Kisah Sandal Bolong
Sabtu siang itu, di Bandung, secara kebetulan saya seangkot dengan sekelompok orang. Lima orang pria berperawakan kekar dan sisanya dua orang wanita, naik dari Simpang Dago. Sejak awal di angkot, mereka langsung bertukar celoteh. Yang satu, pria paling pendek dari mereka, memoderasi diskusi angkot itu.
“Kita harus berjuang kang. Kalau nggak nasib buruh kayak kita, ya begini-begini aja,” Tegas si pria pendek memotivasi kawan-kawannya.
Mereka tampak seperti baru selesai konferensi buruh. Entah buruh sepabrik, atau mungkin bahkan se-Bandung, saya tidak tahu. Mungkin mereka salah satu aktivis buruh. Selama di angkot, mereka banyak mengeluhkan aturan-aturan perusahaan serta pemerintah yang diterapkan kepada para buruh. Mulai dari urusan perut, keselamatan kerja, sampai hak istri dan anak dibahas dalam perjalanan hampir setengah jam itu.
Saya jadi ingat pernah meresensi sebuah film tentang aktivis buruh waktu SMA dulu. Film yang diangkat dari kisah nyata itu menceritakan seorang aktivis buruh bernama Hamdani. Hamdani dalam film itu diceritakan sebagai seorang buruh yang sangat akrab dengan kawan sejawatnya. Beberapa teman buruhnya seringkali mencurahkan keluhan-keluhan pekerjaan pada Hamdani. Sampai suatu hari,Hamdani merasa perusahaan tempatnya bekerja sudah sangat keterlaluan kepada buruh. Hamdani lalu berinisiatif untuk melakukan unjuk rasa, menuntut hak para buruh. Setelah negosiasi panjang, pihak perusahaan akhirnya menyetujui beberapa tuntutan mereka.
Para buruh puas, namun tidak dengan pihak perusahaan. Melalui mandor, pihak perusahaan menemukan Hamdani lah dalang unjuk rasa yang dianggap merugikan mereka. Karenanya, Hamdani dijebak. Hamdani diseret ke polisi. Hamdani dituduh mencuri dan menggunakan sandal bolong perusahaan untuk kepentingan pribadi. Tuduhan yang konyol, tapi membuat film ini berakhir tragis. Hamdani, melalui proses hukum yang ganjil kalah dalam persidangan dan mendekam di penjara. Tergambar dalam film ini bagaimana bobroknya mental penegak hukum di negeri ini.
***
Sorenya, setiba di kos, saya membuka e-mail. Saya sedikit tersenyum membaca e-mail dari salah satu milis yang saya ikuti. Isinya tentang dukungan kepada Prita Mulyasari, ibu dua anak yang dipenjara karena e-mailnya. Kabarnya sih, ketidakprofesionalan para penegak hukum yang memaksanya mendekam di balik jeruji.
Saya tersenyum karena beruntung Prita melek internet. Melek media. Sedikit bersyukur juga, karena jurnalis bisa menyampaikan beritanya tanpa tekanan lagi, kecuali, mungkin tekanan pemilik media. Prita bisa memiliki banyak pendukung sekarang. Bahkan para calon presiden sekalipun ikut menjadi pendukungnya. Pendukung yang bisa menyemangatinya bahwa dia akan bebas dan mendapatkan haknya kembali.
Saya membayangkan Hamdani, juga yang senasib dengannya. Yang tidak kenal internet dan mungkin hidup di masa pemberitaan surat kabar selalu dikekang.
gue pikir posting ini akan ada hubungannya sama sundel bolong
batari
15 June 09 at 7:58 am
kisah prita lagi booming..hohoo..
iya ni ray…mental orang-orang kita masih kayak gitu..
spakat gw ama tulisan lo.
dwihutapea
15 June 09 at 11:39 am
Kirain mw cerita tentang sendal merah di kosan.
irfan
17 June 09 at 11:35 pm
@batari, irfan: sayangnya bukan. hehehe
@dwihutapea: masih ya? daku ga tau deh klo sekarang.
Ray Rizaldy
18 June 09 at 8:41 am
lebii rame nongol Manohara Mulyasari kalee…dari pada Prita Odelia Pinot!ahahahah
dhiniebungsu
26 June 09 at 8:27 pm
males ah manohara kebanyakan tampil di tipi.
ray rizaldy
27 June 09 at 2:01 am
yang penting happy ending kan……..
MOTROCOM
27 June 09 at 11:34 pm
yup, justru itu beruntung kasus begini sekarang bisa diekspos. klo ga, mungkin akan … ah tak taulah daku.
ray rizaldy
28 June 09 at 12:04 am
giovani haryadi likes this
gio
5 August 09 at 7:56 am