kribo

penulis malas

Uncertain

with 8 comments

Sedari kecil dahulu saya selalu dididik dengan keras oleh orang tua saya, khususnya papa. Tiap kali ada hal yang beliau anggap perbuatan nakal, merah-merahlah pantat saya kena sabetan tangannya. Pernah suatu waktu, menjelang musim hujan, saya dilarang bersepeda. Namun, saya membandel ikut teman-teman bermain polisi-polisian dengan sepeda. Waktu itu angin berhembus dengan kencang. Saking kencangnya, angin tersebut meruntuhkan beberapa buah durian yang bergantung di pohonnya. Salah satu durian itu jatuh tepat di ban depan sepeda teman saya. Penyok pelek ban itu dibuatnya. Permainan pun diakhiri. Kala orang tua yang lain memeluk anaknya yang selamat, papa justru menunggu saya dengan sabetan mautnya di depan rumah.

Saking kerasnya orang tua saya, saya jadi lebih sering berada di rumah. Bermain sepeda dilarang. Sejak hidung saya meler berdarah kena bola, permainan sepak bola juga tak dibolehkan. Waktu anak lain main dengan gembira saat lebaran, saya tak keluar bermain kembang api, takut meledak katanya. Lalu gara-gara sekujur tubuh saya memerah kena ulat bulu, saya jadi dilarang memetik dan memanjat pohon jambu lagi. Permainan saya yang tersisa tinggal satu, nintendo. Akhirnya jadilah Ray, anak yang kuper, cupu dan anak mami.

Saya bisa sedikit bebas sejak adik ketiga saya lahir. Saya mulai memahami alasan-alasan orang tua melarang. Tapi saya juga jadi tidak percaya diri. Tidak percaya diri dan takut untuk melakukan apa-apa. Karena setiap kali saya menggambil keputusan melakukan sesuatu pasti akhirnya berbuntut masalah. Misalnya ketika saya dikejar-kejar suporter ngamuk, mama menyalahkan saya yang sok bermain bola. Saat saya diserempet motor, mereka malah bertanya : siapa suruh ngotot naik sepeda. Dan itulah, saya akhirnya cuma menurut saja. Hidup saya sebagian besarnya jadi ditentukan oleh orang tua. Masuk SMP ini, lalu lanjut ke MAN itu.

Baru sejak lulus MAN saya diberikan kebebasan sepenuh-penuhnya. Eh belum penuh ding, keinginan saya untuk kuliah di fisika murni ditolak secara halus oleh mama. Katanya keluar dari situ hanya akan menjadi dosen bergaji kecil. Lagipula sayang katanya, nilai saya cukup tinggi untuk masuk major yang tinggi passing gradenya. Karena gengsi itu, ditambah hasil tes minat-bakat, akhirnya saya memilih Teknik Informatika ITB. Waktu itu passing gradenya merupakan tertinggi di Indonesia.

Tahun pertama saya lewati dengan bahagia. Setidaknya karena ada mata kuliah kesenangan saya, Fisika, saya masih bisa melewatkan tahun ini dengan IPK di atas 3,0.

Di tahun kedua saya kehabisan motivasi. Nilai saya jatuh bebas. Kadang muncul perasaan bahwa saya salah masuk jurusan. Tapi perasaan itu berusaha saya tepis. Saya masih merasa beruntung masuk program studi bergengsi tinggi ini. Jika tidak, mungkin saya akan benar-benar jadi gagap teknologi.

Karena nilai yang ambruk di tahun sebelumnya, saya jadi tak bisa mengikuti jejak teman-teman saya. Di tahun ketiga, mereka mulai mengambil mata kuliah pilihan yang disukainya. Saya? Saya mengambil paket regular tanpa tambahan : 18 sks saja. Saya tak berani mengambil resiko mengingat cerita-cerita dari senior bahwa tahun ketiga adalah tahun terberat. Tak diduga, perlahan nilai saya beranjak.

Dan kini, saya berada di tahun (yang seharusnya menjadi tahun) terakhir saya. Penyakit kronis saya kambuh. Saya kembali menjadi tidak percaya diri. Pengecut. Saya tidak percaya diri memilih topik Tugas Akhir. Saya tidak yakin dengan mata kuliah yang saya ambil. Saya takut untuk menyatakan sikap saya. Saya jadi tidak percaya lagi dengan mimpi saya untuk studi ke Perancis. Saya bahkan mulai bertanya-tanya apakah keputusan-keputusan yang saya buat selama ini benar. Parahnya saya bahkan takut dan tidak yakin dengan diri saya sendiri.

Haduuuuuh, kenapa sih si Ray ini. Please help him God. Yakinkanlah dia untuk menempuh jalan yang benar. Yakinkanlah dia untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Amin.

Advertisements

Written by ray rizaldy

8 September 08 at 7:26 pm

Posted in raie

Tagged with , ,

8 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Be the first to comment

    sigit

    8 September 08 at 9:59 pm

  2. Beginilah jadinya Indonesia kalau jurusan kuliah dipilih berdasarkan gengsi, bukan berdasarkan minat dan bakat. Dari dulu gw sebagai anak SR selalu dihina2 anak teknik/IPA Ray, tapi gw cuek saja. Sebaliknya, gw gak pernah ngebales ngehina anak teknik. Sebetulnya, gw memang gak pernah menghina siapapun.

    Ray, be a freeman!

    “And I, want you get free
    Talk to me
    I can feel you fallin…”

    Btw buat apa ke Prancis? Di Indonesia masih banyak hal yang bisa kau benahi.

    sigit

    8 September 08 at 10:06 pm

  3. Tadi baca bagian ini…

    “Tiap kali ada hal yang beliau anggap perbuatan nakal, merah-merahlah pantat saya kena sabetan tangannya”

    Pertama liat, sabetan pedang… Serem abis…

    Zakka Fauzan Muhammad

    8 September 08 at 10:07 pm

  4. always think two and three step ahead…
    with your age now, you can choose your own destiny…
    your life is your own path, parents and others just give an alter 4 u…
    So be wise…
    (makanya pacaran jgn single mingle*loh pa hubung’a ya???*cari sndri dgn akal mu)…
    Ke rome aja banyak jalan dan cara, masa ke france aja bingung, ayuh googling info…
    Semangat…

    yd.gobel

    9 September 08 at 8:23 am

  5. orang tua kan pasti lebih tahu yang baik buat kita, tapi untuk sesuatu yang terbaik buat kita musti ditentuin sendiri..

    adhie

    9 September 08 at 10:29 am

  6. nurut aku..kamu sekarang adalah pilihan terbaik yang disediakan Allah (eh lu muslim kan?), lu yang ga beranian, lu yang dimarah2in cuma jalan allah biar lu ga masuk fisika murni..haha…
    jadi apa yang sekarang pasti yang terbaik..
    soal ga pd..duh..power of mind loh…klo lu mikirnya A, ya yang lu dapat pasti A..jadi klo mau ke prancis…pikirin tu prancis terus-terusan..yakin kalau bisa..some how…lu udah posting blog dari sono..
    ayo semangat!!

    Ra

    10 September 08 at 7:56 am

  7. @sigit : what’s done is done. tapi daku gak mau jadi preman ah git. males nato badan dulu πŸ˜›

    @zakka : hehehe, sebenernya ada aura supersaian yang keluar juga dari badannya *ngayal

    @yd.gobel : jdah, nyambung2nya tetep aja itu. thx anyway coz

    @adhie : iya ya, jadi kerasa kayak siti Nurbaya deh πŸ™‚

    @Ra : makasih ya mbak. semangat juga TA nya πŸ˜›

    ray rizaldy

    15 September 08 at 12:59 pm

  8. amiiiiiiiiiin, smoga yang terbaiiiiiiiiiiik. πŸ˜‰

    nadya fadila

    26 September 08 at 12:56 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: