kribo

penulis malas

(Kendaraan) Mahasiswa Dilarang Masuk

leave a comment »

Oleh M. Ray Rizaldy dan Dian Shofinita

BOULEVARD ITB

 

 

 Tiba-tiba terlihat banyak tempelan berwarna kuning di sekitar LABTEK XI.

“Bermasalah dengan tempat parkir?”, “Bermasalah dengan kebebasan berorganisasi?”, Begitulah bunyi beberapa isi tempelan kuning tadi. Yang lebih aneh lagi, di belakang pertanyaan itu ada tulisan tinta yang menjawab “YA”.

Sayangnya tempelan ini tak mencantumkan identitas. “Ya itu jailnya anak ITB lah”, begitu menurut Seterhen Akbar Suriadinata (EL’03), Menteri Internal Kabinet KM ITB. Saska, begitu ia akrab dipanggil, menyangkal bahwa tempelan-tempelan tersebut merupakan aksi propaganda Kabinet KM ITB.

Ini bukan satu-satunya bentuk protes tentang regulasi parkir yang diberlakukan baru-baru ini. Sejak semester genap lalu berakhir, Biro Sarana Prasarana mengeluarkan surat Surat Edaran tertanggal 28 Mei 2007 tentang Uji Coba Penggunaan Gerbang Otomatis.

Sistem stiker kini diganti dengan kartu parkir pegawai yang dikenal dengan istilah ‘Smart Card’. Pegawai didata ulang secara selektif untuk mendapatkan akses masuk dalam kampus.

Beberapa poin yang dianggap memberatkan antara lain karena pengguna kendaraan non pegawai ITB tidak lagi bisa membawa masuk kendaraannya di atas pukul 17.00.

Selain itu, pengguna kendaraan tanpa ‘smart card’ yang memarkir kendaraannya di parkir Sipil dan Parkir Utara tidak dapat membawa pulang kendaraannya di atas pukul 17.00.

Jika memang harus berkeperluan di kampus, sebelum terkunci di kedua tempat parkir di atas, pemilik kendaraan harus memindahkan kendaraannya ke parkir Timur. Parkir Timur buka hingga pukul 24.00.

***

Endang Yuliastuti, staf ahli bidang sarana prasarana, menyatakan bahwa ini sebenarnya adalah aturan yang sudah lama berlaku. “Sebenernya sih nggak ada yang berubah, hanya yang dulu pakai stiker, sekarang diganti dengan kartu pegawai,” jelas Yuli sambil menunjukkan buku aturan ITB terbitan tahun 1997.

Menanggapi fakta bahwa aturan ini sudah ada sejak dulu Saska hanya berkomentar, “Sekarang, mahasiswa udah
nggak ngeh kalo peraturan itu pernah ada. Kenapa nggak dioptimalkan dulu komunikasinya?”

“Apa kalau DPR mau buat peraturan tuh harus konsultasi sama seluruh rakyat?” tanya Yuli. Menurut Yuli, memberi masukan adalah hal wajar dan boleh, tapi bukan berarti sebelum buat aturan seluruh mahasiswa harus tahu dulu. Apalagi untuk kasus ini, pihak kampus tidak merubah aturan, “Saya hanya menata.” singkatnya.

Saska menyayangkan kurangnya komunikasi antara pihak rektorat dan mahasiswa sebelum memberlakukan sebuah kebijakan. Menurutnya semua itu itu harus dikonsultasikan terlebih dahulu. “Emangnya kalian siapa? Emang mahasiswa itu konsultan?!” jawab Yuli sambil senyum.

Menanggapi berbagai protes dari mahasiswa, tentang keamanan parkir, Yuli punya solusi gampang, “Kalau mau aman, ya nggak usah bawa mobil”.

“Kalau memang ada kegiatan sampai malam, kita fasilitasi dengan kantong parkir FSRD, sampe saat ini kapasitasnya cukup, nggak pernah penuh. Jadi mau minta apa lagi sih mahasiswanya?”

Pemberlakuan smart card memang berdampak. Dampak protes dari mahasiswa hanyalah bagian kecil, alasan Saska, “Dari segi teknis model, yang baru ini bukan berarti nggak bagus, lebih secure mungkin iya. Tapi dari segi social cost kayaknya kurang.”

Social cost adalah kompensasi bahwa para pengguna dan lingkungannya belum terbiasa pasa sistem tersebut. “Ya yang kayak di gerbang depan. Kalau nggak salah 2 – 3 minggu awal sejak diberlakukan parkir, di depan sama di belakang jadi rame, trus jadi ada tukang parkir entah dari mana yang sebenernya kan g bisa dipertanggungjawabkan, itu bisa dibilang preman lah.” Papar Saska panjang.

“Peraturan ini cukup adil kok!”, Yuli tak mau kalah. Dia kemudian bercerita tentang Wakil Rektor yang mengeluh padanya, karena anaknya harus memarkir kendaraannya di luar kampus. “Ya saya jawab, naik taksi aja” jawabnya enteng, dia tersenyum lagi.

***

Asap tak akan muncul tanpa api. Protes tak akan muncul tanpa sebab.

“Semenjak peraturan itu diberlakukan, kampus jadi sepi dan ada beberapa kejadian kayak himpunan-himpunan banyak kemalingan.” adu Saska. Mantan ketua Himpunan Elektro tersebut menyebutkan nama MTM dan Nymphea sebagai salah satu korbannya.

“Komputernya hilang, tepatnya CPU-nya.”, jawab Suprihani Kartadarma (MT’04). Honey, sapaannya, menjelaskan bahwa saat kejadian pintu himpunannya memang terkunci tetapi jendelanya memang sedikit terbuka.

Sayangnya fakta yang didapat selanjutnya tidak mendukung pernyataan Saska. “Kehilangannya bulan Mei atau Juni, tapi sebelum aturan parkir. Nggak ingat tanggalnya berapa.” Honey mencoba mengingat.

Lalu Nymphea. Kejadiannya serupa, sebuah CPU di sekretariat Nymphea juga raib. Modusnya kali ini berbeda, pintu himpunan milik mahasiswa SITH ini dijebol.

Nymphea melaporkan kehilangannya sekitar seminggu setelah peraturan parkir diberlakukan. “Waktu itu pas rektorat sedang ngadain Latihan Kepemimpinan” ujar Adiguna Sasama (BI’04), mantan ketua Nymphea.

Mahasiswa yang akrab dipanggil Diaz ini merasa yakin kemalingan yang terjadi di himpunannya berkaitan dengan pelarangan mahasiswa memasukkan kendaraannya. “Biasanya himpunan-himpunan di situ (Labtek Biru – red) selalu rame. Gara-gara aturan itu jadi nggak ada orang. Sekarang kemalingan!” jelas Diaz.

 

Advertisements

Written by ray rizaldy

28 August 07 at 10:22 am

Posted in raie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: