kribo

penulis malas

Another (Shameful) Traveller’s Tale

with 10 comments

Sometimes we’re on a collision course, and we just don’t know it. Whether it’s by accident or by design, there’s not a thing we can do about it.

  • Benjamin on The Curious Case Of Benjamin Button

Dini hari, 27 April 2009, seorang pemuda Kribo baru tertidur karena penasaran pada fungsi hash pada program buatannya tak juga berjalan. Si pemuda akhirnya kesiangan, dan baru terbangun pukul 10 pagi, setelah makanan sarapan dibereskan. Ibundanya menyuguhkan susu dan semangkuk sop yang tersisa untuk sarapan siangnya. Ibundanya melanjutkan harinya pergi ke pengajian.

Pukul 11 si pemuda menelepon jasa travel, memesan tiket ke Bandung untuk waktu keberangkatan jam 5 sore. Dia berencana untuk menjemput adiknya, Frieska, pulang sekolah jam 4 kurang. Sejak semester kemarin, setiap pemuda itu ada di rumah, Frieska pasti merengek minta diantar atau dijemput, namun sang kakak tak pernah sempat. Sekarang mungkin sempat, pikirnya.

Pukul 2, pemuda beserta adiknya, Hannasya, mulai kelaparan. Beruntung, tak lama kemudian sang Ibu pulang, membawa makanan dari pengajian. Sayangnya makanan hanya untuk seorang. Sebagai kakak yang baik, si pemuda kribo mengalah. Mencoba menahan lapar, si pemuda menghabiskan waktunya menonton “The Boy in The Striped Pyjamas” di laptopnya.

Pukul 3.40, si pemuda selesai menonton filmnya. Si pemuda tahu sudah waktunya dia menjemput adiknya. Dia pun bergegas mandi. Seketika itu alergi susunya kambuh. Lactose Intollerant membuatnya menghabiskan waktu hampir setengah jam di kamar mandi. Rencana menjemput tinggallah rencana. Adiknya pasti sudah naik angkot, pulang.

Pukul 4 lewat, pemuda menelepon tukang ojek langganannya untuk menjemputnya jam setengah 5. Dia baru ingat, bahwa barang-barangnya masih berantakan dan belum disiapkan. Setengah jam selanjutnya dia habiskan waktu untuk siap-siap : memasang tali sepatu yang ternyata belum kering meski sudah dijemur sehari sebelumnya, mencari kaus kakinya yang entah kenapa masuk ke lemari penuh bra, memasukkan laptop panasnya dan baju-baju bawaannya ke ransel. Semua beres dan … Kruuuuk…. Kruuuuk….

Pukul setengah 5, Bang Pudin, tukang ojek langganan keluarga tiba. Si pemuda yang kelaparan meminta tukang ojek untuk mampir ke toko burger Ibunya. Dua paket cheese burger pun disikat dalam perjalanan menuju travel.

Pukul 5 tepat, pemuda itu sampai di travel. Hanya tinggal dua kursi yang tersisa. Kursi nomor 2 dan 9. Selintas pemuda itu melihat tulisan “Lia” di daftar kursi untuk kursi 4. Nama wanita itu membuatnya memilih kursi nomor 2. Lia mungkin membawa teman wanita juga, pikirnya senang.

Pukul 5.10 mobil minibus dinyalakan. Si pemuda tiba-tiba kebelet dan bergegas ke toilet. Selepas dari toilet, dia baru sadar bahwa minibus yang seharusnya mengantarnya ke Bandung sudah lepas landas. Petugas travel datang membantu mengejar minibus itu dengan motor. Apes memang, motor itu hampir terjungkal di tanjakan karena tak sanggup naik. Berat 2 potong burger di lambung salah satu penumpangnya membuatnya begitu. Namun beruntung si sopir minibus yang baru sampai tikungan masuk tol berhasil dikejar.

***

Kursi nomor 2 mengecewakan tak sesuai harapan saya. Wanita bernama Lia itu tak datang, kursi nomor 4 kosong. Sebagai gantinya seorang pemuda lain duduk di kursi tengah, kursi nomor 3. Entah kenapa pemuda yang perawakannya tinggi kurus serta putih itu tak pindah ke kursi nomor 4 saja. Padahal menurut saya kursi dekat jendela lah yang paling nyaman. Ah, terlalu taat aturan dia ini.

20 menit berlalu di jalan tol, si pemuda taat aturan ini tak beranjak dari sebelah saya. Dia malah menyamankan diri dengan menarik sandaran kursinya ke belakang. Masih wajar. Namun tak sampai 10 menit kemudian dia memiringkan kepalanya. Bukan, bukan ke kursi nomor 4 yang kosong itu, sebaliknya. Mulai kurang ajar. Kurang nyaman, pemuda tersebut menyelonjorkan kakinya bersilangan ke kursi yang kosong. Tengkuk saya mulai dingin bersuar.

“Mas tas saya bisa ditaro tengah sini gak?,” akhirnya saya mendapatkan ide supaya si pemuda pindah ke sisi lain mobil itu.

“Sempit ya? Ditaro di sini aja mas, ” si pemuda langsung memindahkan tas berat saya ke pojok belakang supir. Saya mati kutu.

BANGKEEEEEEE… MATAAAAAACUUUUK…. HOMO NI ORANG!!!!”, teriak saya dalam hati.

Menit demi menit berlalu.

“Mas bisa tolong tas saya”

Saya bepura-pura mengambil sesuatu, tapi tak tahu ingin mengambil apa. Beruntung akhirnya menemukan permen karet kegemaran saya di dalam tas.

“Mas, ditaro sini ya?, ” saya berharap si pemuda bosan mengangkat-angkat tas dan akhirnya pindah ke kursi dekat jendela sana. Usaha saya gagal.

Putar otak lagi. Mungkin jika saya menelepon seseorang, seperti halnya menelepon pacar, si pemuda homo itu akan pupus harapan. Ok , sekarang siapa yang bisa saya telepon dan saya paksa pura-pura jadi pacar saya….. bingung siapa. Sulung*, Tengah*, Bungsu*, semuanya beda provider. Dengan pulsa saya yang tak sampai 10.000, paling 10 km perjalanan juga langsung putus. Bukan cara yang efektif.

Di kilometer 80an minibus itu berhenti, mengisi bahan bakar.

“tas saya lagi dong!!,” kali ini dengan nada sinis. Tapi sekali lagi saya kebingungan mau apalagi dengan tas itu. Kali ini tas saya taruh paksa di tengah. Biar saya sempit-sempitan, meringkuk di pojok jendela minibus itu sambil memandang kegelapan sisi jalan tol. Tak apa saya lupakan kegemaran tidur selama perjalanan, kenyamanan mendengar MP3. Saya tak mau sesampainya saya di Bandung, saya terkena flu burung.

***

And if only one thing had happened differently…

Jika program hash itu berjalan sukses, dan saya tak perlu bangun kesiangan (Ok mungkin jika hash berjalan saya juga tetap akan kesiangan). Jika sarapan untuk saya bukan susu. Jika film yang ada di laptop saya adalah “Rambo IV” yang hanya berdurasi 70 menit. Seandainya kaus kaki saya tak sembunyi di balik bra. Jika saja saya memesan 1 burger saja. Mungkin saya masih bisa memilih kursi nomor lain. But life being what it is – a series of intersecting lives and incidents, out of anyone’s control – semua berjalan begitu saja, dan saya duduk bersebelahan dengan pemuda homo itu.

* Sulung, Tengah, Bungsu adalah 3 gadis UNPAD, adik kelas yang entah kenapa mengangkat saya menjadi papi mereka.

Advertisements

Written by ray rizaldy

28 April 09 at 3:11 am

10 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm

    iyra

    28 April 09 at 12:41 pm

  2. hahaha. iya gue juga sebel kalo kejadiannya kayak lo. emang paling enak tempat duduk pinggir, bisa nyender.
    sabaar ya ray

    batari

    28 April 09 at 9:24 pm

  3. udah lama gak ngepost mas…hehehe… btw pemuda itu siapa sih? :mrgreen:
    nice post

    Catra

    29 April 09 at 10:50 pm

  4. kapan kapan antar dan jemput saya juga ya mas 🙂

    Rindu

    1 May 09 at 8:45 am

  5. bwahahhaahah

    homophobic? :p

    natazya

    1 May 09 at 10:39 am

  6. tukeran link yukk mas

    Catra

    1 May 09 at 12:36 pm

  7. @iyra : mhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

    @batari : tapi klo yang dempet2 itu cewe mungkin daku seneng bat.

    @catra : hayuuk

    @rindu : hahaha, kemana nih daku bisa anter jemput mbak rindu? 😀

    @tante nata : yup, certainly. takut dengan makhluk2 halus kayak gitu daku

    ray rizaldy

    1 May 09 at 11:07 pm

  8. yah…ternyata lo emang menarik perhatian kaum adam dan hawa ray 😛

    jofa

    3 May 09 at 12:38 pm

  9. hahahahaha, jadi lo dua jam ketakutan ray? kasian.

    yasmin

    3 May 09 at 2:23 pm

  10. mas kenalin donk sama sulung, tengah dan bungsu hahahaha

    Catra

    22 May 09 at 2:31 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: