kribo

penulis malas

‘Bolang

with 10 comments

SUDAH jam 4 kurang, Irfan belum juga datang. Sebelum meninggalkannya di tukang tambal ban tadi, dia bilang akan menyusul 15 menit kemudian. Tapi mungkin ban motornya langka sehingga sulit ditambal dalam waktu 15 menit. Kami sudah menunggunya hampir sejam.

Firman sudah mulai kehilangan semangat. Dia bilang, jika baru berangkat sekarang tidak akan sempat melihat sunset. Sementara itu, Dudin, Ewa dan Ibun tetap santai sambil bermain Pro Evolution Soccer di komputer. Saya sendiri bersama Husein menunggu di teras C-19, dimana saya, Dudin, Ewa dan Ibun ngekos.

Beberapa menit kemudian, suara berisik motor menandakan orang yang ditunggu sudah datang.

“Hoi Irfan dah dateng, ayo siap-siap”, teriak saya dari depan.

Setelah berbenah, kami baru berangkat dari kos. 2 tas ransel 80lt berisi pakaian dan makanan pada pundak Firman dan Dudin. 2 set tenda di tangan Husein. 2 sleeping bag terbungkus rapi di bahu Ibun dan Ewa. Beberapa botol minyak tanah dibungkus kantong plastik yang dipegang Irfan. Dan terakhir, sekantong plastik besar cemilan yang jadi tanggung jawab saya. Hehe.

“Kenapa harus bawa plastik? Kenapa nggak ransel aja?” kata Irfan.

Sayangnya Irfan sadar saat perjalanan sudah dimulai. Akhirnya kami membiarkan diri dilihat seperti orang habis belanja ketibang orang yang akan pergi berkemah. Kami terlalu banyak menenteng kantong plastik soalnya.

Kira-kira jam 6 kami sampai di Wana Wisata Jaya Giri. Satu hal terlupa kami bawa, air minum. Kami harus membelinya sebelum masuk ke hutan. Supplier power – high when buyers have few choices of whom to buy from, and low when there are many choices. Ternyata prinsip porter yang diajarkan di kuliah saya, telah lama dipelajari oleh masyarakat setempat. Karena tak punya pilihan di tempat lain, kami menurut untuk membeli air mineral seharga 6000 rupiah per 1,5 liternya.

***

012108-1010-bolang1.jpg

MATAHARI benar-benar tenggelam, dan kami belum juga sampai tujuan. Firman, sebagai penunjuk jalan, mengatakan bahwa baru sampai setengah perjalanan. Kami berhenti sebentar untuk mencari alat penerangan. Saya dan ibun ricuh beberapa saat karena senter, yang katanya hanya satu-satunya, di letakkan di dasar ransel. Tapi akhirnya lampu minyaklah yang kami gunakan sebagai penerang.

Sebenarnya saya ingin sekali buang air, tetapi saya ingat cerita tetua-tetua di Gorontalo dulu. Jangan sembarangan kepada hutan, bisa kena kutuk nanti. Banyak pemuda-pemuda yang hilang saat masuk hutan karena sembarangan kepada hutan. Saya tidak tahu sembarangan apa yang dimaksud. Tapi saya kira kencing sembarangan juga termasuk di dalamnya. Jadilah saya menunda hajat tersebut, entah sampai kapan. Berita melegakan dari firman, bahwa dekat tempat kemah ada MCK. Ya mudah-mudahan saya bisa tahan sampai tujuan.

***

012108-1010-bolang2.jpg

KAMI sampai tujuan, jam setengah 8 kalau tidak salah. Tanahnya tak lagi curam tapi landai, mungkin karena sudah di puncak pendakian. Dari puncak sini terlihat bahwa kota bandung sedang dirundung mendung, gelap. Kami bergegas memasang tenda, awas-awas jika mendung mencapai kami dalam bentuk hujan.

Siap-siap selesai. Tenda sudah berdiri. Hajat saya tadi sudah ditunaikan. Mendung sudah hilang, kota bandung sudah kembali terang. Sekarang acara utama, api unggun. Berbekal kayu yang kami kumpulkan saat pendakian tadi, kami kemudian menghangatkan diri. Dan dilanjutkan dengan bakar jagung dan ayam.

Setelah cukup lelah, kami memutuskan masuk ke tenda, tidur.

***

012108-1010-bolang3.jpg

“DUDIN kentuuut”, teriakan Ibun di tenda sebelah membangunkan saya.

Hari sudah pagi. Matahari baru akan muncul dari balik gunung. Tapi sinar indahnya seakan bisa menghangatkan dinginnya pagi. What a wonderful world yang telah Allah ciptakan. Bahkan kamera yang telah lama diciptakan manusia masih belum mampu menangkap semua keindahan yang terlihat.

Saya membayangkan bisa menikmati pemandangan indah ini bersama si dia. Dia? Siapa pula si dia yang saya punya. Hahaha. Aduuuh, sudah-sudah. Deperate mode: OFF.

Setelah puas memandangi dan mensyukuri nikmatNya, kami mencoba mengisi perut. Kami memasak mie instan yang kami bawa. Karena keterbatasan piring dan sendok, kami makan dengan bar-bar. Semua tangan masuk dalam satu wadah berisi mie, berebutan. Dalam hitungan detik wadah sudah kosong. Semua isinya masuk ke lambung kami bertujuh.

***

012108-1010-bolang4.jpg

Jam setengah 9 kami berbenah. Saatnya pulang. Kami kembali melalui lintasan tadi malam. Gelap dan seramnya suasana tadi malam telah berganti. Pemandangan jejeran pohon yang indah berada di sekeliling kami kini.

Tidak puas melalui lintasan umum, Firman mengajak kami melalui lintasan yang lebih bersemak. Jalannya benar-benar sempit kali ini. Saya sendiri hanya bisa melihat Ibun dan Husein, yang kebetulan berada di depan dan belakang saya. 4 orang di depan sulit terlihat karena semak.

Saat melalui lintasan penuh semak ini, terdengar suara gongongan anjing dan orang berteriak : Lari!!! Saya otomatis panik, saya punya trauma dikejar anjing waktu kecil dulu. Tapi sepertinya Ibun punya trauma yang lebih parah. Saat saya berbalik ternyata Ibun sudah jauh berlari di belakang kami berenam. Untung saja empunya anjing datang, dan memastikan kami bisa melanjutkan perjalanan.

***

012108-1010-bolang5.jpg

Kami keluar hutan dengan selamat dan utuh. Sebelum pulang, kami memutuskan untuk pergi ke pabrik susu dan membeli beberapa liter. Saking hausnya, susu yang baru dibeli langsung kami sikat di angkot.

Oh ya, selama perjalanan entah kenapa Ewa, Ibun dan Dudin selalu menyebut ‘Bolang’ sambil sesekali menyanyikan lagu.

Saya si Bolang

Si bocah petualang

Advertisements

Written by ray rizaldy

21 January 08 at 4:59 pm

Posted in raie

Tagged with ,

10 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. wah keren jalan2nya…

    cewektulen

    21 January 08 at 5:49 pm

  2. seru sekali, ray. penceritaannya bagus. tapi bagian desperate mode : off itu looooh, ga nahan. hahahaha.

    batari

    21 January 08 at 6:10 pm

  3. Eh. itu kemana sih? Curug maribaya ya?
    hohoho, gimana Ray penantian di LFM?

    ikazain

    23 January 08 at 2:56 pm

  4. @cewektulen : iya donk…hehehe

    @batari : makasiiii batariiii

    @ikazain : berisik nih…

    ray rizaldy

    24 January 08 at 3:42 pm

  5. ray rizaldy:
    Saya membayangkan bisa menikmati pemandangan indah ini bersama si dia. Dia? Siapa pula si dia yang saya punya. Hahaha. Aduuuh, sudah-sudah. Deperate mode: OFF.

    *ketawagulingguling*

    eh, postingan gw udh diedit. smoga lebih menjelaskan 😛

    rani!

    26 January 08 at 7:36 pm

  6. wah seru, saya udah lama nggak kemping, terakhir pas SMP…
    nggak ada cerita tentang mandi? hehe iyalah ya siapa juga yang mandi saat kemping 🙂

    anis

    27 January 08 at 9:56 am

  7. (kok komen tadi nggak sampai ya?)
    wah kangen ma kemping-kempingan, terakhir pas SMP…
    btw, nggak ada ceritanya kalian mandi… 😀 ya iyalah, siapa juga yang mandi pas kemping? 😀

    anis

    27 January 08 at 2:33 pm

  8. Seru sekali, berbeda dengan pengalaman pertama urang naik gunung, yaitu pelatihan dengan suasana penuh kedisiplinan dan pembentukan mental (dan fisik,. ^_^)

    Dwinanto Cahyo

    30 January 08 at 1:36 am

  9. @rani! : maaf2, sampe diganti…

    @anis : dah gitu, gak sika gigi jgua malah…hahaha

    @nanto : untungnya ini bukan ospek to, kan mau represying… hwehehe

    ray rizaldy

    5 February 08 at 3:54 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: