Quinze Années

Posted 30 April 08 by ray rizaldy
Categories: raie

Tags: ,

Be a winner-be a star
Be happy to be who you are
Gotta be yourself-gotta make a plan
Gotta go for it while you can

-Shania Twain

Ganti Sistem Operasi

Posted 24 April 08 by ray rizaldy
Categories: raie

Tags: ,

Tujuan utama dari sistem operasi adalah resource sharing. Resource atau yang menurut Bahasa Indonesianya adalah sumber daya diolah, lalu kemudian dibagi. Pembagiannya dilakukan sedemikian rupa. Dengan begitu setiap aksi yang ingin dilakukan bisa mendapatkan jatah resource dengan adil.

Dalam pengolahan sumber daya ini, ada kemungkinan terjadi kesalahan. Baik itu kesalahan penjadwalan atau pun kesalahan alokasi sumber daya. Nah tugas sistem operasi lah untuk meminimalisir kesalahan-kesalahan ini. Bisa saya katakan bahwa semakin baik sistem operasi, semakin kecil kemungkinan kesalahan itu terjadi.

Apa yang terjadi jika sistem operasi kemudian tidak dapat mengolah sumber daya dengan baik? Aksi-aksi yang ingin dilakukan menjadi sering tak terlaksana. Dan kalaupun terlaksana, aksi dilakukan jauh terlambat.

Kira-kira inilah yang terjadi pada saya. Sumber daya seperti halnya waktu, pikiran dan juga jasmani yang saya miliki tak terolah dengan adil. Waktu 24 jam setiap hari rasanya kurang. Pikiran juga tak teralokasi dengan baik. Apalagi jasmani, pengaturan antara kuliah, unit kegiatan dan tidur saling overlap. Saat istirahat terpakai untuk kuliah, giliran kuliah malah saya pakai untuk unit kegiatan atau malah tidur. Hehe…

Pada komputer masalah ini bisa diselesaikan dengan 2 cara. Yang pertama, adalah menambah atau mengganti sumber daya, seperti memori, ataupun prosesor. Yang kedua adalah memodifikasi sistem operasi supaya kesalahan dapat diminimalisir.

Cara pertama jelas tak bisa saya tempuh. Karena mengganti prosesor artinya saya harus membelah kepala saya. Menukarkan isinya dengan otak lain yang mungkin lebih bisa mengatur sumber daya. Tapi nanti bisa-bisa saya malah jadi frankenstein. Itu tuh tokoh horor yang jadi superbloon gara-gara jadi percobaan seorang profesor gila.

Yang bisa dilakukan adalah cara kedua. Memodifikasi sistemnya. Bagian yang paling mungkin dimodifikasi adalah penjadwalan. Itu artinya, Saya harus merubah pola hidup. Sistem penjadwalan yang dipakai sekarang kurang bagus. Saya terlalu banyak telat kuliah. Padahal kuliahnya siang. Tugas-tugas pun baru terlaksana beberapa jam sebelum batas pengumpulan. Dan itu menyebabkan tugas terkumpul menjadi tak terlalu bagus, bahkan tidak memenuhi spesifikasi. Untuk tidur, teman-teman saya mengatakan porsi saya cukup bahkan lebih. Tapi entah kenapa tiap di kelas saya selalu merasa ngantuk. Makan pun jadi tak teratur. Karenanya saat kuliah jadi tak konsentrasi, lapar mengganggu.

Oleh karena itu saya membuat sistem penjadwalan baru. Ini dia… Jreeeng

Catatan : MPPL, PPL, Jarkom, Grafika, SBD, Kompem dan Progin adalah nama mata kuliah.

Huff… Padat juga. Mudah-mudahan jadwal ini bisa saya taati. Mudah-mudahan bisa bangun jam 3 pagi. Mudah-mudahan bisa mengerjakan tugas sesuai bagian. Mudah-mudahan bisa teratur makan.

Karena Senyum

Posted 14 April 08 by ray rizaldy
Categories: raie

Tags: ,

“Kalo saya sukanya sama nomber tiga. Liat tuh senyumnya, yang lain mah mukanya tua” komentar seorang ibu di TPS dekat rumah.

Pukul 11, saya datang ke TPS bersama papa. Mengantarkannya menggunakan hak pilihnya. Sekalian saya juga ikut memilih. Ini pilkada kedua yang saya ikuti. Kali pertama adalah ketika saya berada di Gorontalo.

Meski sudah hampir tengah hari TPS masih dikelilingi warga. Sepertinya mereka menunggu sampai penghitungan suara dilakukan. Mereka lalu berdebat dengan papa saya mengenai prediksi calon pemenang. Papa berkeras bahwa pasangan yang didukung banyak partai lah yang akan menang. Dan itu pasangan nomor 2, Agum-Nu’man. Dua pasangan lain cuma didukung 2 partai. Dan lagipula kalau masalah pengalaman tak perlu lagi ditanya, pasangan nomor 2 ini sudah lama malang melintang di jagad politik.

Sedangkan warga se-RT di sekeliling TPS memprediksi Heryawan-Dede yang akan menang. Sama halnya dengan si Ibu, alasan mereka adalah senyum pada foto pasangan nomor 3. Mereka tunduk pada senyum hangat yang diberikan pasangan Ha-De pada fotonya.

Saya sendiri mengakui, pasangan bernomor urut 3 itu memang bermuka lebih ramah. Sedangkan pasangan lain nampaknya sedang sakit gigi saat difoto. Sehingga foto mereka terlihat murung dan garang.

Tapi saya tak terlalu menyukai pasangan ini. Mereka masih takut melepas jabatan mereka. Cuma cuti dan baru mau melepas jika sudah ada keputusan menang. Ih, kutu busuk eh kutu loncat. Dan lagi, saya tidak suka dipimpin artis. Lebih baik oleh pengusaha. Lihat tuh Gorontalo, maju kan dipimpin sama Fadel. Hehehe…

O, iya mengenai prediksi, saya punya hipotesis bahwa nomor 2 punya misteri tersendiri. Beberapa pemilihan terakhir yang saya dapat bahwa nomor 2 punya kesempatan besar untuk menang. Contoh paling terakhir adalah terpilihnya Shana-Bagus pada pemilihan presiden KM ITB.

Hanya saja hipotesis saya meleset. Semakin kesini kok, hasil penghitungannya malah memposisikan Ha-De sebagai pemenang ya?

*kok pasangan yang nomor 1 tidak tersebut ya? Hehehe… ah biarlah.

The Traveller : Sang Penumpang Travel

Posted 19 March 08 by ray rizaldy
Categories: raie

Tags: , ,

“Pondok Indah, Pondok Indah, Berangkat” teriak petugas travel. Tanda bahwa salah satu mobil van mereka akan berangkat. Penumpang yang sejak tadi menunggu keberangkatannya berbondong masuk ke mobil tersebut.

Tiga orang ibu-ibu yang berpakaian gemerlap, lengkap dengan jilbabnya yang juga memantulkan cahaya manik-manik. Sepertinya baru saja dari pesta. Tiga orang ini duduk di bangku paling belakang. Lalu dibangku depan mereka, duduk seorang Ibu secara tidak tenang. Karena sedari tadi dia terus membujuk anaknya untuk berhenti merengek dalam pangkuannya. Selanjutnya bangku tepat di belakang supir diisi seorang gadis, muda, cantik, bersweater merah, mahasiswi tampaknya. Gadis tersebut diantar seorang laki-laki, pacarnya pasti. Kelihatannya mereka baru saja jadian. Terlihat dari gaya mereka melakukan perpisahan. Perpisahannya bagai sang gadis akan pergi jauh sekali dan sangat lama. Padahal cuma Bandung-Jakarta. Paling cuma 2-3 hari.

Terakhir, Saya sendiri duduk di kursi depan. Menemani sopir, sambil menyesali mengapa tidak meminta sebangku dengan gadis tadi. Padahal kosong.

Para petugas travel tersebut masih sibuk mengangkat-ngangkat barang penumpang. Juga sambil menunggu seorang penumpang yang tak juga datang. Tapi kami, para penumpang sudah sibuk di dalam mobil. Dua dari tiga ibu-ibu tadi mulutnya tak kunjung diam, bergosip ria mereka. Sedangkan temannya sudah termakan lelah. Dan akhirnya tertidur bersender ke jendela.

Ibu di depannya tetap saja sibuk dengan balitanya. Terus merengek, meminta dilepas sang ibu. Tidak mau digendong. Sedang ibunya, tampaknya khawatir jika dilepas, anaknya akan mengganggu penumpang lain. Apalagi gadis di depannya. Ibu ini pasti khawatir anaknya melihat sesuatu yang tidak pantas dilihat anaknya.

Apa sebab?

Gadis berbusana merah itu sejak masuk ke mobil terus berasyik masuk dengan pacarnya. Mengobrol melalui jendela. Sambil sesekali menempelkan hidung mereka. Tanggung, mereka lalu menempelkan bibir mereka. Masih melalui jendela. Mengobrol lagi, lalu berciuman lagi.

“say, lagi dooong!” pinta sang pacar dari luar mobil. Dan entah untuk ke berapa kalinya mereka menempelkan hidung mereka lagi. Menikmati empuknya tulang rawan di ujung hidung saban 5 detik. Lalu tanpa peduli bahwa salah penumpang lain terus menutupi mata balitanya, mereka saling menghembuskan kemesraan melalui bibirnya.

Jelas saya risih. Tapi juga merasa tak ingin kehilangan adegan panas ini. Melalui spion di sisi sopir, saya terus memperhatikan mereka. Binal, dan tak tahu diri. Membuat saya semakin bimbang untuk pacaran. Takut nantinya saya akan menjadi seperti pasangan muda ini. Tak tahu diri. Tidak tahu tempat. Tidak tahu waktu.

Saya ingat mitos dari Gorontalo. Kendaraan jenis apapun, pesawat terbang, mobil, motor, sepeda, becak, bahkan bendi yang merupakan kendaraan khas Gorontalo, jika penumpangnya melakukan perbuatan tidak senonoh, kendaraan tersebut akan tertimpa kesialan.

Benar saja, mobil baru berjalan sekitar 3 Km dari lokasi travel. Mobil yang kami tumpangi tersebut mogok. Ngotot tak mau jalan lagi. Untung saja baru 3 Km, si sopir masih bisa meminta bantuan armada lain dari markasnya. Bayangkan jika ini terjadi di tengah tol Cipularang.

LPG, Why not?

Posted 14 March 08 by ray rizaldy
Categories: raie

Tags: , ,

Pagi itu, saya berlari tergesa menelusuri Jalan Asia Afrika. Ceritanya mau ikut seminar. Acaranya dijadwalkan pukul 8.00 pagi di Savoy Homann. Karena tidur larut, saya baru bangun pukul 7 lewat. Akhirnya 15 menit menjelang pukul 8 saya baru berangkat dari kos. Hati saya dag dig dug. Takut telat, karena sepertinya acaranya besar. Karena sampai mengundang menteri ESDM segala. Nanti kalau telat dan saya sampai tidak boleh masuk kan berabe dan malu-maluin.

Akhirnya sampai. Saya menenangkan nafas yang masih terengah sebelum masuk Savoy. Sudah pukul 8.15. Tebak apa yang saya lihat! Di dalam ruangan baru ada panitia (karena mereka pakai seragam, jadi saya tahu itu panitia) dan 7-10 orang yang kemungkinan adalah peserta. Ngaret. Mencoba berbaik sangka, mungkin yang lain tidurnya lebih larut dari saya. Sehingga datang jadi lebih telat dari saya. Tapi saya juga belum melihat Purnomo Yusgiantoro, sang menteri ESDM. Berdasarkan jadwal mestinya beliau menjadi keynote speaker, sejak pukul 8.15. Menteri juga ngaret ya?

Acara baru dimulai pukul 9.15. Mundur 1 jam. Menunggu pesertanya ramai dulu mungkin. Dan sayangnya, pak menterinya tidak jadi datang. Beliau diwakilkan oleh Direktur Jendral migas, Luluk Sumiarso. Oh iya saya lupa memberi tahu tema seminar ini. Temanya, kontroversi konversi minyak tanah ke LPG. Makanya sampai mengundang menteri ESDM (yang diwakili DirJen migas).

Dalam ceramahnya, Luluk menyatakan tujuan utama dari program ini sebenarnya adalah untuk meringankan APBN akan subsidi BBM. Harga minyak tanah di pasar dunia sudah mencapai 6.105 Rupiah per liter. Selama ini pemerintah memberi subsidi sehingga masyarakat dapat menikmatinya dengan harga 2.000 Rupiah saja per 1 liter. Cukup berat, karena itu artinya pemerintah harus mengeluarkan subsidi kira-kira 4.000 Rupiah per liter.

Dibanding minyak tanah, subsidi LPG akan lebih hemat. Pemerintah hanya perlu merogoh kocek sebesar 1.750 Rupiah per 1 Kilogram LPG. Sehingga LPG sampai ditangan masyarakat dengan harga 12.000 Rupiah per tabung (Rp 4.000/Kg). sebagai catatan, 1 Kilogram LPG setara dengan 1,7 liter minyak tanah. Lalu menurut Luluk, subsidi BBM ini jadi bisa dialihkan ke arah yang lebih vital. Pendidikan dan kesehatan misalnya.

Memang ada sedikit kenaikan di sisi masyarakat. Apalagi jika harus membeli baru. Tapi untuk itu pun pemerintah sudah membantu dengan menyediakan kompor, asesorisnya, dan tabung LPG dalam keadaan terisi. Semua itu diberikan secara percuma.

***

“Pasca pembagian kompor LPG, banyak tuh pak yang dateng dari perusahaan-perusahaan. Mereka menawarkan regulator dan selang. Terjadi keresahan masyarakat. Katanya regulator dan selang yang gratis dari pemerintah itu tidak layak pakai. Bisa meledak” Ujar Wismunawan, salah satu ketua RW di kawasan Kiara Condong. Dia beserta beberapa ketua-ketua RW lainnya sebandung juga diundang dalam acara ini.

Rupanya ini yang menjadi ketakutan masyarakat selama ini. Tak heran tetap banyak orang yang lebih rela antri minyak tanah seharian. Meski mungkin saja mereka sudah mendapat kompor dan LPG gratis di dapurnya. Daripada rumahnya meledak. Set kompor dan LPG itu akhirnya cuma jadi pajangan di rumah.

Mengenai hal ini, Heri Purnomo, Direktur Pembinaan Program migas, yang juga diundang ke acara ini, mengklaim bahwa itu cuma ancaman. Pemerintah menjamin bahwa semua asesoris kompor yang dibagikan layak pakai. “Kalau yang kayak gitu sih. Jangankan masyarakat, rumah saya juga didatengin sales itu.” jelas Heri. Bahkan menurutnya, jika sampai terjadi kecelakaan dalam penggunaan kompor, pemerintah menyediakan asuransinya. Hanya saja, selama ini masih belum tertulis. Lho…

Tapi namanya proyek pembagian gratis. Tidak tertutup kemungkinan pemerintah bisa saja ingin praktis. Yang penting gas, kompor dan asesorisnya bisa dibagi gratis, kualitas dan keamanannya urus belakangan. Kongkritnya, apakah pemerintah benar-benar memantau langsung pembuatan perangkat tersebut? Seandainya benar-benar dipantau, harusnya pemerintah bisa mengantisipasi klaim-klaim negatif. Dan dengan berani mengatakan bahwa semua perangkat yang dibagi itu aman. Faktanya, asuransinya malah belum berani dituliskan eksplisit.

Pertanyaan ini ingin sekali saya ajukan di sesi tanya-jawab. Tapi, saya terlalu lama mengumpulkan keberanian. Susah rasanya bicara di depan khalayak ramai. Takut gugup. Takut orang-orang melihat bahwa saya memegang mikrofon dengan gemetar. Dan belum lengkap keberanian saya muncul, waktu seminar sudah habis. Selesai. Makanya saya tulis di blog saja. Siapa tahu ada wakil pemerintah nyasar ke blog ini dan bisa jawab. Amiiin. Hehehe…

Tapi di luar itu semua, saya setuju dengan program ini. Pembakaran minyak tanah yang tidak sempurna, menyebabkan lebih banyak karbon berbahaya yang terlepas ke udara. Gas rumah kaca semakin bertambah. Artinya pemanasan global semakin cepat. Jadi, mari kita bantu pemerintah dalam mengurangi polusi gas rumah kaca. Lho??