kribo

penulis malas

Takbiran Pertama

with 3 comments

Allahu akbar…Allahu akbar…Allahu akbar, Laa ilaaha illallahu Allahu akbar”

Saya terbangun masih dengan pakaian sholat lengkap dengan peci hitamnya. Saya tertidur di masjid lagi ternyata. Entah kenapa, sejak masuk penjara suci ini, saya jadi sering tertidur di Masjid. Nyaman sekali rasanya.

Sekeliling saya tersisa beberapa siswa juga seorang guru duduk berkumpul. Sang guru menggenggam mikrofon sambil melafalkan sesuatu. Setelah itu, siswanya mengikuti kalimat-kalimat yang diucapkannya.

Menyadari saya bangun, guru itu berhenti sejenak dan memberikan mikrofon kepada yang lain. Beliau mengisyaratkan saya untuk segera mengambil wudhu. Saya menurut. Setelah kembali, beliau menawarkan segelas kopi dan pisang goreng. Meski tidak suka kopi hitam, saya tetap terima tawarannya. Kopi yang masih hangat itu membuat saya lebih segar.

“Kamu hafal semua?” tanya sang guru mengacu kalimat yang sejak tadi dilafalkannya.

“Belum Pak. Saya belum pernah ikut takbiran di masjid.

Beliau mengambil secarik kertas, menuliskan kalimat-kalimat dalam bahasa Arab, lalu memberikannya pada saya. Saya lalu bergabung bersama siswa lainnya. Sang guru kembali memegang mikrofon dan lalu melafalkan semua yang ditulisnya tadi.

Lewat tengah malam, Beliau pamit pulang. Mikrofon ada di tangan saya sekarang. Isi kertas yang tadi diberikan mulai saya hafal di luar kepala. Kalimat-kalimat agung itu kembali berkumandang dari pengeras suara masjid. Kali ini suaranya berbeda, suara saya sendiri.

Allaahu akbar… Allaahu akbar… Allaahu akbar, Laa ilaaha illAllahu Allahu akbar…, Allahu akbar wa lillaahil hamdu

Allaahu akbar… Allaahu akbar… Allaahu akbar, Laa ilaaha illAllahu Allahu akbar…, Allahu akbar wa lillaahil hamdu

Allaahu akbar… Allaahu akbar… Allaahu akbar, Laa ilaaha illAllahu Allahu akbar…, Allahu akbar wa lillaahil hamdu

Allahu akbar kabiiro, Walhamdulillahi katsiiro, Wa subhaanallahi bukrotan, wa Ashiila, Laa ilaaha illallah, Shodaqo wa’dah, Wa nashoro ‘abdah, Wa a’azza jundahu, Wa hazamal ahzaaba wahdah, Laa ilaaha illAllah, Wa laa na’budu illa iyyah, Mukhlishshiina lahud diin, Wa law karihal kaafiruun, Laa ilaaha illAllahu Allahu akbar, Allahu akbar wa lillaahil hamdu.

  • Insan Cendekia, Februari 2003
Advertisements

Written by ray rizaldy

21 December 07 at 5:40 pm

Posted in raie

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. leave a comment without no comment..
    (jujurnya gw pengen jg ray..)

    gio

    22 December 07 at 12:50 pm

  2. pasti kangen ma situasi kayak gitu lagi ya? yup suatu kebahagiaan yang emang nggak bisa dijelaskan kecuali dirasakan langsung…
    “penjara suci” kayak apaan aja ray…
    btw seudah kamu gantiin takbiran, orang-orang nggak pada kabur kan? 😀

    anis

    22 December 07 at 10:04 pm

  3. @gio : dikau pengen apanya io, mau tidur di masjidna? 😛

    @anis : hehe, iya ni. sejak lulus malah ga lanjut lagi.
    daku sebut penjara suci : penjara karena kebebesan daku direbut, tapi untuk tujuan yang suci insyaAllah:)

    ray rizaldy

    26 December 07 at 9:59 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: