kribo

penulis malas

Ni cwona Wd!

with 7 comments

 

“Kakak, lihat tuh orang yang tadi, ketemu lagi”, seru salah satu adikku membangkitkanku dari khayalan. “Oh iya bener dek.” Sore tadi saat kami bermain Alap-Alap, salah satu wahana di dufan yang serupa dengan Jet-Coaster Mini, secara kebetulan kami berada dalam satu antrian dengan orang-orang itu. Hal yang aneh, karena biasanya aku tak pernah peduli mengantri dengan siapa saja.

“Hi, ketemu lagi.” Dan sekarang orang yang adikku bilang itu sudah antri di belakang kami. “Koq bisa ya? Perasaan dari tadi susah amat buat ngantri sampe sini, koq kalian tau-tau udah sampe sini aja?” sambutku bersahabat. Aku memang butuh teman ngobrol di malem minggu ini. Adik-adikku yang masih kecil nggak akan ngerti apa rasanya ngeliat orang berpasangan di malam minggu di saat aku harus menjaga mereka.

Cowok yang tadi menyapa kelihatannya sudah bekerja. Sudah agak tua memang dan kayaknya playboy, it’s not my type, pikirku. Cowok yang satu lagi agak pendiam, tapi sepertinya umurnya nggak jauh beda dariku deh. Mereka ternyata juga dalam misi babysitting sepertiku. Mereka menjaga 3 adik ceweknya yang kira-kira baru kelas 3-5 SD.

Cowok playboy itu terus mengajakku ngobrol sambil kadang menggodaku dan adik-adiku. Yang satu lagi, bertampang super cuek, gak peduli, dan terus saja melihat ke arah wahana Halilintar yang memang dekat dengan antrian kami masuk Arung Jeram.

Lama-lama ngobrol, ternyata di depan kami sudah datang sebuah perahu bundar dengan 8 kursi di sekelilingnya. Aku mengatur semua kurcaci-kurcaci itu, adikku maksudnya, untuk duduk dahulu. “Satu orang lagi!!!” Teriak petugas Arung Jeram. Aku baru sadar masih ada satu kursi kosong di perahu yang kami tumpangi itu. Ternyata cowok super cuek tadi di dorong oleh ketiga adiknya dan cowok playboy itu, sehingga naiklah ia bersama kami. Nampaknya arus saat itu sangat deras, sampai-sampai bajuku basah semua. Cowok itu sepertinya malah lebih basah lagi. Ia walaupun sedikit kaku tetap tertawa bersama kami. Seru sekali wahana itu hari ini…

Kamipun sampai di ujung lintasan Arung Jeram. Si cuek tadi langsung naik, tanpa melihat ke belakang sekalipun. “setidaknya tunggu adik-adiknya keq” seruku dalam hati.


Karena sudah pukul 8 kurang, Arung Jeram menjadi wahana terakhir yang kami coba. “Lagian kan adek udah ganti baju.” Kataku membujuk salah satu adikku yang masih ingin bermain lagi. Males deh kalau sudah begini lagi.

“Hey, saya boleh minta nomornya nggak?” Aku kaget melihat si playboy tadi.

“Nama saya Rahmat, kalau yang itu namanya Rizal.” Ia berkata lagi sambil menunjuk ke arah cowok yang tadi ber”Arung Jeram” bersama kami.

“Oh iya, Aku Widia.” Aku mempekenalkan diri.

Seusai aku mendiktekan nomor selulerku, ia pun pergi sambil menyuruhku untuk menunggu sms darinya. Aku melihat cowok cuek tadi menunggunya di dekat wahana Ontang-Anting. Si Cuek itu cukup keren juga pakai turtle neck malam itu.


Setelah beberapa hari berlalu, aku menerima sms yang mengingatkanku kembali akan wahana Arung Jeram. Ternyata sms tersebut dari Rizal. Dan benar seperti dugaanku sama seperti diriku, Rizal juga baru saja naik kelas 3 SMA.


Hampir tiga tahun sudah akhirnya kami menjadi “sahabat pena”. Kami menjadi saling tahu sama lain,

Aku tahu bahwa ia tinggal di Pondok Gede,

Aku tahu bahwa ia menyelesaikan SMA-nya di suatu pelosok bernama gorontalo sana,

Aku tahu bahwa ia sangat sedih gagal dalam kompetisi sainsnya di Riau,

Aku tahu bahwa ia kini kuliah di ITB.

Sahabat Pena? Saya menyebutnya sebagai sahabat pena karena selama lebih hamper 3 tahun kami berteman kami hanya sekali bertemu dan hanya berkomunikasi lewat sms. Beberapa kali aku Bandung bersama keluarga mencoba menyempatkan diri untuk bertemu dengan dirinya, namun apadaya keluarga sulit untuk kutinggalkan selain juga aku tak mengerti jalan di Bandung. Rizal pun kadang pulang ke rumahnya di Pondok Gede, tetapi kepulangannya pastilah karena ada acara keluarga atau apapun lah itu. Akhirnya yaaa begitu… kami benar-benar hanya berkomunikasi melalui sms.

Hubungan kami menjadi regang, alasannya karena kami yang tak pernah bisa bertemu bahkan hanya untuk sedetik saja. Ia mungkin merasa pernah dikerjai karena satu saat aku ke Bandung dan berjanji untuk bertemu dengannya di BSM. Rizal kost di Taman Sari, cukup jauh untuk sampai ke BSM yang terletak di wilayah Buah Batu. Dan sialnya saat itu, ayahku yang seharusnya berlibur mendapat kerjaan mendadak sehingga sesegera mungkin harus kembali ke kantornya di Bekasi. Rizal sudah mengatakan ia sudah hampir sampai BSM dalam sms balasannya yang sangat singkat, tampaknya kecewa.


Bulan April tiba. Tanggal 10 waktu itu, SMS dari Rizal sampai di handphone. Dia mengucapkan selamat ulang tahun dan biasalah cowok pasti ada ucapan semoga yang banyak, ya semoga tambah cantik lah, tambah pinter lah, tambah manis lah, akhhh basi. Dia nggak tahu apa kalau ulang tahunku sudah lewat dua hari yang lalu? Tanpa mikir lagi aku membalas sms.

“ni siapa?temennya wd ya?ini cwona wd!, hpna wd lagi di aq.” Begitu kira-kira isinya.

Advertisements

Written by ray rizaldy

5 August 07 at 4:18 am

Posted in raie

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Widia kejam! Memang sih Ray alias Rizal itu udah jelek kribo pula tapi jangan lantas semena-mena begitu dong! (Tenang Ray, gua belain lo).

    Hahah.

    ikram

    5 August 07 at 9:27 am

  2. Huhuhu…

    gitu lo kram,,, teganya… tapi masak gw sejelek itu sih? 😡

    rayrizaldy

    5 August 07 at 6:35 pm

  3. Loh siapa yang kejam? Gua ini membela elo Ray. Semoga jalinan cinta kalian abadi ya!

    ikram

    5 August 07 at 7:17 pm

  4. ya belain sih belain,,,
    tapi koq pake ngata2in gw segala,,,

    abadinya gimana kram jstru dari situ g ada lagi

    rayrizaldy

    5 August 07 at 7:42 pm

  5. Ya ampun… bingung sy bacanya. Kirain Ray itu homo. Ternyata maksudnya gitu toh…. Hwehehe… Sing sabar yo jeng, eh mas, eh dek.

    diBond

    9 August 07 at 1:46 pm

  6. hahaha,,,
    untung aja dibaca sampe abis,, klo nggak kan jadi di judge homo beneran…
    walaupun sampe sekarang trus menjomblo ray tetap cowok tulen hwehehe

    rayrizaldy

    12 August 07 at 8:11 pm

  7. Biar kata jelek busuk,kakinya bau, gayanya tengil, bibirnya offside, tapi kan Rizal juga manusia!!! Kejamnya kamu Widia!!!

    Dede

    14 August 07 at 10:56 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: