kribo

penulis malas

One Day With Koreans

with 17 comments

Saya bingung mau menulis apa malam ini. Tapi saya wajib menulis, sebagai tugas mata kuliah Jurnalisme Sains dan Teknologi yang saya ambil semester ini. Besok pagi tulisan ini harus selesai. Dua halaman dengan tema bebas, apa saja. Beberapa teman saya, yang mengikuti kuliah sama, sudah memiliki tema bahkan sejak minggu lalu tugas ini diberikan. Ada yang memilih tema tentang politik, ada juga yang membahas tentang kampanye. Intinya politik-politikan lah.

Yah, dunia perpolitikan di negeri ini memang sedang hangat-hangatnya. Sedikit lagi mau pemilu. Semua surat kabar, stasiun televisi serta situs berita online gencar mengisi kolom-kolom beritanya dengan berita politik. Tapi bukannya malah terbuka pikiran, saya malah makin skeptis dengan dunia itu. Dunia politik. Makanya saya juga malas untuk menjadikan hal tersebut sebagai tema tulisan saya. Toh sudah banyak juga yang menulis bukan.

Ah, baiklah saya hanya akan cerita saja. Cerita ini tentang pengalaman saya kira-kira dua bulan yang lalu. Waktu itu saya menjadi pemandu wisata dadakan bagi dua orang Korea. Saya lupa bagaimana persisnya kami berkenalan. Waktu itu saya bersama Ewa, teman sejurusan saya, sedang bermain pingpong di depan himpunan. Tiba-tiba dua orang bermata oriental muncul. Entah sok, entah pamer, mereka dalam bahasa Inggris mengajak kami bertanding pingpong. Pertandingan berakhir dengan kemenangan di pihak kami.

Lelah bermain pingpong, kami lalu mengobrol sebentar. Masih dalam bahasa Inggris. Yang satu mengaku bernama Dae Shik, yang lainnya bernama Jihun. Rupanya mereka merupakan mahasiswa Korea yang sedang mengikuti acara pertukaran budaya ke Indonesia. Mereka sampai di Bandung sehari sebelumnya dan berencana menghabiskan waktunya berjalan-jalan melihat keramaian kota Parahyangan ini.

Usai mengobrol, mereka pamit. Katanya mereka diajak untuk menghabiskan malam di PVJ oleh temannya yang orang Indonesia. Saya jadi bingung budaya apa yang ingin mereka pertukarkan di agenda itu. Bukannya shopping, mall, bioskop, girls with mini skirt dan segala hal yang ada di PVJ itu juga ada di Korea ya?

Sebelum berpisah, mereka mengundang kami untuk makan siang bersama mahasiswa Korea lainnya keesokan harinya. Kami langsung setuju untuk hadir. Bagi kami khususnya saya, itu tawaran yang mengejutkan, juga dinanti. Saya memang lagi bokek, sudah 3 hari berhemat dengan makan makan nasi, sayur plus telur dadar saja. Kami pun berjanji bertemu di depan himpunan, jam 1 setelah shalat Jum’at.

***

Jum’at, pukul 1 lewat sedikit, saya sudah di depan himpunan. Menunggu sendiri di tempat awal kami bertemu. Ewa baru saja SMS, dirinya tidak bisa hadir. Ah, double oriental itu belum muncul. Baru tahu saya, bukan orang Indonesia saja yang punya kebiasaan jam karet. Korean guys do the same.

Hampir pukul 2mereka akhirnya muncul. Ternyata mereka sudah menyelesaikan makan siang. Hilang sudah bayangan makan-makanan sedap yang ada di kepala. Untunglah setelah shalat jumat saya masih menuruti, Ebhe, teman fotografi saya, untuk mengganjal perut.

Kami akhirnya mengobrol. Mereka bertanya-tanya banyak hal tentang Bandung. Apa saja tempat yang ramai dikunjungi. Dimana mereka bisa menemukan tempat belanja, tempat ini, tempat itu, dan lain-lain. Untung bahasa Inggris saya tidak bodoh-bodoh amat. Saya masih bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Meskipun kadang-kadang terdiam, memikirkan terjemahan yang tepat untuk menjawab.

is there any spa in here? Where I can find spa in Bandung?”, tanya Jihun dengan bahasa Inggrisnya yang kurang fasih. Pertanyaan yang tak bisa saya jawab. Saya tak pernah ke spa. Setahu saya spa itu tempat bagi orang-orang berduit untuk membuang keringat. Mahal.

***

Kami asyik mengobrol ngalor-ngidul hingga pukul 3. Saking asyiknya bertukar kosakata, mereka sampai lupa bahwa rombongan mereka berangkat pukul 2.45. Mereka ditinggal rombongan. Dan yak, mereka sepakat menunjuk saya jadi pemandu mereka hingga rombongan kembali.

Tahu apa yang mereka ingin kunjungi pertama? Rental PlayStation3. Hoalah, jauh-jauh dari Korea cuma main PlayStation di Indonesia. Tapi tak apa, saya antarkan. Hitung-hitung saya juga bisa ikut main. Kami menghabiskan 18 ribu Rupiah untuk bermain Pro Evolution Soccer, game sepak bola, selama 1,5 jam kurang. Dae Shik cukup jago. Dia membabat habis tim saya dan Jihun dalam permainan tersebut.

Keluar dari rental, Jihun meminta saya mengantar mereka ke coffee shop. Jihun menceritakan bahwa sejak lama dia memimpikan untuk meminum kopi Indonesia. Yang dia tahu, kopi Indonesia adalah kopi terenak di dunia, terutama kopi hitamnya. Wew saya baru tahu ada pendapat seperti itu. Kalau memang terenak di dunia untuk apa kopi-kopi Amerika nyasar ke Indonesia lewat Starbucks. Lebih cocok kan kopi Indonesia yang buka cabang ke Amerika.

Saya membawa mereka ke kedai kopi terdekat, berjalan kaki. Selama perjalanan Dae Shik selalu terheran-heran dengan yang dia lihat. Why many Indonesian girl wear cap (maksudnya jilbab)? Why many Indonesian guy have afro hair? Why so many wanted picture in here? Saya sering kali tersenyum geli mengingat pertanyaannya ini. Soalnya yang dimaksudkannya sebagai wanted picture adalah foto-foto caleg yang tertempel berserakan di sepanjang dinding jalan.

Pertanyaan-pertanyaan Dae Shik tak habis hingga kami sampai ke kedai kopi. Dia kemudian bertanya mengapa saya shalat Jum’at. Dae Shik baru kali ini melihat orang shalat Jum’at. Jihun juga sampai kaget saat saya mengatakan bahwa Muslim shalat 5 kali dalam sehari. Lebih kaget lagi dia saat saya ceritakan tentang sholat shubuh yang dilakukan di pukul 4 pagi.

Dae Shik sempat tercengang dan memuji-muji.

You, Moslem must be a tough man. So hard for me to wake up at 4 AM. ”

Saya malah jadi malu sendiri. Pasalnya saya jarang bangun Shubuh.

Sesaat kemudian Jihun tersadar akan sesuatu.

“You said, the one of the time for shalat is at 4 PM. But is already 5 PM. Why you still with us?”

“Oh yeah, but the deadline is until 6 PM,” saya nyengir lebar.

***

Sehabis cangkir di kedai kopi, kami kembali ke kampus. Kali ini naik angkutan. Mereka saling berisi keras berebut untuk mengatakan “kiri”, sebagai tanda mobil berhenti. Membuat mata penumpang lain melirik geli ke arah kami. Hehehe, kocak juga duet oriental ini…

Ternyata rombongan mereka sudah tiba. Kami pun berpisah untuk terakhir kalinya. Mereka akan melanjutkan perjalanan ke kota lain dan langsung kembali ke Korea. Selenyapnya punggung mereka dari pandangan, sayang langsung bergegas. Ada deadline Ashar. Ya Allah maafkan saya telah membuat aturan sendiri tentang deadline shalat.

Advertisements

Written by ray rizaldy

26 February 09 at 3:17 pm

17 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. hahaha deadline ashar…
    lucu pengalaman menarik
    btw emang tulisan ini yang kamu kumpulin ray? dan siapa bilang kami udah punya tema? haha saya juga baru ngerjain subuh2 XD

    anis

    26 February 09 at 3:31 pm

  2. wahahahaha ray. jago dong bahasa inggris lho.

    batari

    26 February 09 at 5:41 pm

  3. Tampaknya orang yang sama dengan yang awak temui nih,. πŸ˜€

    dwinanto

    26 February 09 at 11:17 pm

  4. @anis : hehe iya nis. gak jurnalis banget ya tulisannya. πŸ˜€
    trus punya dikau temanya apa nis? posting juga dong.

    @batari : ah jadi malu. :”>

    @nanto : kayaknya sih iya to, dy nungguin berapa hari di depan meja pingpong tuh. hehehe

    ray rizaldy

    26 February 09 at 11:22 pm

  5. Saya jadi pengen ngomong inggeris denganmu hehehe
    hahaha saya juga pernah ketemu orang “truely china” lagi dateng ke sini. mereka ga tahu apa itu agama…

    saya beruntung sekali πŸ™‚

    tukangobatbersahaja

    27 February 09 at 12:07 pm

  6. dasar negara dengan orang2 bermental inferior… :”>

    sigit

    28 February 09 at 11:22 pm

  7. @sigit

    lo ngomongin ray ato orang korea? πŸ˜€

    jofa

    2 March 09 at 9:33 pm

  8. wahahaha saya nggak mau posting yang punya saya ah, ntar banyak yang kesindir, temanya terlalu sensitif soalnya apalagi buat anak IF: facebook πŸ˜€

    anis

    3 March 09 at 12:39 pm

  9. @tukangobat : wahahaha, nyerah deh daku sama yang udah presentasi sama bule. πŸ˜€

    @sigit&jofa : inferior artinya apa ya?

    @anis : gak apa2 atuh nis. ikut kuliah jurnalis -> siap jadi jurnalis -> siap tulisannya dibaca -> siap meladeni kritikan terhadap tulisan. bukan begitu bukan?
    *ceileh gayanya ray.

    ray rizaldy

    3 March 09 at 10:16 pm

  10. inferior itu artinya gak superior πŸ˜€ CMIIW

    jofa

    4 March 09 at 12:52 am

  11. bwahahahah foto caleg wanted picture

    dan oh dan

    sholat ada deadline nya yak??? :p

    its an amusing one πŸ˜€

    natazya

    7 March 09 at 11:43 am

  12. nice article.

    kapan2 ke Bandung boleh lah minta jadi pemandu, bang Ray.

    sofianblue

    11 March 09 at 4:18 pm

  13. ahaha.. bener juga, jauh2 dateng kesini malah maen PS3.
    mestinya lo kasih tahu gejrot atau STMJ. hahaha

    yasmin

    21 March 09 at 1:34 am

  14. @sofianblue : hehehe boleh2. mau dianter ke rental PS3 yang mana bang?

    @yasmin : wah iya ya. coba kepikiran. mereka suka gak ya? huehe

    ray rizaldy

    21 March 09 at 2:08 am

  15. wanted picture!!
    nice gan! πŸ˜€

    rani!

    2 April 09 at 6:49 pm

  16. hahahaha… deadliner sholat juga

    Catra

    22 May 09 at 2:34 am

  17. ah anak2 ITB pada ga nalar. masak ga tau artinya inferior. inferior lawannya outferior..lalu artinya..kan ada kamus.. nyari sendiri lah….

    mario

    28 July 10 at 9:05 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: