kribo

penulis malas

J’ai eu la fièvre

with 9 comments

Huaaaaa…

Akhirnya kembali juga. Lama sudah saya meninggalkan Bumi Sangkuriang. Tepat dua minggu saya tinggalkan kamar kost dalam keadaan berantakan. Sedih juga, sampainya di Bandung dan mulai ikut kuliah sejak kemarin pagi saya merasa sangat ketinggalan. Tidak enak berlibur terlalu lama.

Kamis dua minggu sebelumnya saya menyelesaikan UTS terakhir. Sistem Operasi, kuliah dengan buku setebal hampir 1000 halaman, membuat saya harus begadang di malamnya. Dinginnya bandung, plus hujan datang membuat badan saya gemetaran. Berusaha menahan dingin, saya bersama beberapa teman kost memesan mie rebus untuk penghangat. Bukannya tambah semangat, teman-teman saya malah teler kekenyangan. Akhirnya mulai pukul 1 dini hari, tinggal saya yang bertahan. Kenapa? Karena di antara mereka yang paling lambat daya bacanya adalah saya. Saya baru membaca bab pertama, mereka sudah review bab 3. Jadi butuh waktu lebih supaya saya bisa selevel dengan ilmu mereka. Selain itu ada cewe iseng ngerjain saya lewat sms, entah siapa.

Ujian pagi itu akhirnya berlangsung sukses. Syukurlah catatan sangat membantu. Sebagian besar yang saya baca di catatan muncul di soal. Sebaliknya, usaha membaca ratusan halaman di buku teks malam itu hampir sia-sia. Senang? Tidak juga saya mulai merasa keanehan pada badan saya. Saya segera pulang, kehujanan, beli makanan, mandi, lalu makan. Saya pikir, alangkah baiknya kalau waktu makan dibarengi dengan menonton. Dua episode serial Heroes sudah menunggu untuk ditonton sejak awal ujian. Saya cuma menonton satu episode bahkan kurang. Setelah itu, buram, saya tertidur. Hampir Maghrib saya terbangun, keadaan sudah lain. Pusing dan pilek, demam agaknya.

Demam bertambah parah hingga hari selanjutnya. Saya hanya terdiam di kasur, padahal ada agenda futsal. Hiyaaaa, ingin rasanya bergerak dan berteriak di lapangan futsal sekedar untuk merayakan selesainya masa UTS. Sayangnya hal itu tidak terjadi. Biasanya walau sakit saya tetap ikut bermain, dan biasanya lagi sembuh keesokan harinya. Tapi kali ini demam sudah terlalu kuat menggerogoti badan saya. Bahkan untuk membeli makanan pun saya hanya bisa menitipkan pesanan kepada seorang teman. Dan parahnya lagi, nafsu makan saya berkurang drastis. Biasanya walaupun sakit, saya tetap lahap, kali ini tidak.

Minggu pagi, sedikit tenaga dan rasa lapar menguatkan saya untuk membeli makan sendiri. Ibun, teman kost yang biasa dititipi untuk membeli makanan, bukanlah mahasiswa yang gemar sarapan. Apalagi di hari minggu, itu hari hibernasi baginya. Yah baiklah, hitung-hitung dia sering membawakan makanan pesanan saya, kali ini saya membalas budi. Sekarang boleh saja dia menitipkan beli sarapan.

Sial, saya lupa, hari minggu, warung makan di sekitar kost semua tutup. Akh, jadi harus berjalan lebih jauh. Untungnya, dengan cepat saya menemukan seorang kaki lima yang menjual Lontong Kari. Saya kemudian terlibat percakapan dengan sang ibu penjual.

Penjual : “Beli berapa dek?”

Saya : “Dua Bu, yang satu porsinya setengah aja” (berhubung nafsu makan sedang ngadat)

Saya : “Udah Bu segitu ajah” (waktu dia sedang memotong, kira-kira baru 6 potong lontong)

Penjual : “Segini ajah? Ini mah sepertiga juga belom dek”

Saya : “Oh gak apa-apa bu segitu aja

Nampaknya sang penjual punya kesimpulan sendiri

Penjual : “Emang dek, kalo cewek makannya susah”

Saya : Kebingungan, tidak mengerti apa maksudnya (hanya tersenyum)

Penjual : “Cewek yang tadi juga begitu, ngebingungin pacarnya, makannya dikit banget” (dia bercerita pasangan pembeli sebelumnya yang memang berpas-pasan dengan saya tadi)

Saya : (mulai tersambung dengan maksud si Ibu Penjual. Dan saya malu mengatakan jika lontong yang tidak sampai sepertiga porsi itu adalah untuk saya sendiri) “Oh, iya. Cewek yang ini juga susah banget makannya bu. Dia lagi sakit sih bu”

Penjual : “Nah, ieu pantes. Apalagi kalau lagi sakit begitu dek. Ckckck” (berdecak)

Beberapa detik kemudian

Penjual : “Pakai telor nggak dek?”

Saya : (Saya tidak pernah suka dengan telur rebus. Tapi Ibun, dia pasti minta yang komplet) “Punya saya pake, yang sedikit itu gak usah.”

Penjual : “Sambel?”

Saya : (Waduh… Ibun bilang jangan pedas, tapi saya butuh. 2 hari terakhir makanan yang dimakan terasa hambar sekali) “Oh, yang porsinya sedikit pake sambel bu, yang satu lagi nggak usah”

Penjual : “Aduh riweuh ini teh ceweknya dek”

Saya : (bingung lagi, ya sudah saya mencoba cerdik) “Kasian bu, udah dua hari dia bilang makanannya hambar. Jadi kasihin aja deh. Dikiiiit aja bu!”

Penjual : “Oh kitu nya? Sakit apa dek ceweknya? Udah dua hari?”

Saya : (iiih, terlalu banyak pertanyaan nih) “Iya, kena demam. Berapa bu harganya?”

Penjual : “Tujuh Rebu aja dek”

Saya : (memberikan uang, untung bawa uang pas. Lalu bergegas pergi sebelum pertanyaan datang lagi)

***

Ternyata demam saya tak kunjung usai. Tepat, orang tua menelepon dan dengan nalurinya yang hebat Mama bisa tahu saya sedang sakit. Beliau menyarankan untuk pulang saja ke Bekasi. Saya menolak hari senin esoknya, ada kuliah SI, dosennya terkenal disiplin dalam hal presensi. Saya sudah 4 kali absen. Jika lebih dari itu, saya tidak perlu heran jika mendaftar kuliah yang sama di tahun depan.

Keesokannya saya tetap tumbang dan tidak masuk kuliah. Dengan sedikit tenaga yang tersisa, saya dengan bantuan teman pergi ke travel. Saya pulang ke Bekasi.

Demam semakin buruk. Untung saya sudah di rumah. Diagnosa dokter menyatakan saya infeksi amandel. Saran orang tua, amandelnya diangkat alias operasi. No Way!!! Sudah sejak SD saya menolak ide ini. Tes darah berkali-kali
saya tak takut. Tapi kalau operasi, tidak mau. Saya takut dengan kata operasi. Saya seram jika mengingat perut sepupu saya setelah dioperasi. Hiiii.

Yak, syukurlah dengan bantuan antibiotik saya masih bisa sembuh. Walaupun maksa. Kemungkinan kambuh lagi masih cukup besar. Dan inilah saya sekarang. Saya kembali ke bandung. Kangen… entah sama siapa?

Advertisements

Written by ray rizaldy

14 November 07 at 12:37 am

Posted in raie

9 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. cie elah, ceweknya sakit apa tuh?
    haha, jadi maksud lo cewek lo ibun,, loh,,

    semangat ray,
    you’ll find the one you will feed on,,
    oke

    bayu adi persada

    14 November 07 at 7:03 pm

  2. Kangen sama siapa? Paling-paling sama Gio. Gimana, dendam udah terbalaskan belum btw?

    ikram

    15 November 07 at 8:19 am

  3. Aku tau kamu kangen sama aku………mmuach!!!!!

    Anugrah Adeputra

    16 November 07 at 1:55 am

  4. Enak aja hibernasi,, cuma males bangun aja, hehe.. 😛

    Ibun

    17 November 07 at 12:36 pm

  5. sama gue yaaaaaa???? hahahahaha.

    ikazain

    17 November 07 at 4:29 pm

  6. @bayu,dede: daku kangen sama ibun,si cewe jadi2an daku itu.hahaha

    @ikram:gio?bcanda dikau.ga bakal d daku kangenin org itu.
    Lagian daku orgnya g pndendam koq:-P

    @ibun: sama aja dah dikau,plg males klo diajak makan hr mggu.eh skrg udah ada warung makan yg buka hr minggu lho bun,pnjaganya cakep lagi.

    @ika: yah klo adek daku gt anggapannya.gara2 dy baca sms dikau ttg mimpi aneh dikau itu ka.msih inget tak mimpinya?

    Ray rizaldy

    18 November 07 at 1:53 pm

  7. jangan pukul rata, dong, bu penjual lontong. saya cewek, tapi makannya ga susah, lho.

    hihi.

    makanya punya pacar ray, biar kalo sakit ada yang ngurusin. hehe.

    batari

    18 November 07 at 7:24 pm

  8. iya ray, parah banget lo menjomblo begitu… hauhahahahahuahauhaa

    sigit

    18 November 07 at 7:51 pm

  9. Nyet, baru jg sembuh dah sakit lg aja lo………

    Anugrah Adeputra

    21 November 07 at 2:13 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: