kribo

penulis malas

After Pray Talks

with 8 comments

Monitor TV

Sejak awal semester 2, komputer di rumah saya boyong ke kos. Komputer tersebut saya gunakan hingga awal tahun ke-3. Setelah itu, saya dapat hibahan laptop dari papa. Komputer mulai jarang digunakan. Karena kamar saya semakin penuh, CPUnya saya angkut ke sekre Boulevard. Hitung-hitung supaya ada mainan di sekre. Komputer di sekre sebelumnya sudah tewas, kemungkinan karena kabelnya yang dikencingi kucing. Rupanya senasib, CPU yang saya bawa itu pun ikut tewas. Kali ini bukan kucing pelakunya, melainkan manusia. Hard drive, kartu grafis, serta keping-keping memori raib dari tempatnya. Huh, pencuri sekarang makin jago membredel CPU. Makin pantek (pandai teknologi) juga mereka ya.

Tinggal monitornya di kos, yang hingga beberapa bulan lalu tergeletak begitu saja. Beberapa teman saya menyarankan untuk menyulapnya jadi televisi, pakai TV Tuner. Tapi mahal, dompet saya menolak membelinya. Kalau gratis boleh deh. Hehehe, dasar pelit. Lagipula saya memang tidak terlalu berhasrat punya televisi. Malah rasanya tanpa televisi di kamar, saya sudah terlalu banyak menonton. Saat menunggu jam kuliah di sekre Boulevard atau saat iseng ke kamar teman sekos, pasti ada saja siaran televisi mampir ke depan mata.

Kira-kira akhir tahun lalu, orang tua saya berkunjung ke Bandung. Tebak apa yang mereka bawa! TV Tuner. Saya kecanduan menonton televisi. Kini tiap pulang kampus, sebelum berangkat ke kampus, atau saat senggang di kos, saya habiskan waktu dengan menonton. Saya menonton Spongebob, film-film televisi seperti Cinta Anak Petinju, Beauty And The Bus dan judul-judul aneh lainnya, juga reality show : Termehek-Mehek yang kehebatannya melebihi polisi, The Master yang saya lebih suka menyebutnya Sulap-ian Idol, acara memasak seperti Ala Chef dipandu Farah Quinn dan beberapa serial. Oh ya, saya paling suka serial Kepompong di SCTV. Ceritanya tentang persahabatan ringan dan mudah dicerna. Cewek-ceweknya juga imut-imut. Huehehe.

Saya juga suka menonton siaran berita. Untuk ini, saya paling suka menyaksikan Chantal Della Conceta membacakan berita di RCTI. Di urutan selanjutnya Tina Talisa, di acara Apa Kabar Indonesia, TV One. Dan tidak lupa juga Ersa Mayori di acara Insert Siang.

Sebenarnya saya bingung dengan berita atau kalau boleh saya sebut jurnalisme ala televisi di Indonesia. Yang saya ketahui, berita berperan dalam pembentukan opini publik. Dengan demikian orang-orang yang membaca, mendengar, atau menonton berita minimal hatinya akan tergerak untuk melakukan suatu perubahan.

Pada media cetak, orang minimal harus mengeluarkan sedikit keringat atau uang untuk mendapatkan berita dan dia juga bebas memilih berita yang diinginkannya. Sulit memaksa orang membaca suatu media cetak jika dirinya memang tidak niat. Sebagai contoh, saya pernah mati-matian menawarkan majalah Boulevard tetapi ditolak. Alasannya : mending beli tabloid BOLA. Contoh lain jika saya tidak suka baca TEMPO, untuk apa saya beli. Lebih baik beli PC Media yang jelas pasti saya baca. See? Orang bebas memilih apakah dia mau membaca tentang dunia kampus atau tentang sepak bola dunia, apakah tentang politik-hukum-ekonomi yang bikin pusing atau tentang komputer yang bisa bikin refreshing.

Pada televisi, orang dicekoki berbagai materi: ada berita, ada gosip, hiburan, dan lain-lain. Akan sulit bagi orang memilih yang diinginkan. Misalnya, saat menunggu jam kuliah, bisakah saya memesan “Hey, TV saya mau nonton olahraga dong”? Di luar negeri mungkin bisa, tinggal pindah ke saluran Star-Sport. Di Indonesia belum. Di sini, stasiun televisi berebut menjadi stasiun berita terkemuka, stasiun hiburan termeriah, stasiun gosip terpanas, bahkan stasiun dangdut ter-muter-muter goyangannya. Waktu tayang pun sama, ketika stasiun satu menyiarkan Ponari ingin kembali bersekolah, stasiun lain tak kalah dengan berita guru Ponari datang mengajar ke rumah. Satu bergosip Julia Perez selingkuh, pada jam yang sama stasiun lain meliput Julia Perez akan bercerai. Bingung saya mau menonton yang mana.

Karena sulit memilih, orang jadi terima saja tayangan itu. Misalnya saat makan siang, dimana para eksekutif, mahasiswa sampai tukang becak sekalipun menghabiskan waktu di kantin atau warteg yang menyediakan televisi. Semuanya lalu menyaksikan berita tentang dukun cilik Ponari. Beberapa orang mungkin bisa menyaring dan bersikap rasional terhadap berita tersebut. Sisanya? Mungkin akan ikut antrian panjang bus ke Jombang.

Kira-kira minggu lalu, saya menonton Apa Kabar Indonesia Malam. Isunya mengenai aliran taubat (lupa saya nama alirannya). Dalam acara diundang wakil dari MUI Pusat, serta pemimpin aliran taubatnya – yang sayangnya hanya ikut berdiskusi melalui telewicara. Dalam diskusi, pemimpin aliran taubat ini lancar saja dalam berargumen dan menjawab pertanyaan. Misalnya saat ditanya mengapa yang ingin taubat harus membayar 4 juta Rupiah, dengan santai dia membaca surat Al-Kautsar lalu bertanya bukankah Allah memerintahkan untuk berkorban.

Kebalikannya, wakil MUI seperti kehabisan argumen. Sempat Tina Talisa menanyakan pendapatnya mengenai sesat atau tidaknya aliran tersebut. Yang muncul malah sebuah pengelakan : “Saya baru dengar aliran ini 2-3 hari yang lalu”. Lame…

Saya membayangkan jutaan orang Indonesia sedang menonton siaran tersebut. Saya mungkin masih berpikir bahwa wakil MUInya saja yang kurang kompeten. Di kepala yang lain mungkin malah timbul niat untuk ikut aliran taubat 4 juta itu. Ini yang membuat saya bingung. Jika isu seperti ini hanya di surat kabar atau majalah nasional, hanya orang-orang yang dengan sadar membelinya lah yang mendapat isu tersebut. Dan dari yang sadar itu saya lumayan yakin otaknya sudah lebih rasional. Tapi entahlah, bingung saya juga.

***

Setelah sholat jumat siang tadi, saya menguping kumpulan orang yang bicara di depan masjid. Saya mendapati mereka sedang mencari tahu tentang primbon. Entah kenapa, tapi saya langsung terpikir tulisan ini. Apa berita di televisi sekarang primbon sedang tren ya?

Advertisements

Written by ray rizaldy

21 February 09 at 7:13 am

8 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Masukin ke boulevard aja, Ray,.
    Barangkali ada yang menemukannya di area kampus dan sekitarnya,. 😛

    dwinanto

    21 February 09 at 10:24 am

  2. media vs. bisnis-berorientasi-keuntungan…

    reiSHA

    21 February 09 at 2:13 pm

  3. Memang unik media yang satu ini, kalangan penontonnya terlalu luas ray..
    Sistem rating sekarang (DW/BO/SU) kayaknya masih kurang efektif y, toh bener yang lu sebut, sesama orang dewasa aja interpretasinya bisa beda2.. Mungkin perlu dibikin sistem rating baru yang lebih spesifik ya, seperti 22PBDGSMUISNGRGJ (yang boleh nonton yang berusia min 22 tahun, islam, pria, asli bdg, lulusan smu, islam, sudah nikah, ga merokok, ga judi) 😀

    irfanhanif

    21 February 09 at 5:04 pm

  4. ayo semuanya mari kita puasa nonton tv, denger lagu/musik, nonton dvd, denger gosip.

    sigit

    22 February 09 at 11:08 am

  5. bru mw nanya kpn ngeupdate lagi…eh..dapat laporan pandangan mata gene

    iyra

    22 February 09 at 5:36 pm

  6. ray ray kangen deh gue baca tulisan lo. hehe.

    batari

    22 February 09 at 10:37 pm

  7. wew, iya ray, tayangan TV sekarang emang nggak ke-filter, hingga yang masuk ke otak para pemirsanya asal, mungkin malah banyak sampah yang menyesatkan.
    tapi mau gimana lagi sepertinya indonesia belum masuk ke budaya tulisan, masih di budaya lisan tingkat dua ray wakwakwak XD

    anis

    23 February 09 at 9:47 am

  8. @nanto : apanya to? berita kehilangannya? daku udah pernah bikin pengumuman kehilangan. hasilnya beberapa barang dikembalikan tapi tidak harddisknya. huhuhu

    @sha : ya tergantung tujuan medianya juga bukan sih? tujuannya uangkah? atau yang lain? TVRI karena tujuannya sebagai lidah pemerintah ya dari dulu isinya berita2 propaganda. CMIIW

    @irfan : gak usah bikin aturan baru. yang lama aja asal ditaati dan diawasi secara disiplin daku rasa cukup

    @sigit : i didn’t mean it git. dakunya aja masih suka nonton. 😀

    @iyra&bat : hehe. thx for waiting.

    @anis : hehehe, yang abis kuliah jurnalisme nih.

    ray rizaldy

    26 February 09 at 11:39 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: