul motornya. Nanti dari kami juga melakukan pengecekan ke … ke mana itu tadi?” polisi menutup percakapan.

“Cisitu Indah Pak”

Minggu berikutnya berlalu, tanpa kabar dari polisi. Saya kembali ke kantor polisi Coblong. Hari itu hari terakhir saya di Dago Asri. Saya akan pindah, mengontrak rumah di Pajajaran.

Di Coblong, polisi yang ada justru saling bertanya tentang laporan saya minggu sebelumnya itu. Hufff… saya kembali menceritakan kisah Jupiter MX saya itu. Untunglah ada polisi yang tanggap, Igor namanya. Dia meminta saya mengantarkannya langsung ke lokasi.

Sayangnya, sesampai di sana, lokasi yang juga biasa dipakai nongkrong para pengumpul rongsok itu sepi. Tak ada orang. Tak ada hasil, saya pun pulang ke kos. Saat berpisah, Igor memberikan nomor seluler.

Kalo ngeliat lagi, langsung telepon saya ya!” begitu ujarnya.

***

ADZAN Ashar baru selesai ketika Ibun menelepon. Teman kos saya itu baru saja melihat motor di lokasi biasa. Refleks, saya langsung menelepon Igor.

“Pak, motornya lagi di lokasi yang tadi!” ujar saya tak sabar. Wajar, dua telepon awal saya tak diangkatnya.

Bener? Ok… Ok… nanti saya minta teman saya duluan yang kesana. Saya lagi mandi ini,”

“Kalau motornya pergi gimana Pak?”

“Yah pokoknya teman saya kesana duluan. Nanti dihubungi teman saya ya. Tut… Tut… Tut…”

Akhirnya, bersama Ewa dan Dudin, saya menyusul Ibun. Kami bertemu, berkumpul tak jauh dari lokasi motor. Berempat, kami cemas menunggu polisi menghubungi.

Tak lama, sebuah motor melaju sangat kencang menuju Dago Asri.

“Itu motornya!!!” teriak Dudin.

Serentak kami mengikuti motor tersebut. Kelok-kelokan di kompleks Dago Asri bagaikan trek MotoGP sore itu. Jupiter MX ngebut paling depan. Motor Solomo yang ditunggangi Dudin berusaha keras menyalipnya dari kanan belakang. Saya diboncengi Ewa mencoba mengimbangi di kiri belakang. Ibun yang telat sadar, tertinggal jauh di posisi terakhir.

Kelokan terakhir adalah jalan sedikit menanjak yang rusak berlubang cukup parah. Jupiter MX, masih belum menurunkan kecepatan, sedikit lagi bisa keluar dari kompleks. Tapi…

“Lho…?,” saya dan Ewa heran bersamaan. Motor itu tidak keluar kompleks, justru masuk ke Dago Asri I, jalan dimana kos kami berada.

Motor itu kini parkir di depan Warung Mang Jeje. Pengemudinya, seorang pemuda bercelana biru SMP, langsung masuk ke pekarangan Mang Ujang, di sebelah warung Mang Jeje. Kami berempat hanya bisa saling berpandangan, bingung.

Sekitar 20 menit kemudian, pemuda tersebut keluar. Sejak tadi tak merasa diikuti rupanya dia. Saya memberanikan diri mencegatnya sebelum dia pergi. Masak sama SMP takut.

“Dek, mau nanya, tapi maaf dulu nih. Ini motornya siapa ya?”

“Motor majikan saya ini mah A’. Kenapa? Motornya hilang gitu? Mirip ya?” tanya pemuda itu, seperti mengerti keadaan.

Dengan diiringi maaf, dan maaf, saya menjelaskan kembali cerita tentang motor saya kepadanya. Saya juga bercerita sudah lapor polisi tentang ini.

“Motornya udah lama sama majikannya?”

“Ummm.. ini juga baru ketemu lagi A’. Kemarin juga ilang. Baru ketemu di Bogor, bulan lalu,” ujar si anak SMP. Kalimat itu kontan membuat saya tambah geregetan, curiga.

Makin geregetan saya, mendapat telepon dari teman Igor – yang bilang mereka nyasar ke Dago Tea House.

***

JAM setengah 7 lewat dua polisi tiba. Igor tidak ikut.

“Ini motornya siapa? STNK nya ada nggak?” tanya salah satu polisi.

“Majikan saya pak. STNK nya juga di dia”

“Buka joknya!” ujar polisi ketus.

Ada dua cara mengetahui apakah sebuah motor adalah hasil pencurian atau bukan. Cara pertama, mencocokkan nomor seri rangka. Atau bisa juga dengan mengecek nomor mesin. Setiap motor yang diproduksi memiliki nomor mesin dan nomor rangka yang unik, berbeda satu sama lain. Nomor tersebut tertulis dalam STNK pemilik motor. Jadi jika nomor tidak cocok dengan STNK yang dipegang pengendara, bisa dikatakan bahwa motor itu curian.

Sayang, langit sudah gelap saat itu, polisi sulit mencocokan nomor seri di rangka motor. Senter tak ada. Akhirnya dengan lampu di layar seluler, saya membantunya menerangi bawah jok. Saya menerangi satu persatu nomor rangka tersebut.

“M – H – 3 – 1 – 5 …,” eja si polisi.

“Sama Pak!!” ujar saya histeris. Lima karakter itu juga yang tertera di STNK saya.

“… 7 – 0 – 0 …,” polisi terus mengeja.

“Iya, motor saya ini Pak!”

“Yakin sama? Masih panjang nomernya 13.”

“… A – 9 – R – L – 9 …” lanjutnya lagi.

“….”

“Mana STNKnya?” polisi mengambil STNK dari tangan saya. Saya hanya terdiam.

Polisi tersebut kemudian jongkok di sisi motor. Dia menyenter kolong mesin dengan selulernya sendiri kali ini. Tak lama dia beranjak. Menggelengkan kepala.

“Beda semua!” ujar polisi.

Ah, saya sudah harus belajar menerima kenyataan kali ini. Tak ada harapan motor Jupiter MX hitam itu kembali.

Advertisements

Written by ray rizaldy

31 October 09 at 10:04 pm

26 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. mmm… *takmampuberkata* sing tabah ya… jadi bukan motor lu ya? tapi kog bisa mirip? diganti mungkin?

    iyra

    31 October 09 at 11:12 pm

  2. huhuhuhuhu, ceritanya menegangkan sekali ray, baru di paragraf anti klimaksnya terjal banget…
    sabar ya ray, mudah2an segera diganti ama yang lebih baik

    anis

    1 November 09 at 5:07 am

  3. waah! deg2an gue. jadi bukan motor lo ya? sabaar ya raaay. insyaAllah dapat gantinya. caelah.

    batari

    1 November 09 at 10:05 am

  4. @iyra : bukan, memang mirip sih, tapi mengganti mesin dan rangka motor artinya sama aja pencolengnya beli motor baru. hehehe.

    @anis & batari : amiiiiiin. doain diganti mobil ya. hihihi. eh iya, maksudnya terjal apa nis? 😀

    ray rizaldy

    1 November 09 at 12:07 pm

  5. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….
    mau teriak gue bacanya, hahahaha
    doa yang sama kaya doa Batari, smoga diganti yang lebih baikkk… pasti lebih baikkk… AMIN =D

    Nadya Fadila

    1 November 09 at 2:53 pm

  6. assa.
    tp yg gw bingung, kok lecet2ny bisa bnyk yg sama yah? gw jg prnh kehilangan ray, ampe skrg msh sebel hag2, yah dah nasib
    wass.

    montercplus

    1 November 09 at 9:11 pm

  7. waw, lo mendokumentasikan petualangan lo sama motor lo dengan baik banget ya Ray? Tiap kali lecet lo tulis di blog. Bagus juga sih. Ntar gue juga gitu ah sama si Mumun..

    yasmin

    2 November 09 at 12:55 pm

  8. @nadya: hihihi. amin nad.

    @monter: itu juga membingungkan, tapi apa mau dikata emang bukan. hehehe

    @yasmin: ada bantuan dokumentasi dari blognya temen yang terlibat kecelakaan juga min. hehehe

    ray rizaldy

    4 November 09 at 10:29 am

  9. Pasti dapet ganti yang lebih baik lagi…

    tukangobatbersahaja

    4 November 09 at 4:15 pm

  10. dago mana ya?

    kyra.curapix

    5 November 09 at 11:43 am

  11. gw deg”an ray bacanya. trus ikutan sedih.
    sabar yaa ray.

    shofi

    5 November 09 at 5:41 pm

  12. kunjungan pertama nih, lam kenal ya…?

    tary

    6 November 09 at 1:29 pm

  13. lah… kok beda? jadi bukan donk y

    blue

    11 November 09 at 1:29 pm

  14. @tukangobat : amin. 🙂

    @kyra : dago atas, sebelum sheraton.

    @shofi : hehehe, maaf ga ingin membuat dirimu sedih kok shof. trims ya.

    @tary : salam kenal juga.

    @blue : bukan bang, ternyata memang motor tetangga, cuma dakunya aja yang jarang sosialisasi. hahaha

    ray rizaldy

    15 November 09 at 9:34 pm

  15. bukannya dago selalu macet? ko bisa kebutan rey?

    fasriding 🙂

    antown

    16 November 09 at 7:58 pm

  16. berkunjung untuk dago

    kyra.curapix

    17 November 09 at 7:01 am

  17. ya ampun…
    iya moga2 dapet yang lebih baik, amin.

    btw, seru juga ceritanya, jadiin sinetron oke juga. ahahahaha

    tyas

    20 November 09 at 11:55 pm

  18. @antown : itu di dalam perumahannya kebut2annya bang. 😛

    @kyra : orang bandung juga ya?

    @tyas : hahaha. iya, buat ftv kayaknya lebih cocok. abang ganteng dan motornya nanti judulnya. :))

    ray rizaldy

    22 November 09 at 9:05 pm

  19. gue membaca postingan ini dengan menahan nafas, harap-harap cemas. ehhh taunya….. :mergreen:

    Catra

    22 November 09 at 10:58 pm

  20. itu jd no.rangka-nya sama atau gmn? ehehe..
    kok seakan2 sama sih.. sengaja ya? bikin tegang :p

    Inay

    24 November 09 at 1:16 pm

  21. @catra & inay: hehehe. nggak kok emang gitu, nomor rangka nya cuma 7 angka pertamanya doang yang sama. kalo nomor mesin kata si pak polisinya beda. ntah lah.

    ray rizaldy

    25 November 09 at 1:00 am

  22. kalo pas kebetulan paling ya bisa sama ya 😀

    kadal

    25 November 09 at 6:12 pm

  23. ternyata,motor ray lecet2 😀
    tetap semangat,ray! siapa tau di pajajaran ada jupiterMX lain yang lebih berpotensi buat dikuntit,hehe..

    ririn

    13 December 09 at 7:10 am

  24. humphh, *speechless..
    sabaaar yaa ray. moga cepet dganti ma yg baru dan lebih baik yaa..
    (lho?? ky abis dputusin pacar aja? heheeee”,)
    anw, lo mendeskripsikannya keren bgt..

    hopefulia

    24 December 09 at 9:16 am

  25. @kadal: itu juga daku masih penasaran. 😀

    @ririn: hahaha. amin, setidaknya disini sudah terlihat 4 motor jupiter MX hitam. 😛

    @hopefulia: hehehe, tengkyu lia.

    ray rizaldy

    28 December 09 at 5:20 pm

  26. Yakin liat pake mata sendiri mmg beda nomornya? Atau cuma percaya kata polisinya.

    Tri

    18 July 13 at 8:22 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: